PROFIL

Pernah Jadi Atlet Badminton, Widati Amalin Ulfah Bangga Menjadi Dosen Olahraga

Mayoritas mahasiswanya laki-laki lah membuat dia semakin paham mengenai karakter banyak orang dan cara memperlakukannya.

ist
Widati Amalin Ulfah 

BERKAT ketekunan dan kemandirian lah yang mengantarkan Widati Amalin Ulfah, hingga menjadi seorang dosen pendidikan olahraga (PJKR). Merantau dari kampung halamannya di Yogyakarta pada tahun 2013 silam, membuat Ulfah, panggilan akrabnya, sudah merasakan jatuh bangunnya menjadi perantau.

Namun karena tekad dan nilai-nilai yang ditanamkan orang tuanya dulu, Ulfah ternyata mampu memulai kehidupan dari nol hingga mencapai karirnya saat ini.

Berbekal ilmu pendidikan Strata 1 Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta, Ulfah merantau ke Bangka dan melamar jadi dosen olahraga di STIKP Muhammadiyah. Karena peraturan kementerian yang mengharuskan dosen berpendidikan S2, dia akhirnya melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Jakarta.

Menjadi dosen awalnya bukan lah keinginan dan cita-cita Ulfah. Bahkan semasa sekolah, dia hanya ingin menjadi pegawai kantor atau karyawan bank biasa. Namun orang tuanya lah yang meminta dia menjadi seorang guru atau dosen. Apalagi, dia memiliki keterampilan sebagai atlet badminton.

"Awalnya sempat protes dan menolak ke orang tua. Tapi mereka pengen anaknya jadi guru, dengan pertimbangan-pertimbangan yang menurut mereka dimasa tua lah. Orang tua sudah memikirkan prospek kedepan bagaimana sehingga yaudah saya pun ikut daftar jadi guru. Kebetulan ada bakat atlet jadi lebih memilih ke jurusan olahraga," kata Ulfah.

Rupanya keinginan orang tua dan harapan tersebut rupanya benar. Dia bahkan menjadi seorang dosen tetap dan ketua program didik olahraga di STIKP Muhammadiyah sejak tahun 2017 lalu.

"Ternyata apa yang orang tua bilang dulu banyak terbukti sekarang. Apa saja nasehat dan yang disampaikannya saya alami sekarang," katanya.

Menjadi dosen terutama jurusan olahraga, dimana sedikit sekali perempuan yang berkecimpung di jurusan tersebut, membuat Ulfah tidak memiliki rasa perbedaan. Bahkan karena mayoritas mahasiswanya laki-laki lah membuat dia semakin paham mengenai karakter banyak orang dan cara memperlakukannya.
Dia mengaku tidak mengalami kesulitan dan selalu bahagia menjalani profesinya saat ini.

Ulfah menceritakan, jadi dosen banyak sekali pengalaman dan ilmu-ilmu baru yang diketahuinya karena bersentuhan langsung dengan lapangan dan beragam karakteristik. Hingga mencapai karir sekarang, rupanya dulu ketika menapakkan kaki di Bangka, perjalanan ibu dua anak ini memiliki lika liku.

Dirinya pernah makan dengan daun singkong rebus dan kerupuk, yang membuatnya menangis karena tidak punya uang lagi untuk makan. Apalagi hidupnya bersama suami berada di kost yang kecil dan sempit. Beruntung bekal ilmu dari orang tuanya yang mengajarkan mandiri dan kerja keras diterapkan.

Halaman
12
Penulis: Ira Kurniati
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved