Berita Pangkalpinang

Kepala Sekolah Ini Rela Rogoh Tabungan Pribadi, Buat Talangi Keterlambatan Dana BOS

Bahiro kerap kali menggunakan dana pribadi miliknya untuk kebutuhan sekolah dan membayar upah honere disekolahnya setiap tahun.

Kepala Sekolah Ini Rela Rogoh Tabungan Pribadi, Buat Talangi Keterlambatan Dana BOS
Bangkapos/Andini Dwi Hasanah
Bahiro, Kepala Sekolah SMPN 5 PangkalpinangĀ  

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) kerap kali datang telat tak sesuai jadwal yang semestinya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengaku sering mendapat curhat kepala sekolah dan guru yang tak punya dana cukup untuk biaya operasional sekolah.

Hal tersebut juga dialami oleh Bahiro Kepala sekolah SMPN 5 Pangkalpinang.

Dia mengaku,  dirinya kerap kali menggunakan dana pribadi miliknya untuk kebutuhan sekolah dan membayar upah honere di sekolahnya setiap tahun.

"Dari pada kegiatan sekolah terhabat, anak-anak tidak bisa melakukan kegiatan saya tidak apa-apa pakai dana saya terlebih dahulu, selama masih bisa saling mengisi tidak apa-apa  pengorbanan untuk sekolah," ujar Bahiro saat ditemui Bangkapos.com di SMPN 5 Pangkalpinang, Selasa (11/02/2020)

Dia mengatakan, kekosongan dana BOS biasa Dia rasakan pada bulan-bulan pertama awal tahun seperti Januari-Maret.

"Kalau bulan-bulan seperti itu kadang suka banyak kegiatan kan, anak-anak banyak yang ikut lomba, persiapan mengjadapi UN, dari pada terhabat saya gunakan dulu tabungan pribadi saya, kebetulan saya juga sudah tidak ada tanggungan lagi," ucapnyah

Sementara itu Dia mengatakan, dan BOS yang di daptkan pihak sekolahnya tidak pernah telat begitu lama, jika telat pun hanya telat tanggal nya saja, namun Dia sering merasa kewalahan setiap awal tahun saja.

"Karena kekosongan dana pada bulan-bulan segitu, apalagi kadang tenaga pengajar honorer setiap Januari gajinya sering telat dari dana APBD jadi terpakasa harus saya yang bayar dulu, koordinasi dengan koperasi sekolah," tuturnya

Dia pun berharap agar dana rehap dan dana kegiatan dapat ditingkatkan, apalagi dirinya merasa kebingungan di tahun 2020 50 persen dari dana BOS bisa digunakan untuk membayar tenaga pengajar honor.

"Kalau sudah 50 persennya bisa untuk membayar upah honorer mana lagi untuk kebutuhan dan kegiatan sekolah, pasti untuk oprasional nantinya akan tersisih dan tidak berimbang," jelasnya. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Penulis: Andini Dwi Hasanah
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved