Berita Pangkalpinang

Pakar Herpetofauna LIPI Sarankan Perlu Penelitian Populasi Buaya di Bangka Belitung

Jumlah serangan buaya terhadap manusia di Bangka Belitung dari tahun 2016 sampai Juni 2019 adalah sebanyak 32 kasus. Sebanyak 12 orang meniggal dunia.

Pakar Herpetofauna LIPI Sarankan Perlu Penelitian Populasi Buaya di Bangka Belitung
Bangkapos.com/Cici Nasya Nita
Pakar HerpetofaunaLembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Amir Hamidy (kanan), Kepala Resort BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) Bangka Belitung Septian Wiguna (tengah) dan Dosen Jurusan Biologi UBB, Budi Afriyansyah 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pakar Herpetofauna dan Kepala Laboratorium Biosistematika Amfhibi dan Reptil Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Amir Hamidy menyarankan perlunya penelitian mengenai populasi serta habitat buaya oleh para akademis untuk mengantisipasi perihal penyerangan buaya terhadap manusia.

"Ini bisa jadi manusia yang masuk ke habitat buaya atau buaya keluar mencari habitat baru. Konflik itu biasa dipicu oleh dua hal tersebut. Ketika semakin banyak manusia yang beraktivitas di sungai, dan populasi buaya semakin banyak yang harus dilakukan adalah survei jumlah buaya di area tersebut," ujar Dr Amir saat ditemui bangkapos.com ketika selesai memberikan Kuliah Umum kepada mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Bangka Belitung, Selasa (21/2/2020).

Lanjutnya, mengenai penelitian tersebut perlunya peran dari teman-teman akademis perguruan tinggi yang ada di Bangka Belitung.

"Kami dari LIPI bisa membantu untuk memberikan informasi metode penelitian seperti apa, standarnya gimana. Setelah ada hasil penelitian, akan tau beberapa populasi buaya dan lokasinya, maka baru kita bisa bicara bagaimana cara mengatasinya," saran Dr Amir.

Berdasarkan data yang dirangkum bangkapos.com dari Yayasan Konservasi Pusat Penyelamatan Satwa Alobi Foundation Bangka Belitung bersinergi dengan  BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) Bangka Belitung, jumlah serangan buaya terhadap manusia di Bangka Belitung dari tahun 2016 sampai Juni 2019 adalah sebanyak 32 kasus.

Dari jumlah konflik manusia vs buaya itu, 12 orang meninggal dunia dan sekitar 20 orang mengalami luka- luka.

Buaya dengan panjang 5 meter dari Pangkalraya, Sungaiselan
Buaya dengan panjang 5 meter dari Pangkalraya, Sungaiselan (bangkapos.com / Cici Nasya Nita)

BKSDA Babel Sambut Baik Bila Ada Penelitian Populasi Buaya di Babel

Kepala Resort BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) Bangka Belitung Septian Wiguna menyambut baik bila kedepannya ada peneliti yang akan meneliti mengenai buaya di Bangka Belitung.

"Kita sangat membuka pihak yang mau bekerjasama dengan kita, dan kita selalu menginventarisasi data mengenai sebaran buaya. Kita sudah punya data sebaran habitatnya, langkah berikut kita lakukan mitigas," tanggap Septian.

Lanjutnya, upaya yang dilakukan BKSDA Babel meliputi sosialisasi kepada masyarakat sekitar mengenai buaya yang termasuk hewan dilindungi ini.

"Sosialisasi mengenai waktu-waktu berbahaya seperti musim kawin buaya, survei populasi tadi juga penting, kita bersama-sama menghitung populasi. Seperti yang dikatakan pak Dr tadi ada regulasi populasi, bila sudah diambang tertentu bisa masuk kategori hewan yang diburu,"ujar Septian.

Sehingga masyarakat, bila akan memburu satwa tertentu dengan izin pihak BKSDA dengan catatan kuota tertentu data populasi tersebut bisa legal dan tidak menganggu kelestarian jenis. (Bangkapo.com/Cici Nasya Nita)

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: Dedy Qurniawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved