Berita Pangkalpinang

Royalti Timah Hanya Rp 528 Milyar, Plt Kadis ESDM Sebut Belum Cukup Membantu Perekonomian Babel

Trend Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Timah, dari tahun 2015 hingga 2019 mengalami naik turun dengan hitungan tiga persen

Royalti Timah Hanya Rp 528 Milyar, Plt Kadis ESDM Sebut Belum Cukup Membantu Perekonomian Babel
Bangkapos/Riki Pratama 
Plt Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Provinsi Bangka Belitung, Supianto. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA --Plt Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Provinsi Bangka Belitung, Supianto, menjelaskan terkait royalti yang diterima Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dari hasil tambang timah, belum begitu membantu perekonomian di Provinsi Bangka Belitung saat ini.

Ia menjelaskan berdasarkan trend Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Timah, dari tahun 2015 hingga 2019 mengalami naik turun dengan hitungan tiga persen dari harga jual dan total produksi.

"Data dari total nilai PNBP, iuran royalti di hitung berdasarkan nilai sebesar tiga persen dari harga jual dan total produksi, jadi nilai tiga persen dihitung pendapatan nilai royalti pada 2019 sebesar Rp 528.298.786.480,"ungkap Plt Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Supianto, kepada wartawan di tempat kerjanya, Kamis (13/2/2020).

Dengan pendapatan royalti tersebut, Supianto mengatakan belum optimal membantu bila dihitung berdasarkan neraca sumber daya alam yang telah banyak rusak.

"Kita kedepanya dengan total royalti di terima itu belum optimal. Harus ada upaya nilai royalti ditingkatkan, dasar ini menghitung berdasarkan neraca sumber daya alam, itu kreteria cukup banyak kerusakan lingkungan aspek sosial dan nilai potensi cadangan dan lain sebagainya,"ungkapnya.

Menurutnya, sudah saatnya Pemerintah pusat membuka ruang, untuk meningkatkan royalti yang diterima Pemprov Babel, agar bisa naik, bukan hanya di tiga persen namun naik minimal 10 persen.

"Dari angka royalti diterima kita juga mencoba merumuskan nilai royalti memang betul-betul berasaz manfaat, supaya stabil ekonomi dan sisi kesejahteraan di masyarakat, mengurangi angka kemiskinam dan peningkatakan kualitas lingkungan sehingga royalti diterima dan betul betul baik manfaatnya,"lanjutnya.

Supianto menjelaskan berdasarkan data penerimaan royalti, dari 2015 hingga 2019 mengalami naik dan turun.

"Berdasarkan data 2015 ,2016, 2018 dan 2019 tren naik dan turun, disebabkan oleh beberapa faktor pertama jumlah produksi dihasilkan, kedua dipengaruhi adanya fluktuasi harga komuditas timah di Internasionalkan mengalami penurunan,"katanya.

"Bila dibandingkan royalti 2015 sampai 2019. Nah, 2015 ke 2017 mengalami peningkatakan, sementara 2017 ke 2018 meningkat, 2018 ke 2019 menurun, penurunan setelah kami telaah adanya tren produksi timah yang berasal Provinsi Babel produksinya menurun,"tuturnya.

Halaman
12
Penulis: Riki Pratama
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved