Kesehatan

Jangan Takut Untuk Jatuh cinta, Ternyata Ada Manfaatnya, Mengurangi Stress Hingga Alergi

perubahan pertama dalam aktivitas otak dimulai pada seperlima detik setelah Anda kepincut.

Bangkapos.com
Ilustrasi 

2. Stres berkurang

Saat jatuh cinta dan belum mendapat kepastian, fenomena ini dapat memicu stres.

Dalam penelitian kecil yang terbit di NCBI edisi 2004, tahap awal jatuh cinta meningkatkan kadar kortisol, hormon yang terkait stres.

Namun, studi tersebut mendapati kadar kortisol sudah kembali ke normal saat peserta diuji lagi pada satu sampai dua tahun kemudian.

Sebuah studi yang terbit di Neuroendocrinology Letters edisi 2005 justru menemukan hormon stres tidak kembali dalam jangka panjang.

Dalam kajian tersebut, ahli menemukan hubungan antara sistem respon stres seseorang, yang dikenal sebagai aktivasi Hypothalamic Pituitary Adrenal (HPA-Axis), dengan pengembangan keterikatan sosial.

Hasilnya menunjukkan bahwa membangun ikatan dengan pasangan dapat mengubah fisiologis seseorang dan mengurangi kecemasan.

3. Merasa lebih aman

Menurut laporan Harvard Medical School, oksitosin, hormon yang dilepaskan melalui kontak fisik seperti pelukan, ciuman dan seks memperdalam keterikatan terhadap pasangan, sehingga menghasilkan sensasi kepuasan, ketenangan dan keamanan.

Oksitosin juga berperan dalam ikatan sosial, naluri keibuan, reproduksi dan kenikmatan seksual.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature, hormon ini secara substansi meningkatkan keterikatan dan kepercayaan di antara pasangan.

4. Jantung berdebar

Saat sedang jatuh cinta, tak jarang seseorang akan merasakan jantung berdegup kencang, telapak tangan berkeringat dan terasa ada sesuatu yang aneh di perut.

Saat jatuh cinta, sebenarnya kadar kortisol meningkat tajam dan tubuh mengalami perubahan.

" Otak limbik atau emosional akan mengaktifkan saraf vagus dari otak ke usus Anda," jelas Daniel Amen, psikiater dan ahli saraf kepada NBC News.

"Saat Anda merasa gugup atau merasa senang, saraf ini merangsang usus (untuk bergejolak)," imbuhnya.

5. Lebih bahagia

Jatuh cinta dapat melepaskan dopamine, sebuah neurotransmitter yang mengontrol pusat penghargaan dan kebahagiaan di otak, sehingga membuat seseorang merasa bahagia.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Comparative Neurology memindai 2.500 gambar otak dari 17 orang yang mengaku sedang jatuh cinta.

Hasilnya, saat peserta melihat foto seseorang yang dicintai maka akan terjadi aktivitas otak di dua area yang berkaitan dengan dopamin, yakni nukleus kaudatus dan area tegmental ventral.

6. Mengurangi rasa sakit

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One edisi 2010 mengambil scan FMRI dari partisipan yang baru saja menjalin kasih.

Para peneliti menemukan, peserta yang melihat gambar dari pasangannya menunjukkan adanya peningkatan aktivitas di beberapa daerah pemrosesan hadiah di otak.

Hal ini menunjukkan, cinta dapat mengurangi rasa sakit.

"Saat orang sedang jatuh cinta, ada perubahan signifikan dalam suasana hati mereka yang berdampak pada pengalaman rasa sakit," jelas Sean Mackey, penulis senior studi tersebut.

7. Seperti candu

Seperti halnya zat adiktif yang dapat membuat kecanduan, cinta juga bisa melakukan hal yang sama dengan caranya sendiri.

Para ilmuwan telah mengamati respon neurokimia yang tumpang tindih di area otak yang sama antara pecandu narkoba dan orang yang sedang jatuh cinta.

Dalam laporan yang terbit di jurnal Philosophy, Psychiatry, & Psychology edisi 2017, mengungkap cinta bisa membuat ketagihan.

Cinta merupakan kebutuhan yang dapat dipenuhi sementara tetapi bisa menjadi sangat mengganggu jika tidak dipenuhi untuk jangka panjang. Hal ini pula yang pada akhirnya bisa bermuara pada kecanduan seks. (Bangkapos.com/Nordin)

Penulis: Muhammad Noordin
Editor: Evan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved