Kesehatan

Ini Penjelasan dr Rika Mengenai Stunting Pada Anak dan Begini Pencegahannya.

Stunting bisa menyebabkan hambatan perkembangan, penurunan fungsi kekebalan, dan penurunan fungsi kognitif pada anak.

Ist/dr Rika)
Dokter umum sekaligus asisten dokter anak Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkalpinang, dr Rika Maulida 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dokter umum sekaligus asisten dokter anak Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Pangkalpinang, dr Rika Maulida menjelaskan mengenai stunting pada anak.

"Stunting adalah tinggi badan anak (0-59 bulan) kurang dari -2 SD (stunting sedang dan stunting berat) dan kurang dari -3 SD (stunting berat) menurut grafik tinggi badan menurut usia yang dikeluarkan WHO,"kata dr Rika saat dikonfirmasi bangkapos.com, Jumat (28/2/2020).

Untuk menentukannya, diukur dahulu tinggi badan anak, kemudian hasil yang diperoleh di plot ke dalam grafik tinggi badan menurut usia WHO.

Grafik tinggi badan menurut usia WHO ini ada di buku KMS atau buku pink yang biasanya didapat setiap bayi atau balita yang kontrol atau imuniasi ke posyandu atau puskesmas.

"Stunting diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis selama 1000 hari pertama kehidupan anak yang dimulai dari ibu hamil sampai anak berusia 2 tahun," katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan stunting menyebabkan hambatan perkembangan, penurunan fungsi kekebalan, dan penurunan fungsi kognitif pada anak.

*Pencegahan Stunting*

Dokter Rika juga menjelaskan mengenai pencegahan stunting dengan pemberian makan bayi yang benar untuk mencegah malnutri di 1000 hari pertama kehidupan.

Rekomendasi pemberian makan bayi yang benar menurut WHO

1. Inisiasi menyusui dini < 1 jam setelah bayi lahir
2. Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama 6 bulan
3. Makanan pendamping ASI paling lambat usia 6 bulan sambil melanjutkan pemberian ASI
4. Berikan makanan pendamping ASI denga tepat waktu, kandungan nutrisi cukup dan seimbang baik makro maupun mikro, aman dan diberikan dengan cara yang benar.

"Pencegahan yang lain dari stunting adalah deteksi dini dari malnutrisi. Cara yang bisa ibu-ibu lakukan adalah rajin menimbang dan mengukur tinggi badan bayi atau balita ke posyandu atau puskesmas 1 bulan sekali," beber dr Rika.

Lebih lanjut ia menyebutkan petugas kesehatan terlatih akan memplot tinggi badan dan berat anak ke grafik yang sesuai di dalam buku KMS.

"Jika bayi atau balita terdeteksi ada resiko ke arah stunting, kurang gizi atau berat badan kurang maka petugas kesehatan di puskesmas akan mmberikan intervensi yang sesuai berupa penyuluhan atau edukasi atau pemberian makanan tambahan ataupun rujukan ke dokter yang lebih ahli untuk penatalaksanaan lebih lanjut,"tuturnya.  (Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved