Kriminalitas

Dana Beasiswa Dikorupsi, Mahasiswa Bangka Andri: Saya Jual Motor Buat Biaya Hidup

Dana Rp 40 juta merupakan dana Biaya hidup yang diberikan Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka, kepada masing-masing mahasiswa

Dana Beasiswa Dikorupsi, Mahasiswa Bangka Andri: Saya Jual Motor Buat Biaya Hidup
Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy
Ketiga saksi memberikan kesaksian di depan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kota Pangkalpinang, Selasa (03/12/2019). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Terdakwa Rosmawati dan Riky Ramdhani jalani sidang perkara tindak pidana korupsi di Pengadilan Negeri (PN) Kota Pangkalpinang, Selasa (03/12/2019).

Sidang kali ini merupakan sidang mendengarkan keterangan tiga saksi yang merupakan mahasiswa, yang mendapatkan beasiswa D1 Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta.

Ketiga saksi yaitu Bobby Rizky, Alvisyah, dan Andri Saputra yang merupakan tiga dari 11 mahasiswa yang mendapatkan beasiswa.

Saksi pertama yaitu Bobby Rizky mengatakan mendapatkan dana sekitar Rp 20 juta dari Rp 40 juta yang seharusnya didapatkan.

"Dijanjikan dapat biaya hidup Rp 40 juta. Hak kami Rp 40 juta, tapi hak yang kami dapat sekitar Rp 20 juta. Kami bertanya waktu habis lulus. Saya nanya ke pak Riki, nanya kapan uang masuk. Lalu dijawab pokoknya dibayarkan secepatnya, sebelum berangkat dijanjikan dibayar tapi tidak ada rincinya," ujar Bobby.

Dana Rp 40 juta merupakan dana Biaya hidup yang diberikan Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka, kepada masing-masing mahasiswa selama menempuh pendidikan di Yogyakarta.

Saksi lain yaitu Alvisyah juga mengatakan, awal mula tersendat pembayaran untuk biaya hidup 11 mahasiswa yaitu pada Januari 2017.

"Awalnya itu normal 2016 masih normal, masuk 2017 itu sampe Agustus itu ada bulan Mei, Juni, Juli itu kosong. Bilang dibayarkan bulan depan, bulan depan, bulan depan, tapi sampai sekarang tidak ada," kata Alvisyah.

Bahkan saksi Andri Saputra harus rela menjual motor miliknya, guna membantu membiayai kebutuhan selama kuliah.

"Uang laptop belum dikirim, lalu kami disuruh menggunakan uang matrikulasi. Saya sampe jual motor Vixion buat biaya hidup disana," ungkap Andri.

Kasus bermula saat Rosmawati yang saat itu ditugaskan sebagai sekretaris panitia pelaksana kegiatan pendidikan lanjutan bagi pendidik. Sedangkan terdakwa Riky Ramdhani merupakan pejabat pelaksana teknis.

Dalam hal ini keduanya memiliki tugas pokok menyelesaikan berkas-berkas untuk pencairan dan mengurus administrasi pencairan biaya beasiswa pendidikan dan biaya hidup mahasiswa D1 Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta.

Namun akibat perbuatan terdakwa Rosmawati dan Riky Ramdhani, mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp. 639.430. 000.

Sementara itu usai mendengarkan keterangan para saksi, majelis hakim yang dipimpin Rendra Yozar Dharma Putra menutup persidangan dan melanjutkannya Kamis (05/12/2019) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

(Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)

Penulis: Rizki Irianda Pahlevy
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved