Kriminalitas

Pinjaman Online dengan Ratusan Ribu Nasabah Digerebek Polisi, Karyawan Diminta Angkat Tangan

Saat penggerebekan berlangsung, perusahaan itu sedang aktif beroperasi. Puluhan karyawan tampak mengurusi pekerjaan mereka di komputer masing-masing.

Pinjaman Online dengan Ratusan Ribu Nasabah Digerebek Polisi, Karyawan Diminta Angkat Tangan
Bangka Pos/ Resha Juhari
Ilustrasi aplikasi pinjaman online yang menteror peminjamnya lewat WhatsApp 

Dalam situs itu, warga yang ingin meminjam diminta untuk mengisi sejumlah data diri seperti KTP, NPWP, KK dan lainnya.

Setelah itu, akan muncul sebuah syarat dan ketentuan yang isinya sangat merugikan calon nasabah, yakni seluruh data yang ada di dalam ponsel bisa mereka akses.

Syarat dan ketentuan itu harus disetujui oleh nasabah untuk mendapatkan pinjaman di perusahaan tersebut.

4. Sebar fitnah dan ancam korban bila terlambat bayar                                                                                               Budhi menyampaikan bahwa perusahaan tersebut tidak mengenakan bunga bagi warga yang meminjam uang kepada mereka.

Akan tetapi mereka memotong dana pinjaman mereka di awal dengan alasan administrasi.

"Jadi misalnya minjem Rp 1.500.000 maka kita yang meminjam akan hanya mendapatkan Rp 1.200.000," tutur dia.

Apabila terlambat membayar, sanksi yang dikenakan perusahaan tekfin ilegal ini berupa denda yang cukup tinggi, yakni sebanyak Rp 50.000 per harinya.

Kepada nasabah yang telat membayar, penagih utang atau yang desk collector tersebut akan meneror mereka.

Teror yang dilakukan salah satunya menyebar fitnah tentang si peminjam kepada kerabat-kerabat terdekat via telepon.

Nomor-nomor keluarga dekat itu mereka dapatkan dari ponsel korban yang tadinya menyetujui bahwa seluruh data di ponsel korban dapat mereka akses.

Halaman
1234
Editor: nurhayati
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved