Berita Pangkalpinang

Marak Kasus Buaya Terkam Manusia, Amri ingin Warga Arif dan Bijak Terhadap Lingkungan

Amri Cahyadi menginginkan masyarakat untuk tetap terus senantiasa memelihara dan menjaga lingkungan sekitar.

Marak Kasus Buaya Terkam Manusia, Amri ingin Warga Arif dan Bijak Terhadap Lingkungan
bangkapos.com/Kemas Ramandha
Amri Cahyadi saat diwawancarai sejumlah awak media 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangka Belitung (Babel), Amri Cahyadi menginginkan masyarakat untuk tetap terus senantiasa memelihara dan menjaga lingkungan sekitar.

Hal ini menyusul dengan semakin bermunculannya korban-korban terkaman buaya yang terjadi di Babel baru-baru ini.

"Ini adalah fenomena yang mengharuskan kita sebagai manusia untuk bermuhasabah, untuk mengoreksi diri agar kita dapat memperbaiki pola kehidupan kita," jelasnya pada bangkapos.com, Kamis (9/1/2020) di Ruang Kerjanya.

Keganasan buaya itu sendiri, dikatakan Amri, karena faktor lingkungan. Adanya kerusakan lingkungan ini juga tidak lepas dari kelalaian umat manusia menyayangi lingkungan.

"Kalau dari kacamata saya, ini bukan salah buaya, kenapa mereka menerkam manusia. Karena buaya tidak tahu, mana manusia yang baik dan mana yang jahat," ungkapnya.

"Ini pengaruh kerusakan lingkungan karena manusia itu sendiri. Jadi mereka merasa terganggu. Kita tidak arif dan tidak bijak dengan alam," lanjutnya.

Hilangnya nilai kearifan lokal, juga sangat disayangkan wakil rakyat yang diusung Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini. Karena dulunya, ketika kerusakan alam yang terjadi dan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan masih tinggi.

"Dulu dengan kondisi alam yang masih asri, hal-hal seperti (terkaman buaya) ini sangat tabu dan jarang terjadi. Walaupun mereka (buaya) ada, tetapi hal-hal yang mematikan seperti ini jarang ada," ucapnya.

Dirinya juga mengimbau kepada seluruh masyarakat di Babel pada umumnya, agar dapat mengambil sisi positif atas kejadian ini. Namun, seharusnya masyarakat dapat menelaah dan berpikir secara mendalam, khususnya para penambang timah ilegal supaya bisa sadar akan dampak lingkungan yang rusak.

Amri menegaskan kepada pemerintah daerah, dapat melakukan tugasnya juga untuk memperingatkan serta memonitoring kegiatan yang merusak alam.

"Kegiatan merusak alam ini, bukan hanya TI (tambang inkonvensional) ilegal saja, melainkan banyak. Ada pembakaran hutan juga dan lain sebagainya. Jadi pemerintah daerah harus pandai mengawasi," tuturnya.

"Ditegur, diberi peringatan. Kalau, apa yang mereka lakukan ilegal. Bila perlu apabila sudah diingatkan, masih saja membandel. Langsung ditindak saja. Tapi, dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang berlaku," pungkasnya.

(Bangkapos.com/Ramandha)

Penulis: Ramandha
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved