Berita Pangkalpinang

Begini Tanggapan Para Kepala Sekolah Terkait 50 Persen Dana BOS 2020 Boleh Dibayarkan Guru Honor

sisa 15 persen untuk kegiatan siswa tesebut dirasa tidak cukup, sebab kebutuhan siswa jadi terpangkas.

Begini Tanggapan Para Kepala Sekolah Terkait 50 Persen Dana BOS 2020 Boleh Dibayarkan Guru Honor
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Ristina Kepala sekolah SMPN 1 Pangkalpinang 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Pada tahun 2020 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim menaikkan porsi alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk gaji guru honorer.

Dengan alokasinya bisa mencapai 50 persen dari dana BOS. Namun ada beberapa Kepala Sekolah yang sedikit keberatan dengan peraturan baru tahun 2020 tersebut.

Seperti Bahiro Kepala sekolah SMPN 5 Pangkalpinang ini menurutnya, alokasi 50 persen dana BOS untuk gaji honorer pihaknya sedikit keberatan, sebab 50 persen sisanya untuk kebutuhan siswa jadi terpangkas.

"50 persen untuk gaji honorer berarti sisanya untuk kebutuhan sekolah dan siswa, bayangkan saja 20 persennya untuk buku paket, 10 persen untuk pemeliharaan, 5 persen untuk perpustakaan, tinggal 15 persen untuk kegiatan siswa," ungkapnya saat ditemui Bangkapos.com, Kamis (13/02/2020)

Menurutnya, sisa 15 persen untuk kegiatan siswa tesebut dirasa tidak cukup, sebab kebutuhan siswa jadi terpangkas.

"Kegiatan itu ada ujian, ada ulangan semester, ada lomba FL2SN, ada pelatihan untuk guru, dan banyak lagi yang lainnya, ya tidak mencukupi lah kalo tinggal segitu," tuturnya

Dia mengatakan, dirinya lebih sependapat dengan usulan dari Mendikbud yang lama bahwa dana BOS itu dimakasimalkan untuk oprasional sekolah dan untuk honorer dibebankan kepada daerah.

"Karena kalau sudah 50 persen untuk honorer maka kegiatan akan tergusur kalau tidak mendapat bantuan dari BOS daerah, pasti nantinya akan kwalahan," ujarnya

Sementara itu, Ristina Kepala sekolah SMPN 1 Pangkalpinang berpendapat berbeda dengan Bahiro, menurutnya, alokasi dana BOS tahun 2020 dengan 50 persennya untuk gaji guru honorer dirinya tidak merasa keberatan.

"Saya kira sebelum peraturan ini ditetapkan Mendikbud sudah terlebih dahulu mengkaji ini secara luar biasa, tentu mereka juga sudah menganalisis ini, makanya terjadi perubahan seperti ini, dan saya tidak merasa keberatan," ungkap Ristina kepada Bangkapos.com.

Halaman
12
Penulis: Andini Dwi Hasanah
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved