Perekonomian Masih Bergantung Pada Timah, Bangka Belitung Perlu Hilirisasi Timah

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung (Babel) Dr Reniati mengatakan ketergantungan perekonomian Babel masih cukup tinggi dari timah

Perekonomian Masih Bergantung Pada Timah, Bangka Belitung Perlu Hilirisasi Timah
Foto Istimewa
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung Dr Reniati 

Perekonomian Masih Bergantung Pada Timah, Bangka Belitung Perlu Hilirisasi Timah

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung (Babel) Dr Reniati mengatakan ketergantungan perekonomian Babel masih cukup tinggi dari timah sehingga memang perlu hilirisasi timah.

"Jika dilihat dari kontribusi sektor pertambangan memang terus mengalami penurunan sejak tahun 2011, akan tetapi kalau dari sektor industri pengolahan kontribusinya sangat besar dimana industri pengolahan kita masih didominasi oleh pengolahan timah," ungkap Reniati saat dikonfirmasi bangkapos.com, Rabu(20/11/2019).

Menurutnya sektor lain yang berkontribusi signifikan terhadap perekonomian Babel saat ini adalah sektor pertanian, perkebunan perikanan kemudian disusul sektor perdagangan besar dan eceran,

Ia juga menyingung mengenai hilirisasi timah satu strategi yang ditempuh dalam rangka meningkatkan value added komoditas timah yang merupakan unggulan Babel.

Hilirisasi timah yang merupakan bagian dari industrialisasi timah dipercaya mampu meningkatkan daya saing daerah, memperluas lapangan kerja serta pertumbuhan ekonomi Babel.

"Di usia ke 19 tahun Babel ini sudah seharusnya industri timah tidak hanya memproduksi timah balok tetapi industri solder, alat-alat elektronik berbahan baku timah bisa dikembangkan di Babel, malah seharusnya sudah lama berdiri di Babel. Tetapi memang terkait dengan SDM yang bisa mengelola industri ini belum tersedia karena (high technology). Selain itu investor yang mau menanamkan modalnya di industri ini masih mempertimbangkan banyak hal seperti iklim bisnis, lahan, biaya dan kompetensi tenaga kerja, juga kondisi pelabuhan," ujar Reniati.

Ia juga menegaskan perlu diperhatikan lagi mineral ikutan timah yang nilainya lebih tinggi dari timah itu sendiri. Tapi belum tersentuh baik dari sisi bisnis, regulasi dan komparative advantagenya.

Bangkapos.com/Cici Nasya Nita

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved