Berita Pangkalpinang

Ini Penjelasan dan Saran Dosen Sipil UBB Terkait dengan Jembatan Emas yang 'Memakan' Korban

Dosen Tehnik Sipil Universitas Bangka Belitung, Revy Safitri menilai, jembatan memiliki fungsi utama sebagai penghubung

Dok/Revy Safitri
Dosen Tehnik Sipil Universitas Bangka Belitung, Revy Safitri 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Menyikapi  Jembatan Emas yang dinilai belum berfungsi optimal, terbengkalai bahkan baru-baru ini kembali terjadi kecelakaan yang menewaskan beberapa orang, Dosen Tehnik Sipil Universitas Bangka Belitung, Revy Safitri menilai, jembatan memiliki fungsi utama sebagai penghubung dan mempermudah akses.

"Perlu dilakukan evaluasi apakah Jembatan Emas sudah digunakan sebagaimana dengan fungsinya. Bila penggunaannya belum tepat maka perlu dilakukan pengkajian ulang untuk memaksimalkan fungsi Jembatan Emas," ungkap Revy saat dikonfirmasi Bangkapos.com, Selasa (3/2/2020).

Terkait dengan kecelakaan yang baru-baru terjadi, apakah disebabkan kesalahan saat kontruksi, ia mengaku kurang tepat  jika Jembatan Emas dikatakan memakan korban jiwa.
Pasalnyaa penyebab kecelakaan yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa tidak hanya disebabkan oleh konstruksi atau pengelolaan jembatan itu sendiri namun juga bisa disebabkan oleh kelalaian pengendara.

"Oleh karena itu, ketika terjadi kecelakaan di Jembatan Emas perlu dilakukan kajian penyebab kecelakaan, sehingga dapat diketahui secara jelas penyebab terjadinya kecelakaan. Jika kecelakaan terjadi karena kegagalan konstruksi atau sistem pengelolaan maka perlu dilakukan evaluasi sehingga kejadian yang sama tidak terulang," jelas Revy.

Menurutnya, pengelolaan Jembatan Emas yang menggunakan teknologi bascule sehingga jembatan bisa dibuka-tutup harus berbeda pengelolaannya dari jembatan pada umumnya.

"Dalam perencanaan Jembatan Emas seharusnya sudah ada pertimbangan ketika membangun jembatan dengan sistem buka tutup. Pengelolaan Jembatan Emas tentunya berbeda dengan jembatan pada umumnya, hal ini dikarenakan jembatan harus dibuka ketika ada kapal yang melintas kemudian ditutup kembali agar tidak mengganggu lalu lintas kendaraan yang melalui jembatan ini," sebut Revy.

Oleh karena itu, dalam pengelolaannya Jembatan Emas tidak hanya membutuhkan biaya perawatan namun juga membutuhkan biaya operasional.

Dalam sistem operasional jembatan tentu harus ada kajian terlebih dahulu dalam menentukan jadwal operasional jembatan.

Jembatan Emas tidak bisa dibuka setiap waktu, namun pada waktu-waktu tertentu yang disesuaikan dengan kepentingan lalu lintas kapal.

Jadwal operasional yang efektif dapat menekan biaya operasional jembatan ini. Jembatan Emas memiliki peran sebagai penghubung, namun di satu sisi jika sistem operasional jembatan tidak dikelola dengan baik akan berdampak pada biaya operasional yang tinggi.

"Sehingga, perlu adanya koordinasi yang baik antara PU dan KSOP untuk dapat menentukan jadwal buka tutup jembatan untuk menghasilkan jadwal operasional yang efektif," ungkapnya.

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved