Berita Pangkalpinang

Pemegang Saham PT Timah Tbk 65 Persen INALUM dan 35 Persen Masyarakat.

Muhammad Fuad Asroffilah membeberkan komposisi pemegang saham TINS (PT Timah Tbk) per Desember 2019 yaitu PT Indonesia Asahan Aluminium

Pemegang Saham PT Timah Tbk 65 Persen INALUM dan 35 Persen Masyarakat.
Bangkapos.com/Cici Nasya Nita
Representative Office Indonesia Stock Exchange (IDX) atau Bursa Efek Indonesia (BEI) Bangka Belitung, Muhammad Fuad Asroffilah 

BANGKAPOS.COM,BANGKA-- Representative Office Indonesia Stock Exchange (IDX) atau Bursa Efek Indonesia (BEI) Bangka Belitung, Muhammad Fuad Asroffilah membeberkan komposisi pemegang saham TINS (PT Timah Tbk) per Desember 2019 yaitu PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM sebesar 65 persen dan masyarakat sebesar 35 persen.

"Perkembangan PT Timah sejauh ini cukup baik. Sekarang ini kalau lihat dari data PT Timah saat ini tren pembagian devidend itu yang diincar para investor kan. Devidend terakhir itu per tahun 2018 dibagikan perlembar itu IDR 23. 61059. Trennya itu naik,"  jelas Fuad saat ditemui Bangkapos.com di Kantor BEI Bangka Belitung, Selasa (14/1/2020).

Menurutnya, devidend (pembagian laba) kepada pemegang saham-red) dari tahun ke tahun berbeda, dimulai dari tahun 2015 IDR 25.6977, tahun 2016 IDR 4.092, dan tahun 2017 IDR 10.14394.

"Mengenai Key Statisctics, harga timah perhari ini, perdetik ini 885 naik 20 rupiah atau setara 23 persen dibandingkan hari kemarin," ungkap Fuad.

Data profitability (keuntungan) menunjukan Gross Profit Margain (GPM)/Laba Kotor 7,29 persen, dan Operating Profit Margin (OPM)/Laba Operasi masih positif, akan tetapi Net Profit Margin (NPM)/Total Laba Bersih -1,20 persen, Earnings Bef. Tax Margin (EBITM) /Pendapatan Sebelum Bunga dan Pajak -5,17 persen.

"NPM negatif artinya banyak beban, misalnya bayar pajak. Laba kotornya besar, akan tetapi pas dihitung keuntungan, NPM dibagikan sedikit karena ada pemotongan. Ketika negatif seperti ini artinya kinerja kurang bagus," jelas Fuad.

Data Fundamental (mendasar) PT Timah Tbk selama tahun 2019 menunjukan bahwa Sales (penjualan) sebesar 14,60 T, Assets (aset) sebesar 20,77 T yang terbentuk dari Liability (kewajiban/hutang) sebesar 14,71 T dan Equity (modal) 6,06 T.

"Di sini kita bisa melihat hutang PT Timah besar sekali, dikonfirmasi dari EBITM atau pajak tadi. Penjualan dari 14,60 T habis bayar bunga-bunga. Cash flow (pergerakan uang masuk dan keluar-red) juga negatif -2,96 T artinya banyak biaya keluar dibanding masuk sebab di cash flow ada tiga yaitu pendanaan, investasi dan pembiayaan atau operasional," ujarnya.

Selain itu, kondisi PT Timah sekarang bisa dikatakan rugi bersih sebab dengan Net Profit sebesar -175,79 B untuk data terakhir, untuk data terbaru belum diperoleh.

Pemprov Babel Ingin Saham 10 Persen PT Timah

Disinggung mengenai niatan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Babel) dalam kenaikan saham PT Timah Tbk menjadi sebesar 10 persen, yang saat ini hanya menerima 3 persen dari royalti, ia menilai bagus karena bisa menambah pendapatan daerah.

"Itu bagus karena akan menaikan pendapatan daerah, masalahnya itu butuh effort (upaya-red) yang besar. Sebab berlawanan dengan regulasi pemerintah, serta dengan INALUM," kata Fuad.

Ia juga menjelaskan bila niatan pemprov tersebut mendapatkan 10 persen saham PT Timah.

"Tergantung skemannya apa, apakah ada saham baru maka harga saham di pasar akan terdevaluasi bisa turun bisa naik. Mekanisme lainnya bisa negosiasi dengan pemerintah maka saham akan mendevaluasi, atau memutuskam saham pemerintah dari 65 persen jadi tinggal 55 persen, 10 persen di split dengan pemprov," jelas Fuad. (Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved