Kamis, 7 Mei 2026

ULAR 4 Meter Sembunyi di Plafon Rumah, Yuk Pahami Pertolongan Pertama Jika Digigit Ular Berbisa

Ular piton sepanjang 4 meter dengan diameter sekitar 10 cm ditemukan di dalam bak mandi di sebuah rumah milik seorang warga

Tayang:
(PMK Surabaya)
Ular piton sepanjang 4 meter ditemukan di dalam bak mandi di sebuah rumah milik warga Jalan Kemayoran Baru Surabaya 

BANGKAPOS.COM, SURABAYA - Ular piton sepanjang 4 meter dengan diameter sekitar 10 cm ditemukan di dalam bak mandi di sebuah rumah milik seorang warga di Jalan Kemayoran Baru Surabaya, Jumat (3/1/2020) malam.

Ular tersebut mengagetkan pemilik rumah setelah sebelumnya terjatuh dari plafon.

"Jatuhnya sekitar jam 11 malam. Saya kaget ada bunyi brak gitu. Lalu saya tengok di bagian rumah belakang kok ada ular. Terus masuk ke dalam bak mandi di kamar mandi. Kan ada suara air gemericik," kata Hariyanto, Sabtu (4/1/2020).

Ular piton sepanjang 4 meter ditemukan di dalam bak mandi di sebuah rumah milik warga Jalan Kemayoran Baru Surabaya (PMK Surabaya)

Sementara itu, Kepala Bidang Operasional PMK Surabaya, Bambang Vistadi, membenarkan peristiwa tersebut.

Saat itu, pihaknya dibantu Linmas menerjunkan tim mengevakuasi ular piton tersebut.

"Sudah kami evakuasi dan alhamdulillah sudah di bawa ke Mako Linmas. Ularnya memang cukup besar," kata Bambang Vistadi saat dihubungi.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Ular Piton Sepanjang 4 Meter Jatuh dari Plafon Lalu Masuk ke Bak Mandi Kagetkan Pemilik Rumah

CARA MENGATASI

Maraknya kemunculan anakan ular kobra di permukiman warga saat musim hujan membuat beberapa orang terkena gigitannya.

Hal itu diikuti pula menyebarnya beragam informasi di media sosial, salah satunya mengenai penanganan gigitan bisa ular kobra.

Ada yang membagikan cara penyembuhan secara medis hingga tradisional.

Salah satunya, dengan menggunakan bawang merah.

Melansir sebuah akun di Facebook, Jumat (20/12/2019), membagikan informasi tersebut.

Narasi informasi itu menyebutkan, bawang merah dikunyah sampai halus, tanpa perlu mengupas kulitnya.

Setelah itu, tempelkan hasil kunyahan itu pada bekas luka.

Menurut pengunggah, ini merupakan pengalaman pribadinya dan berhasil mengempeskan bengkak akibat bisa ular kobra.

Hingga Selasa sore, unggahan ini sudah dilihat oleh lebih dari 15.000 pengguna Facebook.

Benarkah informasi yang dibagikan ini?

Pakar toksonologi dan bisa ular Dr. dr. Tri Maharani, M.Si.SP.EM, membantahnya dan meyebut informasi itu sebagai hoaks.

"Salah, itu sesat dan membahayakan. Nyawa taruhannya kalau first aid yang salah" kata Tri saat dihubungi Kompas.com, Selasa (17/12/2019).

Pertolongan pertama pada korban gigitan ular kobra adalah dengan menenangkan diri dan tidak banyak bergerak atau memasang bidai di area gigitan untuk mengantisipasi persebaran bisa di dalam tubuh.

Setelah itu, segera bawa ke pusat layanan kesehatan terdekat seperti puskesmas atau rumah sakit.

Tri mengimbau agar masyarakat tidak pergi ke dukun dan meminta pertolongan dengan cara itu.

Selain itu, jangan pernah mengisap/menyedot racun, mengeluarkan darah, memijat, mengikat, dan menggunakan obat-obatan herbal pada bekas gigitan ular.

Bawang merah, tegas dia, tidak bisa untuk menyembuhkan bisa kobra yang sangat beracun.

"Gigitan ular berbisa apalagi kobra itu bahaya banget, cardiotoxin, neurotoxin, cytotoxin, dan necrotoxin," ujar Tri.

Hal senada disampaikan Ketua Taman Belajar Ular Indonesia Erwandi Elang Supriadi.

"Enggak. Bawang merah dan bawang putih tidak bisa (menyembuhkan bisa kobra). Penyembuhannya harus medis," kata Elang, Selasa (17/12/2019).

Keduanya, baik Tri dan Elang, mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengubah hal-hal yang sebelumnya berbau mistis atau tradisional untuk penanganan bisa ular.

Penanganan gigitan ular harus secara medis.

Hal ini penting agar tidak terjadi kesalahan penanganan pada korban yang mengalami gigitan kobra sehingga justru berakibat fatal.

Ular sendok

Dikutip dari Wikipedia, ular sendok atau yang juga dikenal dengan nama kobra adalah sejenis ular berbisa dari suku Elapidae.

Disebut ular sendok (Jw., ula irus) karena ular ini dapat menegakkan dan memipihkan lehernya apabila merasa terganggu oleh musuhnya.

Leher yang memipih dan melengkung itu serupa bentuk sendok atau irus (sendok sayur).

Istilah kobra dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Inggris, cobra, yang sebetulnya juga merupakan pinjaman dari bahasa Portugis.

Dalam bahasa terakhir itu, cobra merupakan sebutan umum bagi ular, yang diturunkan dari bahasa Latin colobra (coluber, colubra), yang juga berarti ular.

Ketika para pelaut Portugis pada abad ke-16 tiba di Afrika dan Asia Selatan, mereka menamai ular sendok yang mereka dapati di sana dengan istilah cobra-capelo, ular bertudung.

Dari nama inilah berkembang sebutan-sebutan yang mirip dalam bahasa-bahasa Spanyol, Prancis, Inggris dan bahasa Eropa.

Nama ilmiah mereka, Naja, berasal dari kata bahasa Sansekerta, Nagá yang berarti "ular bertudung".

Ular sendok dalam bahasa Indonesia merujuk pada beberapa jenis ular dari marga Naja.

Sedangkan ular king-cobra (Ophiophagus hannah) biasanya disebut dengan istilah ular anang atau ular tedung.

Bisa ular sendok

Bisa atau racun ular sendok merupakan salah satu yang terkuat dari jenisnya, dan mampu membunuh manusia.

Ular sendok melumpuhkan mangsanya dengan menggigit dan menyuntikkan bisa neurotoksin pada hewan tangkapannya (biasanya binatang mengerat atau burung kecil) melalui taringnya.

Bisa tersebut kemudian melumpuhkan saraf-saraf dan otot-otot si korban (mangsa) dalam waktu yang hanya beberapa menit saja.

Selain itu, ular sendok dapat melumpuhkan korbannya dengan menyemprotkan bisa ke matanya; namun tidak semua kobra dapat melakukan hal ini.

Kobra hanya menyerang manusia bila diserang terlebih dahulu atau merasa terancam.

Selain itu, kadang mereka juga hanya menggigit tanpa menyuntikkan bisa (gigitan `kosong' atau gigitan `kering').

Maka tidak semua gigitan kobra pada manusia berakhir dengan kematian, bahkan cukup banyak persentase gigitan yang tidak menimbulkan gejala keracunan pada manusia.

Meski demikian, orang harus tetap berwaspada apabila tergigit ular ini, tetapi jangan panik.

Yang terbaik, perlakukan luka gigitan dengan hati-hati tanpa membuat luka-luka baru di sekitarnya (misalnya untuk mencoba mengeluarkan racun).

Jika mungkin, balutlah dengan cukup kuat (balut dengan tekanan) bagian anggota tubuh antara luka dengan jantung, untuk memperlambat -namun tidak menghentikan- aliran darah ke jantung.

Usahakan korban tidak banyak bergerak, terutama pada anggota tubuh yang tergigit, agar peredaran darah tidak bertambah cepat.

Kemudian bawalah si korban sesegera mungkin ke rumah sakit untuk memperoleh antibisa (biasanya di Indonesia disebut SABU, serum anti bisa ular) dan perawatan yang semestinya.

Semburan bisa ular sendok, apabila mengenai mata, dapat mengakibatkan iritasi menengah dan menimbulkan rasa pedih yang hebat.

Mencucinya bersih-bersih dengan air yang mengalir sesegera mungkin dapat membilas dan menghanyutkan bisa itu, mengurangi iritasi dan mencegah kerusakan yang lebih lanjut pada mata.

Gejala-gejala keracunan

Penting untuk diingat sekali lagi, bahwa gigitan ular sendok pada manusia tidak semuanya berakhir dengan kematian.

Pada kebanyakan kasus gigitan, ular menggigit untuk memperingatkan atau mengusir manusia.

Dengan demikian, hanya sedikit atau tidak ada racun yang disuntikkan.

Jika pun racun masuk dalam jumlah yang cukup, apabila korban ditangani dengan baik, umumnya belum membawa kematian sampai beberapa jam kemudian.

Jadi, kematian tidak datang seketika atau dalam beberapa menit saja.

Tidak perlu panik.

Bisa kobra, seperti umumnya Elapidae, terutama bersifat neurotoksin,yakni memengaruhi dan melumpuhkan kerja jaringan saraf.

Si korban perlahan-lahan akan merasa mengantuk (pelupuk mata memberat), kesulitan bernapas, hingga detak dan irama jantung terganggu dalam beberapa jam kemudian.

Akan tetapi tak serupa dengan akibat gigitan ular Elapidae lainnya, bisa ular sendok Jawa dan Sumatra dapat merusak jaringan di sekitar luka gigitan.

Jadi, juga bersifat hemotoksin.

Lebam berdarah di bawah kulit dapat terjadi, dan rasa sakit yang amat sangat muncul (namun tidak selalu) dalam menit-menit pertama setelah tergigit.

Sekitar luka akan membengkak, dan bersama dengan menjalarnya pembengkakan, rasa sakit juga turut menjalar terutama di sekitar persendian.

Lebam lama-lama akan menghitam dan menjadi nekrosis.

Dalam pada itu, kemampuan pembekuan darah pun turut menurun.

Tanpa gejala-gejala di atas, kemungkinan tidak ada racun yang masuk ke tubuh, atau terlalu sedikit untuk meracuni tubuh orang.

Namun juga perlu diingat, bahwa umumnya gigitan ular -berbisa atau pun tidak- hampir pasti menumbuhkan ketakutan atau kekhawatiran pada manusia.

Telah demikian tertancam dalam jiwa kita manusia, anggapan yang tidak tepat, bahwa (setiap) ular itu berbisa dan (setiap) gigitan ular akan mengakibatkan kematian.

Pada kondisi yang yang berlebihan, rasa takut ini dapat mengakibatkan syok (shock) pada si korban dengan gejala-gejala yang mirip.

Korban akan merasa lemah, berkeringat dingin, detak jantung melemah, pernapasan bertambah cepat dan kesadarannya menurun.

Bila terjadi, syok ini penting untuk ditangani karena dapat membahayakan jiwa pula.

Akan tetapi ini bukanlah gejala keracunan sehingga sangat penting untuk mengamati perkembangan gejala pada korban gigitan untuk menentukan tindakan penanganan yang tepat. (*)

Artikel ini telah tayang di Grid.id dengan judul Korban Gigitan Ular Kobra Semakin Bertambah, Benarkah Bawang Merah Bisa Jadi Penawar Racun Kobra?

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved