TESTIMONI: 3 ABG Bandung Dipaksa Layani 10 Lelaki Hidung Belang dengan Upah Rp 150 Ribu

Polres Pangkalpinang mengungkap perdagangan manusia, tepatnya anak di bawah umur untuk dipekerjakan di kompleks lokalisasi Teluk Bayur Pangkalpinang

TESTIMONI: 3 ABG Bandung Dipaksa Layani 10 Lelaki Hidung Belang dengan Upah Rp 150 Ribu
Bangkapos.com/yuranda
KORBAN - Polisi meminta keterangan empat wanita asal BAndung, 3 di antaranya di bawah umur yang diduga sebagai korban humman trafficking. 

BREAKINGNEWS: TESTIMONI 3 ABG Asal Bandung yang Dipaksa Layani 10 Lelaki Hidung Belang di Pangkalpinang dengan Upah Rp 150 Ribu

BANGKAPOS.COM, PANGKALPINANG - Polres Pangkalpinang mengungkap perdagangan manusia, tepatnya anak di bawah umur untuk dipekerjakan di kompleks lokalisasi Teluk Bayur Pangkalpinang, Kamis (30/01/2020).

Kasus ini bermula dari laporan adanya anak gadis hilang di kepolisian Bandung yang diduga menjadi korban perdagangan manusia di Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Setelah dilakukan penyelidikan, polisi berhasil mengamankan empat wanita, 3 di antaranya masih berusia 17 tahun, sebut saja Pingky, Twitty dan Switty serta satu lagi sudah berstatus wanita dewasa.

Ketiganya kemudian diamankan ke Polres Pangkalpinang untuk dilakukan pemeriksaan. Rencananya, mereka akan segera dijemput oleh petugas kepolsian asala Bandung untuk dipulangkan pada Sabtu ( 1/2/2020) mendatang.

Dalam pemeriksaan, salah satu dari ABG korban humman traffiking tersebut memberikan testimoni. Mereka mengaku terjebak utang dari caffe tempatnya bekerja.

Iming-iming bekerja di sebuah caffe dengan bayaran menjanjikan membuat Twitty tergiur pergi ke Pangkalpinang. Namun rupanya, keputusannya untuk lari dari rumah lima bulan lalu menjadi awal kelam dari perjalanan hidup Twitty.
Begitu sampai di Pangkapinang, oleh seseorang yang masih dalam proses pemeriksaan polisi, Twitty justru dipekerjakan di sebuah ‘caffe esek-esek’ di kompleks Teluk Bayur, Pasir Putih, Pangkalpinangt.

"Kata mereka uang transportasi ke Pangkalpinang dihitung sebagai utang yang harus diangsur Rp 1,5 juta perbulan. Itu sudah termasuk biaya air, listrik berikut tempat tinggal, “ kata Twitty kepada petugas.

Ia juga mengaku diberi modal Rp 500 ribu untuk beli pakaian. “Namun itu juga akhirnya dimasukkan ke dalam utang yang harus dibayar per bulan,” imbuh Twitty di ruang unit PPA Polres Pangkalpinang, Kamis (30/1/2020).

Saat mencoba bertanya kenapa utangnya besar dan angsurannya besar, yaitu Rp 1,5 juta per bulan, Twitty memperoleh keterangan bahwa pengelola caffe juga harus memberi uang komisi ke orang yang membawanya ke Pangkalpinang sebesar Rp 3,5 juta.

Halaman
123
Penulis: Yuranda
Editor: ibnu Taufik juwariyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved