Berita Pangkalpinang

Pemkot Pangkalpinang Masih Pikirkan Design Penataan Pasar

Agung menuturkan, hampir seluruh pasar memiliki permasalahan penataan dan menyebabkan kesemrawutan.

Pemkot Pangkalpinang Masih Pikirkan Design Penataan Pasar
bangkapos.com / Ira Kurniati
Kepala Bappeda Pangkalpinang, Agung Yubi Utama 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kepala Bappeda Kota Pangkalpinang Agung Yubi Utama mengatakan, penataan kawasan pasar yang meliputi pasar pagi maupun kawasan BTC (Bangka Trade Center), sedang dalam tahap merancang konsep dan solusi penempatan pedagang agar lebih rapi.

Agung menuturkan, hampir seluruh pasar memiliki permasalahan penataan dan menyebabkan kesemrawutan.

Namun untuk mengubah wajah pasar menjadi lebih menarik, dibutuhkan perencanaan matang dan grand design yang tepat.

Terutama untuk merelokasi ataupun merancang keseluruhan kawasan.

"untum saat ini kita sedang kaji dan cari solusinya mau seperti apa. Untuk design belum ada, perencanaan inu harus matang karena jangan sampai mereka panik. Apalagi ketika disuruh penataan dan pemindahan namun belum ada lokasi strategis sehingga baru kami cari alternatif dan solusi-solusinya," kata Agung, Rabu (12/2/2020).

Pedagang Kios Pasar Atrium Minta Pemerintah Kota Lebih Tegas Sikapi Pedagang Kaki Lima

Lebih dari Setengah Badan Jalan Pasar Depan Atrium Pangkalpinang Digunakan Pedagang Kaki Lima

Menurutnya, kawasan BTC akan lebih dulu dilakukan pembenahan karena lokasi tersebut dinilai menjadi kawasan atraktif dan potensi besar untuk meningkatkan pendapatan asli daerah.

Agung menuturkan, Pemerintah Kota Pangkalpinang menargetkan ditahun 2021 pengeerjaan penataan ini sudah dilakukan, sembari mencari design yang tepat.

Kemudian pada 2022 diharapkan telah terbentuk pasar yang modern dan rapi.

Lanjut, untuk merenovasi pasar tentu membutuhkan anggaran yang besar berkisar puluhan miliar. Agung menyebut, pembenahan pasar harus didukung seluruh elemen karena kerapian tersebut mencerminkan keindahan kota.

Menurutnya, kesulitan penataan pasar karena budaya dan kebiasaan yang dilakukan pedagang dan pembeli, cenderung ingin simple dan mudah sehingga ketika ditempatkan di lapak-lapak yang tersedia, mereka menolak karena menganggap lebih efektif ketika berada di tepi jalan dan mudah dijangkau pembeli.

Untuk itu, dia mengatakan, seusai pembenahan dan penambahan infrastruktur di pasar, budaya dan kebiasaan ini diharapkan dapat luntur agar apa yang telah dibangun dapat terjaga keindahannya. (bangkapos.com/irakurniati)

Penulis: Ira Kurniati
Editor: Dedy Qurniawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved