Kisah Ibu Rumah Tangga Muda Layani Nafsu Laki-laki Genit, Rela Tak Dibayar dengan Syarat Ini

Rembulan mengaku rela tak dibayar untuk berhubungan badan, asal dia merasa nyaman dengan pasangannya.

Kisah Ibu Rumah Tangga Muda Layani Nafsu Laki-laki Genit, Rela Tak Dibayar dengan Syarat Ini
KOMPAS.COM
Ilustrasi, tidak ada hubungan dengan isi berita. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Rembulan (30) bukan nama sebenarnya, sama seperti wanita muda lainnya.

Dia seorang ibu rumah tangga yang memilih jadi wanita panggilan di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Selama tujuh tahun ini, wanita cantik berkulit putih menekuni dunia hitam tersebut.

Setelah bercerai beberapa tahun lalu, wanita cantik ini memilih menjadi pelayan nafsu laki-laki hidung belang.

Tarifnya pun cukup tinggi, Rp 1,2 juta sekali kencan.

"Sejak saya janda kurang lebih sembilan tahun, menjadi pekerja seks (PS). Saya menikah umur 17 tahun, lalu cerai umur 23 tahun," kata Rembulan, Minggu (1/12/2019) malam.

Rembulan mengaku rela tak dibayar untuk berhubungan badan, asal dia merasa nyaman dengan pasangannya.

Penampilan Rembulan layaknya wanita muda lainnya, sopan dan anggun.

Tak sama sekali menunjukkan dia sebagai wanita panggilan.

Sejak menjadi pemandu lagu beberapa tahun lalu, Rembulan sudah melakoni pekerjaan tersebut.

Meski dia tahu, pekerjaannya rentang terjangkit virus HIV/AIDS dan bisa saja terjadi padanya.

"Berhubungan seks berisiko itu terbagi menjadi dua, langsung dan tidak langsung. Langsung itu seperti main di lokalisasi, kalau tidak langsung itu seperti cabe-cabean yang menjajakan dirinya dengan cara gratis. Saya boleh dikatakan langsung," ujarnya.

Sejauh ini, yang terkena penyakit atau virus HIV di kalangan teman-temannya belum ada.

Dia menyebut pelayan seks dari luar Babel, kemungkinan besar membawa virus HIV.

"Kemarin pernah yang datang ke Bangka, dalam keadaan hamil dan positif HIV. Tapi sudah ditangani lembaga khusus penderita AIDS," ungkapnya.

Meski menikmati pekerjaan itu, Rembulan mengaku takut terinfeksi HIV.

Hanya saja, lantaran hasratnya yang menggebu-gebu, Rembulan lupa risiko tersebut.

Justru dia yang aktif mencari pasangan untuk berkencan.

"Jika sudah nafsu, apa mau dikata, lanjut saja. Saya menerima tamu tergantung mood, kalau cocok, apalagi orangnya cakep, lanjut," katanya.

Hubungan sejenis

Lain lagi kisah dua orang pria ini.

Mereka juga menekuni dunia tersebut, namun pelanggannya juga laki-laki.

"Saya pernah melakukan hubungan seks, bahkan dengan cara tak wajar. Selain itu, juga hubungan berisiko (kena HIV) saya lakukan tanpa pelindung," ungkap Edo (28), bukan nama sebenarnya di sebuah kafe Kota Pangkalpinang, Minggu (1/12/2019) malam.

Edo mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai penyuka sesama jenis hingga melayani jasa untuk pelanggan.

Momentum Hari AIDS Dunia, pada 1 Desember menjadi perhatian Edo dan kawan-kawannya.

"Dulu masyarakat berasumsi tentang HIV menyerang orang yang bekerja di dunia malam, tempat hiburan, prostitusi dan kaum berisiko tinggi saja," ungkapnya sambil merapikan rambutnya.

Namun, kata Edo, penyakit itu justru bisa menyerang ibu rumah tangga.

Penyebabnya, seorang suami yang melakukan hubungan seksual dengan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), lalu menjangkiti penyakitnya kepada istri.

Meski tahu perbuatannya berisiko HIV, Edo tetap melakukannya karena kebutuhan hidup.

"Setelah berhubungan dengan pekerja seks baik pria atau wanita, mereka berhubungan sama istri. Nah inilah risiko terjangkit virus HIV, itulah kenapa virus kena ibu rumah tangga," jelasnya.

Edo kini juga disibukkan sebagai aktivis peduli HIV.

Dia bersama teman-temannya di komunitas memberikan informasi terkait penyebaran penyakit berbahaya tersebut.

Dia tak memungkiri, sebagai pekerja seks sangat rentan terkena penyakit tersebut, apalagi dilakukan secara tidak wajar.

Sementara, Eko (35) nama samaran yang tergabung dalam aktivis peduli HIV/AIDS mengatakan, banyak teman-temannya terjangkit HIV.

Menurutnya, virus HIV tinggi karena melakukan hubungan intim dengan banyak orang.

"Penyebabnya adalah karena mereka sudah nyaman dengan hubungan berisiko dan juga berganti pasangan yang tak wajar. Karena trennya seperti nasi bungkus, kalau sudah makan dibuang dan ganti yang baru," ujar Eko yang menjadi gay sejak 2010 silam.

Tak jarang Eko membelikan obat di apotek untuk perawatan teman-temannya yang mengidap HIV.

Namun, tidak sedikit pula yang akhirnya meninggal karena tak sanggup melawan ganas AIDS.

Momentum Hari AIDS Dunia, menurut Eko baik untuk diperingati, sebagai pengingat bahayanya HIV/AIDS.

Eko dan Edo biasa melakukan hubungan seks sesama jenis. Mereka juga tahu, jika berisiko terinfeksi HIV.

Pihak RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang mencatat, hubungan tersebut menjadi penyebab terbanyak penularan HIV. 

Editor: Alza Munzi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved