Tertibkan Kawasan Pasar Ratu Tunggal

Pedagang Setor Rp 200 Ribu per Bulan ke Preman Pasar

Preman pasar diduga berada di balik kesemerawutan Pasar Pangkalpinang yang mengakibatkan Jalan RE Martadinata, Pangkalpinang dipenuhi pedagang

Pedagang Setor Rp 200 Ribu per Bulan ke Preman Pasar
Bangkapos.com / Andini Dwi Hasanah
SEMERAWUT - Suasana pasar depan atrium Kota Pangkalpinang, Rabu (12/2/2020). Tidak tertatanya pasar ini juga merembet ke lokasi lain, termasuk ke Jalan RE Martadinata yang mulai dipenuhi dengan pedagang yang menggunakan trotoar untuk menggelar lapak. 

Pedagang Setor Rp 200 Ribu ke Preman Pasar

BANGKAPOS, PANGKALPINANG - Preman pasar diduga berada di balik kesemerawutan Pasar Pangkalpinang yang mengakibatkan Jalan RE Martadinata, Pangkalpinang dipenuhi pedagang.

Dugaan ini semakin kuat lantaran sudah 30 tahun kesemerawutan di pasar ini tak juga terurai. Selama itu, selama 30 tahun berjalan, Pemkot Pangkalpinang juga seakan tak berdaya menata Pasar Kota ini.

Dari pantauan Bangka Pos, pedagang baju dadakan di Jalan RE Martadinata atau tidak jauh dari pasar burung kota Pangkalpinang semakin hari semakin memenuhi trotoar di pinggir jalan menuju kampung opas kota Pangkalpinang, yang selama ini kurang menjadi perhatian pemerintah.

Satu diantara pedagang dadakan yang sengaja namanya dirahasikan menyebutkan, dirinya telah berjualan di trotoar Jalan RE Martadinata tersebut sejak tiga tahun yang lalu.

Sudah Tiga Puluh Tahun Pasar Kota Dibiarkan Semrawut

Parkir di Badan Jalan Pasar Juga Terkait Tibum, Rio Setiady Nilai Penegak Perda Belum Maksimal

"Awalnya jualan baju ke kampung-kampung. Pindah ke sini sejak tiga tahun yang lalu dan tidak pernah ada yang mau ngusir," ungkapnya.

Ia mengaku, untuk menjamin lapak usahanya tetap beroperasi, ia menyetor uang sebesar Rp 200 ribu setiap bulan ke pihak yang mengaku bisa memberikan jaminan lapaknya tak digusur.

"Hanya bayar lewat preman-preman sebesar Rp 200 ribu perbulannya. Kalau ke pemerintah tidak ada selama ini. Yang jelas, kami juga sering lho tidak ada pembeli sama sekali,” ucapnya.

Dia mengatakan, terpaksa harus berjualan di trotoar tersebut sebab dirinya tak sanggup jika harus membayar uang sewa yang mahal di kios-kios.

"Mana lah sanggup kita kalau harus bayar perbulan mahal di kios BTC itu kan misalnya, kalau di sini kan tidak bayar, lumayan hasinya bisa untuk yang lain," tuturnya.

Halaman
12
Penulis: Andini Dwi Hasanah
Editor: ibnu Taufik juwariyanto
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved