WIKI Bangka

Makan Buah Kedadap, Udang Galah Kotawaringin Manis Gurih Rasanya

Bagi masyarakat Pulau Bangka saat ini sudah sangat sulit atau langka untuk mendapatkan Udang Galah atau Udang Satang sebagai lauk pauk sehari-hari

Makan Buah Kedadap, Udang Galah Kotawaringin Manis Gurih Rasanya
Istimewa
Udang satang 

BANGKAPOS.COM,BANGKA-- Bagi masyarakat Pulau Bangka saat ini sudah sangat sulit atau langka untuk mendapatkan Udang Galah atau Udang Satang sebagai lauk pauk sehari-hari

Meskipun kadang ada dijual di pasar namun harganya cukup mahal berkisar Rp 120.000 - Rp 150.000 per kg.

Udang Galah umumnya hidup di sungai-sungai air payau, salah satu sungai yang masih ada habitat Udang Galah, yakni Sungai Kota Waringin Kecamatan Puding Besar Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sungai Kota Waringin ini berada di pinggiran Desa Kota Waringin (KTW) dimana warna air sungai tampak coklat kehitaman. Bila air laut sedang surut, rasa air sungai tawar, namun bila air laut sedang pasang maka rasa air sungai agak asin.

Jarak tempuh dari Kota Sungailiat, ibukota Kabupaten Bangka ke Desa Kota Waringin (KTW) sekitar 46,3 km melewati jalan aspal yang mulus hingga ke lokasi.

Bujang, warga Desa Kota Waringin (KTW) mengatakan, di dalam sungai Kota Waringin hasil tangkapan nelayan kebanyakan Udang Galah atau Udang Satang, selain itu juga ada ikan Sembilang, Mayong, Sebangun, dan lainnya

"Ciri khas rasa Udang Galah dari sungai Kota Waringin ini adalah rasanya manis dan gurih karena Udang Galah disini suka memakan buah Kedadap atau sejenis buah pohon bakau yang banyak tumbuh disepanjang sungai. Rasa buah Kedadap ini asam namun sangat disukai Udang Galah dan menjadi makanan alaminya mungkin hal inilah yang menyebabkan rasa Udang Galah rasanya manis dan gurih berbeda dengan sungai lainnya," kata Bujang ketika ditemui Bangkapos.com, Minggu (25/12/19).

Udang Satang asal Sungai Kota Waringin.
Udang Satang asal Sungai Kota Waringin. (Bangkapos.com/Edwardi)

Pada saat musim kemarau yang lalu keberadaan Udang Galah disini ini menurun atau sedikit karena air laut banyak masuk kedalam sungai sehingga rasa air sungai menjadi asin.

"Kemungkinan Udang Galah saat air sungai terasa asin bersembunyi kedalam hutan bakau atau di sela sela pohon Kedadap sehingga sulit ditangkap nelayan," jelas Bujang

Menurutnya, saat ini pun keberadaan Udang Galah masih jarang atau sedikit sehingga hasil tangkapan nelayan menjadi sedikit, akibatnya harga Udang Galah disini juga naik.

Halaman
12
Penulis: edwardi
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved