Breaking News:

Horizzon

Uji Kompetensi Wartawan dan Kompetensi Wartawan

Kerja profesional seorang wartawan, akan menentukan bagaimana sebuah peradaban mampu mengimbangi derasnya kemajuan yang terkadang liar

Uji Kompetensi Wartawan dan Kompetensi Wartawan
Bangkapos
Bangkapos

WARTAWAN adalah profesi mulia. Kerja profesional seorang wartawan, akan menentukan bagaimana sebuah peradaban mampu mengimbangi derasnya kemajuan yang terkadang liar.

Wartawan adalah juga pejuang, di mana saat republik ini belum lahir, tulisan-tulisan wartawan menyuarakan kemerdekaan didengar seantero dunia. Dan tentunya, wartawan adalah demokrasi itu sendiri, sebab pers sebagai entitas tak terpisahkan dari wartawan kita sepakati bersama sebagai pilar keempat demokrasi.

Wartawan melalui tulisannya juga mengawal peradaban. Memiliki mata, telinga, perasa, mulut dan hati yang didedikasikan sebagai milik publik, wartawan bekerja mengawal peradaban.

Telinga wartawan adalah telinga publik, dimana yang ia dengar seyogyanya itulah yang didengar masyarakat. Pun pula dengan yang ia lihat dan rasakan seyogyanya juga dibagi, tanpa kurang tanpa lebih.

Namun di saat wartawan menjalankan tugasnya ikut mengawal peradaban, tentu wartawan tak boleh lupa menata diri mereka sendiri. Dan faktanya, tuntutan kerja profesional seorang wartawan juga terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dari istilah saja, atribusi wartawan juga berubah dari waktu ke waktu. Kosakata dalam Bahasa Indonesia pernah mencatat bahwa akronim dari wartawan adalah kuli tinta. Kala itu wartawan identik dengan pena, blocknote dan tulisan steno yang mewarnai pekerjaan wartawan sehari-hari.

Zaman berubah, peradaban juga berubah, wartawan kemudian dikenal dengan kuli disket. Kala itu kehadiran komputer mempermudah kerja profesional wartawan. Tak lama era itu, munculah era copas alias copy paste, di mana dengan gampanya sebuah naskah digandakan dan kemudian menjadi konsumsi banyak media.

Era itu tampaknya yang membuat wartawan harus kembali berkaca. Kesibukannya mengawal sekaligus menata peradaban membuatnya lali menata diri sendiri. Era copy paste yang diakui atau tidak berlanjut hingga saat ini menjadikan dunia wartawan kehilangan sikap kritisnya. Atau lebih tepatnya, hampir tak ada pembeda suara media satu dengan yang lain.

Tidak hanya itu. Peran sentral pers sebagai fungsi kontrol juga banyak menyimpang. Atau mungkin lebih tepatnya banyak pihak yang memanfaatkan peran strategis pers untuk hal-hal yang berifat pragmatis.

Banyak wartawan yang mulai bernegoisasi dengan perannya sendiri. Etika profesi yang menjadi pegangan dan landasannya bekerja mulai ditawar. Hak publik untuk melihat, mendengar, tahu dan paham yang dititpkan kepadanya “dikorupsi” untuk kepentingannya sendiri.

Halaman
12
Penulis: ibnu Taufik juwariyanto
Editor: ibnu Taufik juwariyanto
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved