Kriminalitas

Sidang Lanjutan Tipikor PJU Hadirkan Dua Saksi Ahli, Ini Kata PH Terdakwa Suranto

Siadang korupsi PJU hadirkan dua orang saksi ahli yakni, ahli elektro dari Fakultas Teknik UBB dan Asmar serta Boyke Syafril sebagai auditor BPKP.

Sidang Lanjutan Tipikor PJU Hadirkan Dua Saksi Ahli, Ini Kata PH Terdakwa Suranto
Bangkapos.com/Ramandha
Sidang lanjutan Tipikor Penerangan Jalan Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Pangkalpinang 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Penasihat hukum terdakwa Suranto Wibowo, yang terjerat perkara tindak pidana korupsi (Tipikor) Penerangan Jalan Umum (PJU) Sollar Cell di Belitung dan Belitung Timur (Beltim), Lauren Harianja, sempat mempertanyakan kemampuan saksi ahli yang dihadirkan dalam sidang lanjutan perkara tersebut.

Kasus Tipikor yang melibatkan mantan Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bangka Belitung (Babel) ini, pada Selasa (18/2/2020) kemarin, diketahui menghadirkan dua orang saksi ahli yakni, ahli elektro dari Fakultas Teknik Universitas Bangka Belitung (UBB), Asmar serta Boyke Syafril sebagai auditor Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Menurut Lauren, kehadiran para saksi di dalam sidang kemarin, sangat tidak tegas. Saksi ahli juga tidak bisa menjelaskan spesifikasi serta detail kesalahan tudingan dari JPU.

"Tidak detail dia. Saksi itu juga tidak bisa menjelaskan detail spek perlengkapan dan kerugian negara. Masalah spesifikasi yang mereka (jaksa) permasalahkan juga tidak ada melibatkan hasil lab," ungkap Lauren kepada Bangkapos.com, Rabu (19/2/2020).

"Itu kan lucu, melihat kami sebelumnya sudah mengungkapkan hasil lab perihal spek barang. Kita bawa hasilnya di sidang sebelumnya. Tidak ada masalah di situ," lanjutnya.

Tidak hanya itu, terkait persoalan lain tentang kerugian negara sendiri, yang menghadirkan saksi ahli dari BPKP juga tidak dapat membuat pernyataan jelas.

Saksi ahli yang merupakan auditor BPKP itu, dikatakan Lauren, sempat ditanyakan terkait tindakan dalam kasus ini apakah merupakan perbuatan melawan hukum, namun, saksi menjawab tidak tahu.

"Kita tanya juga dalam persidangan, apakah ada unsur kelalaian di dalam kasus ini, dia juga jawab tidak tahu. Untuk penghitungan soal barang yang dibeli dengan jumlah Rp 2,5 Miliar, itu berarti ada sekitar Rp 500 Juta yang tidak diakui," ungkap Lauren.

Sementara itu, untuk besaran pajak dari barang yang dibeli, dinilainya, sudah dibayarkan sebesar Rp 200 jutaan.

"Artinya kan itu sah-sah saja. Pajaknya sudah dibayar kok," tegas Lauren.

PH Terdakwa Suranto, Lauren Harianja saat menunjukan hasil lab (fto/Ramandha)
PH Terdakwa Suranto, Lauren Harianja saat menunjukan hasil lab (fto/Ramandha) (Bangkapos.com/Ramandha)

Sementara itu, Saksi Boyke ketika ditemui Bangkapos.com menceritakan bahwa dalam perkara tersebut, dia tidak dapat menyimpulkan adanya kerugian negara seperti yang diinginkan pihak Kejaksaan Tinggi Babel sebelumnya, karena Sollar Cell yang sudah terpasang dan berfungsi dengan baik.

Mengenai fungsi barang (Sollar Cell) ini, Boyke juga mengakui pihaknya sudah turun ke lapangan dan melihat sudah terpasang.

"Kita melihat barangnya sudah berfungsi. Sepanjang kita lihat bersama penyidik waktu itu, sudah menyala dan bermanfaat," jelas Boyke.

Mengenai penyimpangan di lapangan selama pengerjaan proyek PJU berupa pihak pelaksana yang seharusnya pihak pemenang lelang yakni PT Nicko Pratama Mandiri dan bertindak sebagai direktur adalah Terdakwa Hidayat, yang kemudian pelaksanaan dilakukan oleh Terdakwa Candra, dikatakannya, berarti yang mengatur proyek adalah Terdakwa Candra bukan Hidayat.

"Yang melaksanakannya si Candra, bukan Hidayat. Jadi yang digunakan P-nya saja. Kalau masalah siapa yang salah dalam hal ini, biar hakim saja yang putuskan. Bukan saya. Kita tidak punya kewenangan untuk itu," pungkasnya. (Bangkapos.com/Ramandha)

Penulis: Ramandha
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved