Advertorial

Markus Sebut Potret Boen Toe Momentum Jelajahi Muntok Tempo Dulu

Bupati Bangka Barat Markus SH di tengah kesibukannya menyempatkan diri menghadiri acara pameran foto dan budaya Tionghoa

Markus Sebut Potret Boen Toe Momentum Jelajahi Muntok Tempo Dulu
Ist
Bupati Markus SH saat membuka acara Potret Boen Toe jilid 2 di Klenteng Kong Fuk Miau, Kamis (26/12) malam 

BANGKAPOS.COM--Bupati Bangka Barat Markus SH di tengah kesibukannya menyempatkan diri menghadiri acara pameran foto dan budaya Tionghoa Muntok dalam sejarah bertajuk potret boen toe II di Kelenteng Kong Fuk Miau, Kamis (26/12) malam.

Acara yang kini memasuki tahun kedua dan diinisiasi Heritage of Tionghoa Bangka (Hetika) ini mengusung konsep budaya Tionghoa Muntok tempo dulu.

Markus menyebut, potret boen toe II ini menjadi momentum bagus bagi para pengunjung dari berbagai kalangan untuk lebih mengenal kota Muntok masa lalu.

Markus SH didampingi Istri Evi Astura Markus
Markus SH didampingi Istri Evi Astura Markus (Ist)

Sebab, dalam event yang berlangsung 3 hari ini (26-28/12), pengunjung bisa menyaksikan foto jadul seputar Muntok dan sekitarnya, koleksi peralatan tradisional Tionghoa, koleksi bonsai dan sketsa vernadoc rumah mayor.

"Kami apresiasi panitia yang sudah menggelar kegiatan ini. Dengan dipajangnya foto-foto jadul, kita bisa menjelajahi kondisi masyarakat di kota Muntok dulunya. Kita boleh berbangga, kota Muntok menjadi salah satu jaringan kota pusaka di Indonesia. Di sini banyak sekali peninggalan sejarah seperti Menumbing, wisma Ranggam, Masjid Jami, kelenteng Kong Fuk Miau, juga rumah mayor bekas kediaman mayor Tionghoa bermarga Tjoeng yang ternama di masa Kolonial Belanda. Semoga Muntok yang sudah terkenal ini semakin dikenal menasional bahkan internasional," jelas politisi PDI Perjuangan ini.

Foto bersama sesaat usai pembukaan.
Foto bersama sesaat usai pembukaan. (Ist)

Lebih lanjut bupati muda dan inovatif ini bilang, event potret boen toe II ini menjadi salah satu ajang semakin mengenalkan kota Muntok ke dunia luar.

"Dalam event potret boen toe II kita harapkan akan semakin baik untuk lebih mempromosikan kota Muntok. Ke depan pameran ini kita harap bisa masuk agenda rutin dinas kebudayaan dan pariwisata Bangka Barat sehingga panitia tidak pusing-pusing lagi nyari dana saat akan digelar," ujarnya.

Rini stevany, ketua panitia pelaksana kegiatan dalam laporannya menyampaikan, agenda lain yang akan digelar dalam rangka mengisi event ini antara lain pemeriksaan kesehatan gratis, atraksi barongsai dan wushu juga fashion show busana peranakan Tionghoa tempo dulu.

Berdasarkan pantauan harian ini di lokasi kegiatan, foto-foto jadul yang dipajang seperti Cung Hwa School yang kini jadi rumah walet, Tepekong Ranggam sebagai tepekong tertua di muntok, potret pengeringan lada putih Muntok tahun 1914, banjir bandang yang melanda Muntok tahun 1962, makam Mayor Tjoeng di menjelang baru, dan lainnya.

Untuk diketahui, nama boen toe bukan berarti buntu, tidak ada jalan. Bun artinya kebudayaan dan Tu artinya pulau atau tanah.

Jadi Bun Tu dapat berarti tanah budaya atau beradab. Pada saat Bangka berada di bawah kekuasaan kesultanan Palembang kemudian berlanjut di bawah pemerintahan Inggris dan Belanda, Bun Tu menjadi pusat pemerintahan dan kota yang amat penting.

(Humas Bangka Barat)

Penulis: Iklan Bangkapos
Editor: khamelia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved