Berita Sungailiat

Warga Sungailiat Ini Sulap Pekarangan Rumah Jadi Ladang Sayur Beromzet Jutaan Rupiah

Ide memanfaatkan pekarangan rumahnya menjadi kebun sayur tersebut bermula dari keputusasaan yang pernah dialaminya sebagai nelayan, 10 tahun lalu

Warga Sungailiat Ini Sulap Pekarangan Rumah Jadi Ladang Sayur Beromzet Jutaan Rupiah
bangkapos.com / Kemas Ramandha
Ahak, petani sawi Warga Jalan Laut, Kecamatan Sungailiat 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Memanfaatkan lahan pekarangan rumah menjadi ladang bisnis dilakukan Ahak, warga Jalan Laut, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka.

Ahak kepada Bangkapos.com menceritakan, ide memanfaatkan pekarangan rumahnya menjadi kebun sayur tersebut bermula dari keputusasaan yang pernah dialaminya sebagai nelayan, sejak 10 tahun lalu.

Keputusan untuk berhenti melaut dan memulai bertanam sayuran ini sendiri berkat bujukan sang istri.

"Dulu kalau melaut kurang menghasilkan. Mungkin rezeki saya bukan di jalur (melaut) itu," jelasnya, Minggu (19/1/2020).

Dia menuturkan, dalam bertanam sayuran khususnya sawi, juga tidak menguras banyak tenaga maupun pikiran karena sawit adalah jenis sayuran yang tidak rewel dalam perawatannya.

''Malahan saya lebih suka bertanam dari pada melaut lagi, karena usia juga sudah tidak mungkin lagi. Sayuran yang saya tanam juga ada kangkung dan bayam," ungkapnya.

Namun, Ahak termasuk jarang menanam sayuran jenis bayam dan kangkung.

Dirinya lebih memilih bertani sawi, karena lebih menghasilkan.

Sementara itu, sayuran sawi yang ditanamnya tersebut biasa disebut dengan nama sawi Hongkong atau sawi hidroponik.

Untuk hasil dari panen sawinya tersebut, juga terbilang lumayan menggiurkan, karena per satu kilogram (kg) sawi, jual dengan harga Rp 12 Ribu perkg hingga Rp 13 Ribu perkg.

''Kalau satu kali panen itu, hasilnya lumayan. Kalau panennya berhasil bisa Rp4 Juta per bulan. Kita panen setiap kurang lebih 1 bulan," tuturnya.

"Tapi itu juga lihat harga pasar. Kadang pasar juga kalau lagi banjir sayuran, ini (sawi) hanya dihargai Rp 1000,- per kg sampai Rp 2000,- per kgnya," lanjut Ahak.

Walaupun perawatan dari sawi Hongkong tersebut tidak susah, tanaman ini sangat membutuhkan kondisi cuaca yang panas, agar sawi yang dihasilkan dapat maksimal ketika dipanen.

''Kalau musim panas itu yang hasilnya bagus, karena sawi ini tidak boleh banyak air. Musim hujan air berlebihan. Pupuk juga lebih boros. Ditambah lagi hama gampang menyerang,'' terangnya.

"Mudah-mudahan beberapa waktu mendatang, hujan tidak terlalu sering. Saya khawatir sawi saya jadi gagal panen," pungkasnya. (Bangkapos.com/Ramandha)

Penulis: Ramandha
Editor: Dedy Qurniawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved