NAFSU Dosa (Rembulan) Tak Terbendung Ketika Bertemu Tamu Ganteng dan Gagah hingga CurhatanGay Bangka

Orangnya ganteng, moodnya dapet makan tidak bayar pun tidak apa-apa. Karena semuanya bisa dinegosiasikan dengan baik

NAFSU Dosa (Rembulan) Tak Terbendung Ketika Bertemu Tamu Ganteng dan Gagah hingga CurhatanGay Bangka
blogspot
Ilustrasi (foto ini tak ada kaitannya dengan berita di bawah) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Tak ada wanita yang benar-benar mau menjadi pemuas nafsu dosa lelaki lalu dibayar.

Umumnya, wanita ingin melakukan perbuatan sakral itu dengan orang yang sah dan keintiman itu memberikan kebahagiaan lahir dan batin.

Tapi inilah kehidupan di dunia nyata. 

Banyak sekali kejadian yang membuat kehidupan setiap orang tak sama.

Kali ini ada kisah seorang wanita yang sudah pernah menikah namun gagal alias janda berusia 30 tahun.

Bukan nama sebenarnya, Rembulan sekilas sama seperti wanita pada umumnya.

GAY Bangka (Edo) Ngaku Ladeni Tamu Kebelet Jadi Main Sodok Tapi Tak Puas hingga Kisah ODHA di Beltim

Berpenampilan menarik dan berperilaku layaknya wanita yang sudah pernah bersuami dan punya anak. 

Kepada bangkapos.com, Minggu (1/12/2019) di sebuah kafe di Kota Pangkalpinang, Rembulan menceritakan kisah hidupnya.

Dulu, Rembulan adalah gadis biasa yang tidak mengerti dunia malam.

Semua berawal dari keputusannya membina rumah tangga di usia belia.

Meski sempat bahagia di awal pernikahan, kini Rembulan harus menanggungnya sendiri setel;ah berpisah dari suami. 

Jalan pintas pun menjadi pilihan Rembulan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Maklum saja, ada kebutuhan ekonomi untuk dirinya dan anak yang harus dipenuhi.

Tak ayal, wanita panggilan menjadi pilihan Rembulan untuk bertahan hidup di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

"Sejak saya janda kurang lebih sembilan tahun, menjadi pekerja seks (PS). Saya menikah umur 17 tahun, lalu cerai umur 23 tahun," cerita Rembulan.

CURHAT Janda 20 Tahun Setelah Layani Nafsu Pacar di Semak-semak Berujung Petaka Gegara Sebut Hamil

Hubungan biologis yang dilakukan Rembulan memang beresiko berpotensi penyebaran virus HIV/AIDS.

Bahkan, Rembulan mengaku rela tidak dibayar seusai berhubungan intim jika pemuas nafsu itu memang membuat nyaman. 

"Berhubungan seks berisiko itu terbagi menjadi dua, langsung dan tidak langsung. Langsung itu seperti main di lokalisasi, kalau tidak langsung itu seperti cabe-cabean yang menjajakan dirinya dengan cara gratis. Saya boleh dikatakan langsung," kisah Rembulan.

Menurut Rembulan, sejauh ini dalam pergaulannya belum diketahui ada rekan kerja yang mengidap penyakit atau virus HIV ini. 

Ada kemungkinan lanjut Rembulan penjaja seks dari luar Babel yang membawa virus HIV.

"Kemarin pernah yang datang ke Bangka, dalam keadaan hamil dan positif HIV. Tapi sudah ditangani lembaga khusus penderita AIDS," ungkapnya.

Ketakutan terinfeksi virus HIV, membuat Rembulan tak berhenti (bekerja).

Justru pekerjaan ini dinikmati Rembulan, apalagi tamu yang meminta pelayanannya ganteng secara fisik. 

"Jika sudah nafsu, apa mau dikata, lanjut saja. Saya menerima tamu tergantung mood, kalau cocok, apalagi orangnya cakep, lanjut,"  ujar Rembulan.

Curhatan Gay

Edo (28) bukan nama sebenarnya mengaku sehari-hari bekerja sebagai penjual jasa atau pemuas nafsu sesama jenis.

Alasannya sederhana, karena untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. 

Menjadi gay sudah dijalani Edo sejak tahun 2011.

Edo paham betul, bahwa pekerjaan yang dilakukannya sangat beresiko terhadap kesehatan dan kehidupannya.

Dalam dunia kerjanya, Edo kerap kali mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari tamu. 

Bahkan sampai kekerasan secara fisik seperti memukul, mencekik dan membuat alat kelaminya terasa sakit.

"Saya pernah diperlakukan seperti itu, dalam artian tidak sering. Tergantung dapat tamunya seperti apa. Karena saya ini penjual jasa, jadi kebutuhan tamu itu yang paling penting," kata Edo saat dijumpai bangkapos.com di sebuah kafe di Pangkalpinang, Minggu(1/12/2019).

Hubungan tak normal yang dijalani Edo bukan tak beresiko. 

Komunikasi yang mengalir pun tidak lancar karena semuanya fokus pada kepuasan.

"Pas (main) langsung sodok saja, itu terasa sakit, karena tamu kebelet jadi tanpa menggunakan pelumas (pelicin), jadi terasa sakit sekali," ungkap Edo.

Menyikapi hal tersebut, Edo tak bisa berbuat banyak.

Semuanya dilakukan yang penting kebutuhan ekonomi bisa terpenuhi.

Seks Tak Wajar

Dalam perjalanan kesehariannya, Edo mengaku kerap kali melakukan hubungan seks tak wajar. 

"Saya pernah melakukan hubungan seks, bahkan dengan cara tak wajar. Selain itu, juga hubungan berisiko (kena HIV) saya lakukan tanpa pelindung," ungkap Edo.

Pemahaman soal penyebaran virus HIV kata Edo sudah tak lagi seperti dulu.

Dulu banyak orang beranggapan mereka yang bekerja di dunia malam menjadi kambing hitam sebagai penyebar virus HIV.

"Dulu masyarakat berasumsi tentang HIV menyerang orang yang bekerja di dunia malam, tempat hiburan, prostitusi dan kaum berisiko tinggi saja," ungkapnya.

Penyebaran virus ini lanjut Edo bisa terjadi atau menyerang ibu rumah tangga.

Umumnya, suami nakal yang sering jajan atua melakukan hubungan seks tak sehat dengan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). 

Di rumah nanti main lagi bareng istri.

Hal ini sangat berpotensi menjangkiti istri penyakit AIDS.

"Setelah berhubungan dengan pekerja seks baik pria atau wanita, mereka berhubungan sama istri. Nah inilah risiko terjangkit virus HIV, itulah kenapa virus kena ibu rumah tangga," jelas Edo.

ODHA Rutin Berobat

Staf Pengelola Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Belitung Timur Gunawan Setyadi mengatakan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tidak patut dijauhi tapi penyakitnya yang dijauhi.

ODHA di Kabupaten Beltim konsisten menjalani perawatan dan minum Antiretroviral (ARV) yang merupakam obat ampun menekan virus HIV/AIDS dalam tubuh.

"Alhamdullilah ODHA di Beltim rutin berobat dan minum ARV," ujar Gunawan, Minggu (1/12/2019).

Mengajak atau membujuk ODHA untuk berobat kata Gunawan tak mudah.

Namun itulah tantangan besar yang harus dituntaskan DKPPKB Beltim.

Berbagai cara terus diupayakan agar ODHA mau rutin menjalani pemeriksaan dan pengobatan. 

Cara yang paling bisa diterima ODHA adalah secara kekeluargaan. 

"Tapi mesti kontinyu untuk mengajak mereka," sebut Gunawan.

ODHA kata Gunawan tidak perlu ditakuti dan dikucilkan.

Justru sebaiknya diberi semangat dan terus memotivasi untuk berkarya melakukan hal positif. 

"Jangan jauhi ODHA, jauhi penyakitnya (HIV/AIDS). Buat masyarakat Beltim jangan takut untuk cek HIV di pelayanan (PKM/RSUD) lebih baik tahu sebelum terlambat," ujarnya.

Jangan Takut

Restu Albelino warga Belitung Timur yang pernah tergabung dalam komunitas peduli AIDS dan narkoba sewaktu masih kuliah di Yogyakarta mengatakan, ODHA membutuhkan dukungan untuk bertahan dan tidak malu berkonsultasi ke pusat kesehatan.

"Kita tak tidak boleh takut juga dengan mereka, karena sepengetahuan saya HIV mudah menular, namun tidak sembarangan juga menularnya, kita juga harus tahu penyebab menular penyakit ini,"  kata Restu.

ODHA kata Restu cenderung menutup diri dengan dunia luar.

Stigma atau pandangan orang terhadap ODHA sudah tersistem tidak baik.

Maka dari itu, jangan kucilkan ODHA tapi justru beri semangat untuk bersosial.

Patut diingatkan lanjut Restu hindari pergaulan tak sehat seperti seks bebas, narkoba, transfusi darah tak steril atau hal-hal lain yang kemungkinan besar berpotensi menularkan virus ini. 

"Tetapi kalau kita support, mereka berusaha bertahan, meskipun mereka tahu obat untuk HIV/ AIDS belum ditemukan, hanya untuk mereka mempertahan kan sistem kekebalan tubuh ODHA," kata Restu.

Hal senada juga disampaikan Devano Sheva Riskianto yang juga warga Belitung Timur.

Siswa kelas 12 SMA  menilai lebh baik mengajak ODHA melakukan hal-hal yang positif yang membangkitkan semangat berprestasinya ketimbang menjauhinya.

"Mem-bully mereka itu tak tepat karena akan menambah beban mereka, yang membuat mereka tidak semangat menjalani hidup bahkan bisa mengarah ke arah negatif bagi mereka sendiri. Menurut saya tidak harus menghidari ODHA, yang harus dihindari itu perilaku penyebab penyakitnya. Jadi kita tetap bisa berteman dengan penderita, bagaimana pun mereka membutuhkan motivasi, support dari kawan, sahabat dan keluarga di lingkungannya," terang pemuda yang tergabung dalam klub sepak bola Qoreka ini.

(Bangka Pos/Yuranda/Suharli)

Penulis: Edy Yusmanto (Ero)
Editor: ediyusmanto
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved