Berita Sungailiat

Zaman Lagi Susah Cari Kangtew Juga Susah, Orang Kaya Pun Menjerit, Begini Kata Bupati dan Kapolres

harga pasir timah rakyat enam tahun silam, sebelum ada sistim pemasaran satu pintu, sempat bertengger pada kisaran Rp 150 Ribu perkg

Zaman Lagi Susah Cari Kangtew  Juga Susah, Orang Kaya Pun Menjerit, Begini Kata Bupati dan Kapolres
Bangkapos.com/Edwardi
Bupati Bangka Mulkan 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Tahun 2020 tantangan hidup tampaknya semakin keras. Sulitnya perekonomian rakyat di daerah sangat mengkhawatirkan.

Harga timah, karet, lada dan ubi kasesa yang semula jadi andalan masyarakat, kini terjun bebas.

Anjloknya harga komoditi itu diiringi membengkaknya kebutuhan sehari-hari. Jika dibiarkan pintu kejahatan diprediksikan bakal terbuka lebar, karena alasan 'perut'.

"Kalau harga karet dan lada sudah lama (anjlok). Masyarakat dan petani kecil menjerit. Sedangkan kebutuhan sehari-hari, harganya semua serba naik, tidak sesuai dengan penghasilan masyarakat. Masih untung bagi masyarakat yang punya penghasilan (gaji) bulanan. Tapi kalau tidak punya, bagaimana mau melanjutkan hidup," keluh Alias(40), petani asal Kecamatan Puding Besar Bangka kepada Bangka Pos, Sabtu (4/1/2020).

Sekedar diketahui, catatan Bangka Pos, harga pasir timah rakyat enam tahun silam, sebelum ada sistim pemasaran satu pintu, sempat bertengger pada kisaran Rp 150 Ribu perkg, kini anjlok pada kisaran Rp 70 Ribu hingga 90 Ribu perkg.

Begitu pula harga lada kering tiga tahun lalu sempat bertengger pada kisaran Rp 150 Ribu perkg, kini anjlok pada kisaran Rp 40 Ribu hingga 60 Ribu perkg.

Sedangkan harga ubi kasesa, enam bulan lalu bertengger Rp 1250 perkg, kini ikut terjun bebas pada kisaran Rp1050 perkg.

"Melorotnya harga timah, karet, lada, ubi kasesa membuat ekonomi terpuruk. Ini menjadi tugas pemerintah, bagaimana membuat atau mencari terobosan di sektor baru atau segera mencari akar permasalahan kenapa bisa harga-harga itu bisa anjlok. Apakah ada spekulasi dan lainnya. Apalagi ini zaman saroh, nyarik kangtew susah (zaman susah, cari seseran sulit). Jangankan orang miskin, orang kaya pun menjerit," kata Zardy (45), Warga Desa Karyamakmur Kecamatan Pemali Bangka Sabtu (4/1/2020).

Oleh karenanya, pria yang pernah berkecimpung di beberapa event organizer itu berharap pemerintah tak berlarut-larut membiarkan kondisi ini terjadi.

"Dengan permasalahan tersebut, kiranya pemerintah bisa membuka peluang besar kepada para investor agar berperan serta dalam meningkatkan harga komoditi tersebut. Khususnya persaingan harga, singkat kata tidak terpaku dengan satu investor saja," imbaunya.

Halaman
12
Penulis: ferylaskari
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved