Berita Pangkalpinang

Dokter Spesialis Paru RSUP Soekarno: Virus Corona Bersifat Zoonosis, Jadi Jenis Baru Sebab Termutasi

Informasi terbaru, ia mengatakan penularan bukan lagi dari hewan kepada manusia melainkan manusia kepada manusia (human to human).

Dokter Spesialis Paru RSUP Soekarno: Virus Corona Bersifat Zoonosis, Jadi Jenis Baru Sebab Termutasi
Ist/dok. dr Liyah
Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Ir Soekarno Hatta Bangka Belitung dr Liyah 

BANGKAPOS.COM, BANGKA  - Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Ir Soekarno Hatta Bangka Belitung, dr Liyah Giovana SpP menerangkan mengenai virus corona jenis baru (2019-nCoV) secara medis yang menghebohkan dunia saat ini.

Dia mengatakan, Virus Corona sudah lama ada dan ber-ordo Nidovirales dengan famili Coronavirinae.

Virus ini pun bersifat zoonosis artinya menginfeksi dan berada di dalam tubuh hewan.

"Virus ini hidup pada hewan, tetapi untuk jenis terbaru ini berbeda (2019-nCoV). Corona sudah lama ada sebenarnya dulu ada juga dikenal dengan MERS terdapat pada unta, kemudian SARS terdapat pada kelelawar. Ketika diteliti Corona virus terbaru ini hampir mirip dengan SARS tetapi berbeda," jelas dr Liyah saat dikonfirmasi bangkapos.com, Senin (10/2/2020).

Stok di Bangka Belitung Mencapai 467.950 lembar, Warga Diminta Jangan Panik Cari Masker

Stok Masker Banyak Kosong di Sejumlah Apotek Pangkalpinang, Dinkes : Tersedia di Loket Puskesmas

Srinarti Diduga Mengantuk, Avanza Seruduk Mobil dan Motor Lalu Hantam Pagar Warung

"Kenapa berbeda, diduga awalnya virus corona pada kelelawar (SARS) ini dimakan oleh ular. Sehingga virus tersebut di dalam badan ular terjadi mutasi DNA, berubah jenis menjadi nCov. Penularan awal dari hewan kepada manusia, ular tersebut dikonsumsi oleh manusia," lanjutnya.

Informasi terbaru, ia mengatakan penularan bukan lagi dari hewan kepada manusia melainkan manusia kepada manusia (human to human).

"Mengenai inkubasi virus corona itu selama 2 - 14 hari. Bila seseorang terpapar virus tersebut maka bia dideteksi setelah masa inkubasi virus tersebut," ungkapnya.

dr Liyah juga mengatakan virus corona yang menginfeksi paru-paru (pneumonia), lebih tepatnya menginfeksi dibagian parenkim paru-paru.

"Sehingga dia menyebabkan pneumonia, selain itu pneumonia juga bisa disebabkan oleh bakteri dan jamur. Sebenarnya bila penyakit yang disebabkan virus bisa self-limiting disease, artinya dapat sembuh dengan sendirinya sesuai dengan daya tahan tubuh kita" jelasnya.

Bedanya pneumonia biasa dengan pneumonia terinfeksi virus corona ini ditinjau dari pasien ada gejala (batuk, flu, sesak nafas, demam), ada riwayat bepergian ke negara yang terkonfirmasi ada kasus corona, dan ada kontak dengan penderita terjangkit virus corona.

"Ada dua juga dikategorikan meliputi pengawasan dan pemantauan. Kalau pengawasan ada gejala, riwayat bepergian dan kontak dengan penderita corona, serta ada pneumonia. Antisipasi dengan perawatan dan isolasi bagi penderita yang dikatakan positif terserang virus corona. Bila tidak ada pneumonia hanya dipantau saja sampai masa inkubasi," beber dr Liyah

Selain itu, disinggung mengenai pemakaian masker untuk mencegah terjangkit virus corona, ia mengatakan diperbolehkan akan tetapi yang paling penting dalam mencegahnya dengan pola hidup sehat.

"Boleh-boleh saja gunakan masker, memang baik sebagai langkah pencegahan akan tetapi jangan terlalu berlebihan yang paling penting saya sarankan pola hidup sehat, makan teratur, tidur teratur, sering cuci tangan, sering olahraga, hindari makan daging mentah, dan jangan merokok agar menjaga antibodi tetap baik sehingga tidak mudah tertular virus penyakit,"ujarnya. (Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Editor: Dedy Qurniawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved