HORIZZON

Rekonstruksi Mental 2020

Mari kita awali tahun 2020 dengan merekonstruksi mental kita masing-masing menjadi lebih beradab

Rekonstruksi  Mental 2020
Bangkapos
Bangkapos

Kita Butuh Rekonstruksi Mental

PESTA menyambut tahun baru 2020 baru beberapa hari lalu kita lalui bersama. Bau jelaga kembang api yang kita sulut masih juga tercium hingga kini.

Sebagain dari kita bahkan belum tuntas menuliskan resolusi apa saja yang akan dilakukan di tahun kembar 2020 ini.

Deretan cita-cita mulia tentu banyak kita tambatkan dan berharap bias diraih di sepanjang tahun penuh harapan ini. Tidaklah berlebihan, sebab tahun 2019 memang begitu sulit. Terlalu banyak hal sia-sia yang terjadi pada tahun tersebut.

Tahun politik 2019 memang sungguh melelalahkan. Bahkan sisa-sisa ‘permusuhan’ Pilpres juga masih kita rasakan hingga kini. Setidaknya, lini media sosial kita masih penuh dengan perdebatan tanpa makna, yang kadang tanpa sadar kita terlena dalam pertikaian tersebut.

Harus diakui, polarisasi akibat Pilpres 2014 dan juga berlanjut ke 2019 adalah masalah utama dalam kehidupan bernegara kita yang berimbas ke kehidupan social kemasyarakatan kita. Dua kutub yang berbeda tersebut selalu menjadikan kita egois dan mudah menyalahkan orang lain.

Dalam urusan apapun, kita menjadi sangat sensitif dan selalu kembali ke kutub kita masing-masing. Diakui atau tidak, polarisasi ini sudah merambah ke hampir seluruh lini kehidupan kita.

Untuk itu tidaklah mengherankan jika tahun baru 2020 kita songsong dengan penuh suka cita. Sayang, di hari-hari awal tahun penuh harapan ini, tampaknya justru ujian berat harus kita lalui bersama. Dan sayangnya pula, kita sepertinya gagal melewati ujian tersebut.

Hari pertama memasuki tahun 2020, Tuhan memberikan hadiah banjir di DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat yang boleh dibilang relatif lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Banjir tersebut adalah kuasa Tuhan dan mestinya menjadi refleksi kita semua atas apa yang telah kita lakukan.

Belum cukup sampai di situ, Tuhan juga memberikan ‘firmannya’ yang lain yang sebenanrnya adalah petunjuk agar kita kembali merefleksikan diri sebagai bangsa yang satu. Kali ini, petunjukNya lebih jelas, yaitu dengan provokasi Tiongkok di Natuna yang harusnya kita sikapi sebagai bangsa yang satu.

Halaman
123
Penulis: ibnu Taufik juwariyanto
Editor: ibnu Taufik juwariyanto
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved