Breaking News:

Advertorial

Jadikan PDM Layaknya Masyarakat Biasa

DISABILITAS mental merupakan salah satu ragam di­sabilitas seperti disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas

ist/Dinas Sosial Provinsi Babel
DISABILITAS mental merupakan salah satu ragam di­sabilitas seperti disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Disabilitas mental merupakan salah satu ragam di­sabilitas seperti disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Po­pulasi penyandang disabilitas mental sangat mungkin mengalami peningkatan ke depan dan lebih sulit untuk ditekan dibanding dengan disabilitas lainnya yang seiring dengan perkembangan dunia kedokteran, meningkatnya pendidikan dan pemahaman kesehatan mulai dari ibu hamil sampai dengan lansia, serta meningkatnya kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Karena penyebab disabilitas mental adalah faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor sosial spiritual, jadi seiring dengan perkembangan zaman yang mengubah pola relasi dalam keluarga dan masyarakat serta tuntutan fungsi-fungsi sosial yang memicu stres membuat seseorang rentan terhadap ancaman disabilitas mental.

Untuk itu, Dinas Sosial Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menghadirkan Unit Informasi dan Layanan So­sial (UILS) yang memberikan layanan daycare bagi warga yang mengalami gangguan mental atau penyandang di­sabilitas mental (PDM). Unit Informasi dan Layanan Sosial mulai benar-benar aktif sejak 2018. Tahun ini, mereka telah memiliki rumah sebagai tempat rehabilitasi, yakni di Jalan RE Martadinata, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang, atau di samping MIN I Pangkalpinang.

Dharmayanti, Tenaga Ke­sejahteraan Sosial Kemasyarakatan (TKSK), me­ngatakan, saat ini ada sekitar 35 PDM yang dibina. Tiga puluh lima PDM tersebut seluruhnya berasal dari Pangkalpinang.
Dharmayanti sebagai menyebut, kegiatan daycare dilaksanakan pada Senin sampai Jumat. Kegiatannya diisi dengan terapi sosial dan psikologis, aneka keterampilan, pembinaan kerohanian, olahraga, pertanian, cek ke­sehatan baik oleh dokter umum ataupun secara berkala oleh dokter spesialis jiwa, rekreasi, dan sebagainya.

Menurut Dharmayanti, UILS kini makin baik. Pada masa awal, mereka hanya memiliki beberapa kader dan belum memiliki tempat yang menetap bagi pelaksanaan aktivitas daycare. Namun, sekarang mereka sudah memiliki hampir 30 kader, tempat yang menetap, dan jadwal yang teratur. Berbagai kegiatan pun difasilitasi oleh pemerintah.

Sekadar diketahui, UILS bertujuan melaksanakan rehabilitasi bagi penyandang disabilitas sehingga mereka dapat kembali menjalankan fungsi-fungsi sosial mereka dan diterima oleh keluarga dan masyarakat. “Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang tidak bisa kami sebut satu per satu, pemerintah terutama baik Provinsi maupun Kota, dan lainnyalah,” kata Danu Miharja, TKSK Kecamatan Ge­runggang.

Masyarakat yang menga­lami gangguan mental atau yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan mental bisa mengikuti aktivitas pelayanan di UILS. Syaratnya, yang bersangkutan sudah menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa dan teratur mengonsumsi obat sehingga dalam keadaan terkontrol dan tidak membahayakan.

Saat ini, tantangan yang dihadapi dalam upaya rehabilitasi penyandang disabilitas mental adalah masih kurangnya pemahaman dalam pelaksanaan tugas dari masing-masing instansi yang terlibat dalam proses ini, stigma, dan pemahaman masyarakat yang masih buruk terhadap PDM.

Bahkan, keluarga yang memiliki PDM sering kali tidak mau bertanggung jawab terhadap pengobatan mereka sehingga kondisi yang dialami PDM makin parah. Padahal, dengan memberikan pengobatan dan pelaksanaan rehabilitasi yang tepat, PDM dapat melaksanakan fungsi-fungsi sosial dengan baik seperti masyarakat pada umumnya.

Ke depan, diharapkan perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap PDM makin baik karena mereka juga anggota masyarakat yang memiliki hak yang sama dengan masyarakat lainnya. Pelayanan serupa diharapkan juga makin mudah dijangkau dengan dikembangkan di Kabupaten/Kota lain, bahkan sampai ke tingkat Desa/Kelurahan.

Sementara, orang tua salah satu penyandang di­sabilitas mental, Yahani, mengatakan, sejak bergabung di UILS, anaknya kini telah berangsur-angsur kenal dengan dirinya, rajin ibadah, dan mau membantu pekerjaan rumah. Awalnya, sebelum masuk ke UILS, anaknya pemurung, hanya mau di kamar dan tidak ­ingat dirinya sendiri, apalagi dengan lingkungannya dan teman-temannya.

"Kami sangat bersyukur, anak kami Purnawati se­karang sudah mau bantu mengerjakan pekerjaan rumah, menyapu, shalat juga. Awalnya sangat berat menerima anak dengan gangguan mental, tetapi adanya UILS ini sangat membantu dan luar biasa,” kata Yahani. (advertorial/n7/shi)

Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved