Breaking News:

Demo Tambang Laut

Nelayan Gelar Orasi Tolak Tambang Laut, Ancam Bakar Kapal Isap Jika Beroperasi

Sejumlah Masyarakat Nelayan Kelurahan Matras Sungailiat Bangka hingga Nelayan Airantu Mapur Kecamatan Riasuilip berkumpul d Pantai Matras Sungailiat

Penulis: Fery Laskari | Editor: khamelia
Bangkapos/Ferylaskari
Sejumlah masyarakat nelayan gabungan, mulai Kelurahan Matras Sungailiat, Airantu hingga Mapur Riasuilip Bangka berkumpul di Pantai Matras menyatakan sikap menolak segala bentuk tambang laut, termasuk KIP, Selasa (10/12/2019). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Sejumlah Masyarakat Nelayan Kelurahan Matras Sungailiat Bangka hingga Nelayan Airantu Mapur Kecamatan Riasuilip berkumpul d Pantai Matras Sungailiat, Selasa (10/12/2019) siang.

Mereka menggelar orasi damai menyatakan sikap penolakan terhadap segala aktivitas tambang laut, termasuk kapal isap produksi (KIP). Aksi ini merupakan buntut demo pengusiran empat unit KIP yang sempat berlabuh di laut ini, kemarin, Senin (9/12/2019) petang.

"Kami sudah bertemu Gubernur (Babel) dan Ketua DPR Babel, Tahun 2015 lalu. Hasil kesepakatan ketika itu, tidak ada penambangan di Perairan Matras dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Seluruh nelayan kami tidak mengijinkan," kata Jubir Masyarakat Nelayan Kelurahan Matras Sungailiat, Samsu saat orasi di tepi pantai, Selasa (10/12/2019).

Tak hanya Nelayan Kelurahan Matras Sungailiat yang menolak hadirnya KIP, namun nelayan dari berbagai daerah sekitarnya juga berkumpul di pantai yang sama, menggelar orasi serupa. Mereka masing-masing perwakilan Nelayan Dusun Airantu Desa Deniang Kecamatan Riausilip hingga Nelayan Desa Mapur Kecamatan Riasuilip Bangka.

"Nama saya Suhardi alias Ngikiw. Saya Nelayan Airantu (Desa Deniang Kecamatan Riausilip). Kami mulai Matras, Airantu hingga Pesaren (Belinyu) menolak keras yang namanya tambang laut. Sudah dari Tahun 2007 kita menolak karena di situ menyangkut hajat hidup nelayan kita, nelayan tradisional semua," katanya.

Sama seperti Samsu, Ngikiw juga memastikan perwakilan Nelayan Kecamatan Riasuilip Bangka sebelumnya telah menghadap Gubernur Babel, meminta agar tak mengeluarkan ijin tambang laut di perairan ini. Namun faktanya, kemarin, empat KIP malah coba masuk ke Perairan Matras, hingga terjadi aksi pengusiran (baca berita kemarin).

"Kami sudah menghadap sampai gubernur, tapi tidak ada tanggapan (KIP malah masuk Laut Matras). Makanya kami sekarang ini siap perang di lokasi," kata Ngikiw.

Jika pihak perusahaan kapal isap pertambangan (KIP) masih juga memaksa beroperasi, maka Ngikiw memastikan gejolak atau kerusuhan bakal terjadi.

"Kalau tetap memaksa maka kami terpaksa anarkis. Bukannya kita tidak mentaati hukum tapi bapak- bapak di sana tidak mendengar aspirasi kita nelayan. Kalau tetap mamaksa KIP beroperasi di perairan ini, kita bakar..!" tegas Ngikiw langsung disambut teriakan keras berbentuk dukungan dari massa yang hadir di agenda pernyataan sikap siang ini.

Kapolres Bangka AKBP Aris Sulistyono dikonfirmasi seputar aksi pernyataan sikap yang dimaksud, Selasa (10/12/2019) belum memberikan komentar terlalu jauh. Alasan Kapolres, soal sikap yang dimaksudkan oleh sejumlah masyarakat nelayan, Polres Bangka belum menerima pemberitahuan secara resmi.

"Polres belum dapat pemberitahuan resmi," kata Kapolres, singkat.

Pada edisi dua hari lalu disebutkan, sejumlah masyarakat yang mengatas-namakan Masyarakat Kelurahan Sinarjaya Jelutung (Sinjel) Sungailiat Bangka, juga berorasi, Minggu (8/12/2019). Orasi dilakukan di tepi Pantai Akeh Sinjel, bersebelahan dengan Pantai Matras Sungailiat.

Sejumlah masyarakat Sinjel, menyatakan sikap yang berbeda dibanding Nelayan Matras, Airantu maupun Mapur. Masyarakat Sinjel justru mendukung masuknya KIP di perairan ini, syaratnya kompensasi kepada masyarakat harus transparan. Sehari setelah pernyataan sikap Masyarakat Sinjel, Senin (9/12/2019), empat unit KIP pun masuk di Perairan Matras, namun langsung diusir oleh Nelayan Matras.

(bangkapos.com/ferylaskari).

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved