13 Tahun Jadi Guru Honorer, Suryani Tetap Semangat Mengajar Meski Dalam Keterbatasan

Suryani (52) merupakan seorang guru honorer di Sekolah Dasar Negeri 4 Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah

13 Tahun Jadi Guru Honorer, Suryani Tetap Semangat Mengajar Meski Dalam Keterbatasan
Ist/dok pribadi
Suryani bersama muridnya 

13 Tahun Jadi Guru Honorer, Suryani Tetap Semangat Mengajar Meski Dalam Keterbatasan

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Suryani (52) merupakan seorang guru honorer di Sekolah Dasar Negeri 4 Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) yang bisa dikatakan cukup senior.

Ia mengatakan jika sudah mulai mengajar menjadi gurj honorer sejak tahun 2006, yang berarti tak kurang dari 13 tahun ia mengabdikan dirinya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Suryani menceritakan suka dukanya menjadi guru honorer, mulai dari gaji yang sangat minim di awal ia mengajar, yang mana pada saat itu jasanya bagi kecerdasan anak bangsa hanya dihargai Rp 400 ribu per bulannya melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), itu pun dirapel tiga bulan sekali.

"Dulu tiga bulan sekali digaji, kalau dana BOS cair kami baru digaji," ujar Suryani, Sabtu (23/11) kepada Bangkapos.com.

Namun Suryani tetap bersyukur dikarenakan gaji honorer terus naik, dan dari Januari 2019 ini guru honorer Bateng memdapatkan bantuan APBD, sehingga sampai saat ini gaji yang ia terima perbulannya Rp 1.500.000,-. Masih sangat minim jika dilihat dari mahalnya biaya hidup di Provinsi Bangka Belitung.

Ditengah kekurangannya Suryani tetap bersemangat mengajar para muridnya, cita-cita mulianya untuk mencerdaskan anak bangsa terus ia pegang teguh sejak dari dulu, dan hal ini pula lah yang membuatnya dulu memilih untuk menempuh pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

Pahlawan tanpa tanda jasa ini juga masih memiliki tanggungan satu orang anak yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Bangka Belitung (UBB), yang harus ia penuhi semua urusan pendidikan anaknya tersebut, dikarenakan saat ini selain menjadi seorang guru dan ibu rumah tangga, ia juga berperan menjadi tulang punggung keluarga dikarenakan suami tercinta sudah terlebih dahulu dipanggil oleh yang kuasa enam tahun silam.

"Sebenarnya kalau kurang ya pasti kurang, tapi syukuri saja apa yang ada, yang penting kita ikhlas, kalau kita ikhlas insyaallah rejeki dari tuhan itu pasti ada,"

Dan saat ini untuk menambah penghasilan, ia membuka usaha dengan cara membuka warung di sekolah.

Ia berharap agar sistem pengangkatan guru honorer menjadi PNS yang dilihat melalui masa pengabdian bisa kembali diadakan, atau jika memang sistem tersebut sudah tidak lagi bisa diterapkan ia berharap agar pengurusan PPPK tidak dipersulit.

"Lihat lah kami yang sudah tua ini, kalau bisa dipermudah, karena ada teman yang masa walaupun pengabdiannya sudah sekian tahun, tapi syaratnya kurang sedikit mereka tidak masuk,"

Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad ini Suryani sudah dipastikan tidak bisa mengikuti seleksi CPNS 2019, dan ia juga mengatakan masih mencari info terkait seleksi tenaga PPPK. (Bangkapos/Muhammad Rizki/R1)

Penulis: Muhammad Rizki
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved