Kritis Bicara Penolakan Tambang, Hendra Apollo Tak Takut Bakal Dikriminalisasi

Wakil Ketua DPRD Provinsi Bangka Belitung, Hendra Apollo menegaskan bahwa dirinya tak khawatir bakal dikriminalisasi bila kritis

Kritis Bicara Penolakan Tambang, Hendra Apollo Tak Takut Bakal Dikriminalisasi
Bangkapos.com/Hendra
Pertemuan masyarakat Desa Beriga, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, menolak tambang dengan DPRD Babel, Rabu (20/11/2019). 

Kritis Bicara Penolakan Tambang, Hendra Apollo Tak Takut Bakal Dikriminalisasi

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Wakil Ketua DPRD Provinsi Bangka Belitung, Hendra Apollo menegaskan bahwa dirinya tak khawatir bakal dikriminalisasi bila kritis dalam berbicara menolak pertambangan.

Baik tambang milik perusahaan besar maupun swasta. Apalagi aktivitas tambang yang mendapat penolakan masyarakat dan telah merusak lingkungan.

“Kalau ada cukong atau mafia tambang, itu namanya maling. Kalau penambang ini berani mengintimidasi itu jelas dibekingi oleh oknum aparat, baik itu oknum polisi maupun TNI,” kata Hendra Apollo, Rabu (20/11/2019).

Hal ini disampaikannya saat menerima perwakilan masyarakat Desa Beriga, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah terkait penolakan aktifitas tambang di perairan Desa Beriga.

Masyarakat menolak adanya tambang. Masyarakat tetap memilih untuk menjadi nelayan. Meskipun dibayar dengan fee ataupun kompensasi uang agar diizinkan menambang, masyarakat Desa Beriga tetap menolak lautnya ditambang.

Hendra menjelaskan sistem pelaku tambang ini merayu masyarakat masih menggunakan sistem lama. Menggunakan sistem adu domba, memberikan kompensasi uang ataupun sembako.

Dia juga meminta agar masyarakat tidak takut bersuara karena ancaman bakal diintimidasi ataupun dikriminalisasi.

“Saya sudah pernah dikriminalisasi, jadi saya minta jangan takut dikriminalisasi. Kita di sini dilindung oleh undang-undang, menyampaikan pendapat dan aspirasi. Mungkin bisa saja saya dalam waktu dekat ini dikriminalisasi lagi. Kalau dikriminalisasi, artinya ada oknum disana yang bermain,” kata Hendra Apollo.

Dia juga meminta agar masyarakat tetap berkomitmen dan kompak. Bila memang menolak tambang, maka komitmen itu harus tetap dijaga.

Masyarakat jangan mudah dibujuk ataupun dirayu dengan kompensasi uang, ataupun sembako agar diam dan diizinkan menambang.

“Biasanya seperti itu, alasannya kebutuhan perut. Coba kalau laut Beriga rusak parah, dampaknya sangat besar dan jangka panjang. Apa artinya kekayaan sementara kalau laut kita hancur,” tandasnya.

Sementara itu Tokoh Agama Desa Beriga, Marzuki pun mengatakan kerusakan laut akibat tambang sangat besar. Yakni dampak ekonomi, sosial dan lingkungan.

“Secara ekonomi nanti kalau laut rusak nelayan susah mencari ikan. Kemudian kalau ada tambang nantinya ratusan atau mungkin ribuan masyarakat luar datang ke Beriga. Bakal terjadi gejolak sosial, peredaran miras, kejahatan bahkan prostitusi. Kalau lingkungan rusak tentunya habitat ikan tempat mencari nafkah nelayan pun jadi sulit,” jelas Marzuki.

(Bangkapos.com / Hendra)

Penulis: Hendra
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved