Berita Pangkalpinang

Bencana Mengintai Babel, Lingkungan Rusak Parah, Penegakan Hukum Kurang Dikedepankan

Kerusakan lingkungan berakibat panjang, sehingga menyebabkan bencana langkah normalisasi bukan tidak percuma, namun salah satu rekomendasi

Bencana Mengintai Babel, Lingkungan Rusak Parah, Penegakan Hukum Kurang Dikedepankan
bangkapos.com / Riki Pratama
Ketua BPBD Provinsi Bangka Belitung Mikron Antariksa. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA --Perusakan lingkungan yang menyebabkan banyaknya terjadi bencana akibat tambang membuat banyaknya rusak daerah aliran sungai (DAS) di berbagai daerah yang ada di Provinsi Bangka Belitung.

Lemahnya penindakan hukum menjadi penyebab, banyaknya aktivitas tambang yang menggarap kawasan aliran sungai, sehingga rusak parah mengakibatkan banjir dimana-mana.

Kepala BPBD Provinsi Bangka Belitung, Mikron Antariksa, mengatakan, kerusakan lingkungan mengakibatkan kerusakan panjang dan menyebabkan terjadinya bencana alam seperti banjir dan lainya.

"Kerusakan lingkungan berakibat panjang, sehingga menyebabkan bencana langkah normalisasi bukan tidak percuma, namun salah satu rekomendasi yaitu persoalan penegakan hukum, penegakkan hukum harus dikedepankan,"ungkap Mikron Antariksa kepada wartawan, (16/1/2020).

kondisi lokasi penambangan timah di Desa Bantan, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung, Kamis (6/12).
kondisi lokasi penambangan timah di Desa Bantan, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung, Kamis (6/12). (Pos Belitung/Disa Aryandi)

Ia menambahkan bila penegakkan hukum tidak dikedepankan, maka kerusakan lingkungan akan terus terjadi di Provinsi Bangka Belitung yang berakibat pada bencana alam yang terjadi.

"Tentunya mengedepankan penegakan hukum, karena kerusakan lingkungan mesti dijalankan, dari pihak berwemang, termasuk aktivitas tambang di sungai sungai yang menambang daerah yang terlarang,"tukasnya

Kabid Perlindungan, Konservasi, Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Dinas Kehutanan Provinsi Bangka Belitung, Jon Saragih, menjelaskan telah banyaknya kerusakan lingkungan sehingga menyebabkan kerusakan ekosistem didalamnya seperti hutan dan aliran sungai.

"Satwa liar ini sudah banyak terganggu, termasuk di wilayah muara sungai itu sudah rusak karena tambang timah, ekosistem mereka terganggu,"ungkap Jon.

Jon menambahkan, bahwa tegas dalam aturan merusak hutan dan daerah aliran sungai, selain akan merusak alam juga menggangu ekositem hewan liar yang hidup didalamnya.

"Tindakan kita tetap kita tangani, selain dari Kehutanan kita juga membuat kajian bersama BKSDA dan Organisasi Alobi yang fokus mengatasi itu,"lanjutnya.

Ia menyarankan media juga untuk berperan aktif, melakukan pemberitahuan terkait bahayanya merusak lingkungan, karena telah banyak kasus membuat hutan di Babel ini banyak rusak sehingga ekosistem satwa terganggu.

"Banyak rusak , ihat saja ke lapangan, makanya kita harus pro aktif untuk bersama sama memberitahu, agar warga tidak merusak hutan dan daerah aliran sungai,"ungkapnya. (Bangkapos/Riki Pratama)

Penulis: Riki Pratama
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved