Berita Pangkalpinang

Royalti Timah Tiga Persen Belum Mampu Tingkatkan Perekonomian Bangka Belitung

"Sulit apabila mengandalkan pendapatan royalti yang hanya 3 persen, perlu ada strategi dalam upaya untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian..."

Royalti Timah Tiga Persen Belum Mampu Tingkatkan Perekonomian Bangka Belitung
Bangkapos/Riki Pratama
Wakil Gubernur Provinsi Bangka Belitung, Abdul Fatah. 

BANGKAPOS.COM , BANGKA - Perekonomian Provinsi Bangka Belitung saat ini sedang melambat.

Royalti tiga persen yang diterima Pemprov Babel dari kondisi komoditas timah saat ini dianggap belum mampu untuk meningkatkan perekonomian Bangka Belitung.

Wakil Gubernur Provinsi Bangka Belitung Abdul Fatah, mengatakan, melemahnya perekonomian Babel dikarenakan rendahnya harga beberapa komoditas  yang ada di Bangka Belitung.

Kepada komisaris dan direksi di PT Timah saat ini, dia berharap besar bisa meningkatkan pendapatan untuk Pemerintah Provinsi Babel.

"Melemah perekonomian satu di antaranya karena rendahnya harga komoditas harapan kita saat ini..., perubahan di personalia mulai komisari utama dan Direksi serta tatanan lainya diharapkan terjadi titik perubahan, ada gerakan stategis dibangun untuk mengembalikan harga jual timah dunia dan nasional," ujar Abdul Fatah kepada wartawan, Senin (17/2/2020).

Gubernur Erzaldi Minta Naziarto Cepat Menyesuaikan Diri, Berikut Profil Sekda Kelahiran Kace Itu

Stok Masker di Sejumlah Apotek Pangkalpinang Kosong : Wati Cari untuk Anaknya di Taiwan

Tips Pengembangan Diri : Hal-hal Positif yang Perlu Anda Lakukan di Usia 20 hingga 30 Tahun

Abdul Fatah mengaku tengah menunggu perubahan dan terobosan dilakukan oleh jajaran komisaris dan Direksi PT Timah yang baru.

Mereka diharapkan mampu meningkatkan perekonomian dan pendapatan royalti di Provinsi Babel.

"Sulit apabila mengandalkan pendapatan royalti yang hanya 3 persen, perlu ada strategi dalam upaya untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Bangka Belitung,"ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, Plt Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Provinsi Bangka Belitung, Supianto, menjelaskan royalti yang diterima Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dari hasil tambang timah belum begitu membantu perekonomian di Provinsi Bangka Belitung saat ini.

Ia menjelaskan, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Timah, dari tahun 2015 hingga 2019 mengalami naik turun dengan hitungan tiga persen dari harga jual dan total produksi.

"Data dari total nilai PNBP, iuran royalti dihitung berdasarkan nilai sebesar tiga persen dari harga jual dan total produksi, jadi nilai tiga persen dihitung pendapatan nilai royalti pada 2019 sebesar Rp 528.298.786.480,"ungkap Plt Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Supianto, kepada wartawan di tempat kerjanya.

Dengan pendapatan royalti tersebut, Supianto menilai hal tersebut belum cukup optimal bagi Bangka Belitung. Apalagi bila dihitung berdasarkan neraca sumber daya alam yang telah banyak rusak.

"Kita kedepanya dengan total royalti diterima itu belum optimal. Harus ada upaya agar nilai royalti ditingkatkan, dasar ini menghitung berdasarkan neraca sumber daya alam, itu kreteria cukup banyak kerusakan lingkungan aspek sosial dan nilai potensi cadangan dan lain sebagainya,"ungkapnya. (Bangkapos.com/Riki Pratama)

Penulis: Riki Pratama
Editor: Dedy Qurniawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved