Berita Pangkalpinang

Harga Lada Babel Akan Membaik, Tata Niaga Laga Diubah dengan Ekspor Sistem Satu Pintu

Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman mengatakan, dengan telah selesainya masalah dualisme BP3L diharapkan bisa memperbaiki kinerja

Harga Lada Babel Akan Membaik, Tata Niaga Laga Diubah dengan Ekspor Sistem Satu Pintu
Bangka Pos/Jhoni Kurniawan
Khoiri, Seorang Petani Lada di Desa Nibung yang Keluhkan Cuaca Tak Menentu 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dengan telah bersatunya dualisme Pembentukan Badan Pengelola, Pengembangan dan Pemasaran Lada (PB3L) Provinsi Bangka Belitung diharapkan bisa memperbaiki harga lada di Babel dengan Indeks Geografis (IG) Mentok White Paper.

Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman mengatakan, dengan telah selesainya masalah dualisme BP3L diharapkan bisa memperbaiki kinerja dalam pengelolaan dan pengawasan lada di Bangka Belitung.

"Pemasaran Lada satu pintu mekanisme mereka sudah rapat dengan eskportir, alhamdulilah masalah BP3L selesai dan kita perbaiki SOP kinerja BP3L sesuai aturan yang berlaku, karena BP3L ini adalah pemilik IG yang dalam ketentuanya, harus mengawasi, membantu dari pembibitan menanam sampai prosesnya,"ungkap Gubernur Babel Erzaldi Rosman, kepada wartawan Senin (13/1/2020)

Ia menambahkan dalam bekerja memperbaiki tata niaga lada, BP3L bersama BUMD Provinsi Babel, diharapkan bisa menguatkan posisi harga lada di Bangka Belitung.

"Tidak ada sumbangan, BP3L tidak boleh menerima sumbangan, tata niaga di diserahkan ke BUMD lakukan secara bisnis dengan ketentuan dan aturan sehingga posisi harga lada kita kuat,"tukasnya.

Sementara, Ketua Komisi II, Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung, Adet Mastur, mengatakan mereka belum menerima format penjualan tata niaga lada, namun ia memastikan pada bulan Februari nanti format tersebut di pegang oleh DPRD.

"Kita perlu format, nanti bulan Februari, harus ada di DPRD, tentunya tujuanya untuk meningkatkan harga lada, berdasarkan data harus kita cari, godok karena BP3L sudah menyatu sebagai pemegang IG ini,"tukasnya.

Ia mengharapkan, format yang disampaikan, contohnya seperti ketika ingin mengesport lada harus lewat pelabuhan di Bangka atau Belitung, dan ladanya harus mempunyai IG.

"Ini salah satu penekanan dan tidak ada lagi bebas-bebas untuk eskport, karena carut marut sudah selesai dengan BP3L bersatu, berarti itu sudah selesai tinggal penguatan IG siapaun eskport harus memiliki IG yaitu Mentok White Paper,"ungkapnya.

Ia menjelaskan selama ini eksport lada dilakukan secara bebas tidak menggunakan Indek Geografis (IG) Mentok White Paper.

"Jadi maka dari itu eskpor lada ini bebas tidak memiliki IG bisa eksport kita perlu penekanan terhadap Kementrian, harus ada peraturan khusus. Seperti eskport lada harus memiliki IG, dengan ada IG kita memiliki ciri khas, dan misal tidak memiliki IG tidak boleh eskport, kita banyak kecolongan,"ujarnya.

Adet juga contoh Negara tetangga yang bisa mengeksport lada padahal bukan Negara penghasil lada.

"Kita lihat Negara Singapore bisa mengeskport lada padahal tidak memliki penghasil lada. Sementara kita penghasil terbesar Lada, maka itu eksport harus lewat Pangkalpinang atau yang di Belitung agar kita terdeteksi,"tegasnya (Bangkapos/Riki Pratama)

Penulis: Riki Pratama
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved