Berita

Kasi P2PM Dinkes Pangkalpinang Harap Masyarakat Tidak Cepat Katakan DBD Sebelum Ada Keterangan Resmi

Menurut dia, seseorang baru bisa dikatakan DBD apabila ada keterangan resmi dari dokter atau pihak Puskesmas yang berwenang.

Kasi P2PM Dinkes Pangkalpinang Harap Masyarakat Tidak Cepat Katakan DBD Sebelum Ada Keterangan Resmi
bangkapos.com / Suhardi Wiranata
Kasi Pencegahan, Pengendalian, Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang Nuroll Hety Baro 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kasie Pencegahan, Pengendalian, Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang Nuroll Hety Baro berharap masyarakat yang menemukan kasus penderita demam tinggi untuk tidak cepat menyimpulkan bahwa kasus tersebut adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).

Menurut dia, seseorang baru bisa dikatakan DBD apabila ada keterangan resmi dari dokter atau pihak Puskesmas yang berwenang.

Saat ditemui bangkapos di Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang, Rabu (12/02/20), Nuroll menyebutkan, dari hasil laporan masyarakat langsung ke Dinkes Kota Pangkalpinang, beberapa kasus yang diduga DBD ternyata hanya demam dengue (DD).

"Dari beberapa kasus yang kami temukan atas laporan masyarakat, Awalnya disangka DBD, ternyata setelah kami konfirmasi dan kami periksa langsung di rumah sakit ternyata DD," ujar Nuroll saat ditanyai bangkapos.com berada di ruangannya, Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang.

Dia juga menyayangkan jika sampai masyarakat khawatir dengan isu-isu yang berkembang dan belum tentu kebenarannya.

"Kita khawatirlah, apalagi orang terdekat kita yang kena DBD. Hanya saja kita harus periksa dulu kebenarannya, apakah itu benar-benar DBD atau hanya demam tinggi biasa," lanjutnya.

Pemkot Targetkan Dua Bulan untuk Penutupan Lokalisasi , Molen : Saya Enggak Main-main

Film Milea: Suara dari Dilan Tayang Perdana Besok, Berikut Lokasi dan Waktu Penayangannya di Babel

Beberapa Titik Sudah Di-fogging

Selain itu Nuroll mengatakan, sesuai laporan kasus DBD dari rumah sakit dan puskesmas yang telah melakukan pemeriksaan epidemiologi (PE), ada beberapa titik yang sudah difogging seperti di rumah Dinas Kapolres, Rumah Dandim, kejari dan Perumahan Kampak.

"dari laporan PE rumah sakit dan puskesmas wilayah setempat kami melakukan pemoggingan di Rumdin Kapolres, Rumah Dandim, kejari dan Perumahan Kampak,"kata Norell.

Berdasarkan prosedur dari Kemenkes, Norell mengatakan, mereka hanya bisa menyasar suatu wilayah setelah terdiagnosa ada warga yang menderita penyakit DBD dan di sekitar rumah penderita DBD ditemukan tiga penderita demam dalam radius 100 meter.

“Jika memang teridentifikasi adanya nyamuk Aedes Aedypti dan larva atau jentik nyamuk DBD. Jika ditemukan minimal 5 persen rumah tangga yang ada di wilayah tersebut, di radius 100 meter lokasi penderita positif ada nyamuk dan jentiknya maka itu bisa dilakukan fogging fokus yang dibiayai pemerintah, “ Ungkpanya.

Daripada fogging, Nurollmengatakan, pihak Dinkes Kota Pangkalpinang lebih menekankan kepada Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), sebab fogging hanya bisa membunuh indukan nyamuk DBD, tidak bisa menjangkau bibit jentik yang ada di genangan air. (Bangkapos.com/ Suhardi Wiranata)

Penulis: Suhardi Wiranata
Editor: Dedy Qurniawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved