Berita Pangkalpinang

Penyebab Rusaknya Hutan di Babel Masih Didominasi Oleh Pertambangan

Kerusakan hutan di Provinsi Bangka Belitung masih didominasi oleh pertambangan.

Penyebab Rusaknya Hutan di Babel Masih Didominasi Oleh Pertambangan
Bangkapos.com/Riki Pratama
Kabid Perlindungan, Konservasi, Sumber Daya Alam dan Ekosistim, Dinas Kehutanan Provinsi Babel, Jon Saragih. 

Penyebab Rusaknya Hutan di Babel Masih Didominasi Oleh Pertambangan

BANGKAPOS.COM,BANGKA-- Kerusakan hutan di Provinsi Bangka Belitung masih didominasi oleh pertambangan. Di mana luas hutan dan non hutan yang ada di Babel, seluas 1.600.000 hektar.

Diantaranya, seluas 657.000 hektar merupakan hutan, terdiri dari hutan konservasi, lindung, dan produksi, dengan total kerusakan mencapai 90.000 hektar.

"Kerusakan bukan hanya hutan produksi, dan koservasi, khusus Hutan lindung dari jumlah 185.000, sebanyak 90.000 hektar sudah rusak. Jadi inilah menjadi PR kita, walaupun hutan lindung dan produksi tidak ada kayunya, tetapi bisa saja ada kayu dan batu yang sudah di plot menjadi hutan lindung,"ungkap Kabid Perlindungan, Konservasi, Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Dinas Kehutanan Provini Kepulauan Bangka Belitung, Jon Saragih, kepada Bangkapos.com, Senin (9/12/2019) di ruang kerjanya.

Selain itu, ia mengatakan sudah berapa banyak, kerusakan terjadi, bukan hanya hutan produksi, bahkan konservasi juga rusak, yang menjadi tanggungjawab bersama mengatasinya, baik dari kementerian melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)-nya.

"Jadi inilah menjadi PR bersama, walaupun kita sudah melakukan langkah-langkah, bagaimana merehabilitasi, hutan lindung. Setiap tahun menanam pohon di lahan 100 hektar, dan dari swasta juga menaman 100 hektar, namun itu tidak cukup, dengan banyaknya kerusakan yang ada," ungkapnya.

Jon, mengatakan kerusakan hutan, banyak disebabkan karena tambang timah, dimana banyak masyarakat melakukan pertambangan dihl hutan namun tidak dilakukan penanaman kembali.

"Penyebab kerusakan sesungguhnya di hutan produksi IUP timah, mereka sudah di reklamasi, tetapi dari masyarakat digali lagi sehingga tidak bisa kontrol, terkait kerusakan itu, proses hukum seharusnya, yang memang pangli, tetapi kita selalu memberikan langka pereventif dalam penegakkan hukum bagaimana kuncinya agar semua sadar sekarang ini," harap Jon.

Ia menjelaskan, akibat keruskaan hutan sekarang ini, banyak wilayah yang terkena dampak banjir saat masuk musim penghujan dan kekeringan saat musim kemarau.

"Akibat kerusakan, saat datang musim musim kemarau kita kekeringan, lalu datang musim hujan kita banjir, semua satwa aliar tidak ada lagi, menjdi tempatnya konflik satwa dan manusia ini menjadi hal yang prihatin, tentunya dinas Kehutanan tidak bisa menyelesaikanya sendiri dengan program yang ada," tegasnya.

Halaman
12
Penulis: Riki Pratama
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved