Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Anggota Dewan Ini Lokalisasi Teluk Bayur Ditutup, Tapi Tetap Pikirkan Ekonomi Masyarakat

Diharapkan ada penataan untuk kawasan Teluk Bayur, agar tidak menjadi tempat lokalisasi seperti saat ini.

Penulis: Riki Pratama | Editor: Hendra
Bangkapos/Riki Pratama
Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi Bangka Belitung, Ranto Sendhu, 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kawasan lokalisasi berkedok Cafe, yang berada Teluk Bayur Kota Pangkalpinang diminta segera ditutup, oleh anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung.

Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi Bangka Belitung, Ranto Sendhu, menegaskan, kawasan lokalisasi berkedok cafe di Teluk Bayur tersebut harus ditutup, agar kawasan tersebut terbebas dari praktek maksiat dan untuk kepentingan umat.

"Kalan saran saya untuk kepentingan umat ditutup. Ini kalau untuk kepentingan umat, tetapi ditutup kita lihat ekonomi mereka yang bergantung disitu, harus juga dipikirkan, karena ada yang berjual jangan sampai tidak dipikirkan lebih jauh, jangan sampai jadi penyakit di masyarakat, karena mereka perlu mata pencarian, perlu makan untuk hidup,"ungkap Ranto kepada wartawan, di kantor DPRD Babel, Jumat (6/3/2020).

Menurut Ranto setelah di tutupnya lokalisasi teluk bayur, harus dipikirkan pula pemanfaatan lokasi dan pekerja wanita, apakah di pulangkan atau di perdayakan melalui pelatihan.

"Memberikan solusi seperti pelatihan atau dipulangkan ke daerah masing masing, jangan sampai menjadi penyakit masyarakat, nanti lari ke masyarakat, berada di warung remang-remang, jangan sampai efek nanti bila ditutup kita harus mikir itu,"ujarnya

Mereka mengharapkan, ada penataan untuk kawasan Teluk Bayur, agar tidak menjadi tempat lokalisasi seperti saat ini.

"Setuju harus ditata secara rapi jangan kita contoh di Doly Surabaya, sekarang sudah bagus kan, kita harapkan Teluk Bayur menjadi kawasan tata ruang dan hijau, bila perlu di bangun pesantren situ,"ucapnya.

Ia menegaskan bahwa Babel merupakan menganut budaya timur, sehingga harus sopan, bebas dari lokalisasi, berbeda dengan tempat wisata lain seperti Bali dan Lombok.

"Kalau daerah wisata memang, kalau kita beda dengan Bali, kebebasan kita menganut budaya timur harus sopan, harus dibedakan, kalau Bali, Lombok, memang tempat pariwisata, disana bebas, memang ada itunya, untuk memajukan daerahnya,"katanya (Bangkapos/Riki Pratama)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved