Berita Sungailiat

Kasus DBD di Kabupaten Bangka Mengkhawatirkan, Dinkes Beri Tau Cara Mengatasainya

jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bangka pada Januari 2020 ada 22 orang penderita.

Kasus DBD di Kabupaten Bangka Mengkhawatirkan, Dinkes Beri Tau Cara Mengatasainya
bangkapos.com/Edwardi
Boy Yandra, Ketua Hakli Kabupaten Bangka 

BANGKAPOS.COM, BANGKA  -- Ketua Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (Hakli) Kabupaten Bangka, Boy Yandra mengungkapkan berdasarkan data Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan ( P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bangka mencatat jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bangka pada Januari 2020 ada 22 orang penderita.

Sementara jumlah penderita DBD di Kabupaten Bangka sepanjang 2019 hanya ada 40 orang penderita, sehingga hal ini cukup mengkhawatirkan dan perlu diperhatikan cara mengatasinya.

"Menyikapi musim penghujan pada saat ini dan sudah adanya 22 kasus DBD mendera masyarakat Bangka di Januari
2020. Kasus di tahun sebelumnya 2019 ada 40 kasus.," kata Boy Yandra, Rabu (19/02/2020) di Kantornya.

Melihat keadaan seperti ini Hakli Kabupaten Bangka mempunyai inisiatif untuk bersinergi dengan Dinkes Bangka dalam menangani dan berupaya mengatasi kejadian DBD di Kabupaten Bangka dengan melakukan penyuluhan dan sosialisasi.

"Sosialisasi mengenai DBD ini bertujuan agar masyarakat paham dan tahu penyebab penyakit DBD, upaya yang dilakukan, dan cara mengatasinya," ujar Boy Yandra.

Penularan penyakit DBD melalui gigitan nyamuk Aides Aygipti yang mengigit orang sehat setelah itu orang sehat akan menderita sakit dengan gejala awal demam berdarah dengue antara lain, demam tinggi mendadak berlangsung sepanjang hari, nyeri kepala, nyeri saat menggerakan bola mata dan nyeri punggung, kadang disertai adanya tanda-tanda perdarahan.

"Pada kasus yang lebih berat dapat menimbulkan nyeri ulu hati, perdarahan saluran cerna, syok, hingga kematian," ungkap Boy Yandra.

Dilanjutkannya masa inkubasi demam berdarah terjadi 3-14 hari tetapi pada umumnya 4 -7 hari, memastikan dia berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.

Beberapa upaya yang dilakukan bila ada pasien dinyatakan positif :

1. Petugas Puskesmas akan melakukan Penyelidikan Epidemilogi (PE) dengan ketentuan 20 rumah sekeliling diperiksa, anak umur di bawah 5 tahun dan kalau diketemukan panas/demam 3-5 orang dan bak mandi diketemukan 3-5 jentik, maka tindakan yang dilakukan oleh petugas PE akan merekomendasikan Fogging ke dinkes dan dinkes akan membuat balasan untuk melakukan penamburan abate (gratis) yang ada di puskesmas ke rumah-rumah warga dengan radius 100 meter dari lokus kasus dan diiringi nantinya dengan melakukan fogging.

2. Melakukan 3M plus, menguras bak mandi, menutup penampungan air/tempayan supaya nyamuk tidak bisa bertelur, mengubur ban, kaleng dan menggunakan kelambu.

"Jangan lupa sifat nyamuk Aides aygipti akan mencari makan jam 08.00-11.00 WIB dan jam 15.00-18.00 WIB. Jadi kalau ada anak kita sedang tidur gunakanlah kelambu atau obat nyamuk / repellen," jelas Boy Yandra.

Boy mengajak mari bersama-sama menjaga lingkungan dengan baik seperti selokan jangan dibiarkan tersumbat, gelas minuman dibuang ditempat sampah yang sudah disediakan, dan masyarakat untuk segera membawa pasien ke pelayanan kesehatan seketika bila panas dan meriang terutama bila dialami anak-anak.

"Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa saja, yang lebih penting membunuh jentik dengan cara menguras bak mandi sebelum 1 minggu, kalau airnya sulit maka beri abate serta bersihkan selokan," ungkap Boy Yandra.

(Bangkapos.com/Edwardi)

Penulis: edwardi
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved