CERITA Mahasiswi Korban Pelecehan Seksual Oknum Dosen hingga Nyaris Sentuh Bagian Intim

Kasus ini terus bergulir, sang oknum dosen ditetapkan tersangka hingga kini ditahan oleh Polda Sumbar.

Tribun Timur - Tribunnews.com
Ilustrasi 

Sebelum si dosen tahu T melapor ke Polda, T dan si dosen sempat bertemu.

T mengaku sangat emosi. Saat itu, dirinya dipertemukan oleh pihak sekretaris jurusan.

"Aku klarifikasi, yah dari dia ada pembelaan lah. Akhirnya aku ngejawab terus. Dia berkata, di satu sisi dia udah salah."

"(Katanya) emang gak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini?"

"Oh gak bisa. Pihak kampus harus mengambil tindakan tegas. Kalau nggak, orangtuaku bakalan maju," ujar T.

Awal Pertemuan dengan Dosen

Sebelum kasus ini, T mengaku bertemu dengan si dosen hanya tiga kali.

Pertemuan pertama saat tampil di acara tari di Padang.

Beberapa hari setelah penampilan, pertemuan kedua saat mahasiswa ISI Padang Panjang ke Padang main perkusion.

Saat itu T mengaku sekadar salam saja, antara dosen dan mahasiswa.

"Aku juga heran, kenapa bisa kek gitu. Nah, pertemuan ketiga saat kejadian," ungkap T.

Kronologi Kejadian

Diberitakan sebelumnya, T bercerita, peristiwa itu bermula ketika ia berada di lingkungan kampus pada malam hari saat dirinya tengah sibuk mempersiapkan penampilan tari.

Saat itu, dia sedang berada di loby kampus, bukan di toilet.

“Depan loby lagi prepare teman-teman untuk mau tampil ujian randai. Terus ada si dosen.”

“Dia manggil, ya udah. Namanya dosen tentu kita salamin kan," ujar mahasiswi itu mulai bercerita.

Setelah salam, ia duduk di sebelah dosen tersebut.

Pengakuan T, banyak hal yang mereka ceritakan ketika itu.

"Cerita tentang nilai lah, disuruh itulah, pokoknya tentang nilai aku yang gagal," ucap T.

T menuturkan, saat di loby tersebut banyak orang, namun si dosen mengusir orang-orang tersebut dengan cara meminta mereka untuk bersosialisasi dengan senior-senior di kampus.

"Ketika teman-teman aku datang malah diusir sama dia."

"Oi ang lai kenal samo senior ang tu. Pailah kenalan ang situ dulu ha. (Apakah kalian kenal sama senior itu? Pergilah, kenalan dulu ke sana!)," ucap T menirukan suruhan si dosen kala itu.

Menurut T, ada saja cara si dosen tersebut. Bahkan  tak terbesit olehnya alasan si dosen mengusir teman-temannya.

"Aku gak connect sih dia nyuruh teman-teman aku pergi, kenapa. Ternyata itu maksud dan tujuannya."

"Sampai-sampai betis aku dicubit dengan alasan galigaman (gemas). Terus aku diam,” ujarnya.

Saat itu, sang oknum dosen mengajak korban untuk check in hotel.

“Sampai dia ngajakin check in. Terus aku nanya? Rame-rame Pak? Oh gak, katanya. Berdua aja."

"Kalau berdua sama istri bapak aja. Kata dia, dak lamak lai do. (tak enak lagi)."

Saat itu, si oknum dosen sempat menanyakan tentang pacar korban.

"Terus biasanya kek-kek gitu sama pacar di mana?" kata korban menirupak pertanyaan pelaku.

"Ndak pernah, Pak. Ndak pernah sama sekali," jawab T kepada si dosen.

T menuturkan, walaupun dirinya anak tongkrongan, serta terlepas dari itu, dia juga tak semudah itu untuk melakukan perbuatan bejat tersebut.

"Aku juga gak semudah itu untuk digituin (dilecehkan). Mikirnya jangan terlalu kek gitu lah," ujar T.

Akhirnya, ungkap T, saat itu si dosen minta yang 'panas-panas'. Dia mikir yang panas-panas itu kopi atau teh.

"Ya udah, aku mikirnya itu yang panas-panas kopi atau teh, karena dia udah pernah minta buatin kopi sebelumnya."

"Ada chatnya. Pertama kali dia ngechat itu minta buatin kopi ke jurusan. Makanya buatin yang panas-panas itu kopi lagi."

T memenuhi permintaan si dosen. "Ya udah, Pak. Bisa, Pak," tutur T.

T sudah merasakan firasat kurang mengenakkan kala itu.

"Firasat gak enak, tapi ya mau gimana. Dia minta buatin kopi. Mikirnya masih positif," terang T.

T menyebut, di bawah tangga banyak teman-temannya sedang duduk-duduk.

Namun si dosen menyuruh pergi ke Pendopo untuk persiapan ujian.

Kata T, teman-temannya tersebut menuruti perintah si dosen.

"Namanya dosen yang ngomong. Dia mengatasnamakan dirinya dosen lo, bukan mengatasnamakan dirinya abang-abang atau siapa. Orang patuh lah sama dia," kata T.

Ketika sampai di depan dapur, si dosen bilang mau ke toilet dan T pun menyilakannya.

"Terus saya dipanggil, ke sinilah dulu. Apa Pak? Ke sinilah sebentar. Ngapain, Pak? Sini-sini, kata dia. Lalu aku ditarik langsung ke dalam WC. Terjadilah," ungkap T.

T sempat menepis dengan tangan. Seperti ketika si dosen mau buka baju, ditepis dengan tangan. Lalu, dorong-dorong dengan bahu.

Namun, si dosen tetap memaksa.

"Pokoknya, dia paksa-paksa aku. Aku bilang, jangan, Pak. Jangan, Pak. Aku gak bisa, Pak. Aku  gak pernah sama sekali kek gini. Tolong, Pak. Tolong," ujar T.

"Jangan keras-keras ngomong, terdengar sama orang, kata dia. Tolong Pak, udahlah Pak," ujar T.

Kala itu hal yang terbesit di benaknya hanya berusaha membela diri dari perbuatan pelaku.

Kalau dirinya teriak, ungkap T, dia berpikir bisa saja dibunuh atau dilakukan sesuatu yang tak diinginkan di dalam toilet tersebut.

"Pikiran aku kek gitu, karena perdana aku digituin. Aku takut, aku mikirnya gimana keluar dari situasi itu dalam keadaan selamat."

"Aku bilang: Pak ujian randai mau mulai, Bapak dosennya."

"Tunggu sebentar, tunggu sebentar, kata dia. Dia langsung otak-atik ini dan itu. Bajunya atau apanya, beres-beresin."

T mengulangi lagi ucapannya.

"Pak ujian randai mau mulai, Bapak dosennya."

"Oh iya," kata si dosen, T menirukan.

T buka pintu dan keluar terlebih dahulu.

"Gantung bapak ha. Sakit kepala. Pengin bapak masukin,” kata T menirupak ucapan oknum dosen.

“Apalah Bapak ni. Lalu, aku jawab lihatlah besok, Pak."

T menegaskan, dirinya menjawab "Lihatlah besok Pak” itu karena ingin cepat-cepat keluar dari situasi seperti itu.

Kemudian, dia langsung lari ke bawah.

"Intinya saat di toilet dia sempat meraba-raba aku," ungkap T.

Kembali Bertemu di Parkiran

T mengungkap ia bertemu kembali dengan si dosen.

"Saat di parkiran mobil, ya dia bilang, besok kuliah jam berapa. Aku jawab. Kata dia, pukul 10 temui Bapak. Insyaallah, Pak."

"Dijawabnya, aku suka gayamu, langsung colek dada. Kaget dong," ungkap T.

Dirinya langsung menangis mencari teman dekat dan ketua angkatan. Ia lari ke gerbang depan.

T kemudian tinju-tinju kepala, nepuk-nepuk leher, nampar-nampar mukanya sendiri, sambil mengatakan, "Aku gak pernah diginiin. Gak pernah sama sekali. Tolong, apa yang harus saya lakukan?”

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Pengakuan Mahasiswi Korban Pelecehan Seksual Oknum Dosen PTN di Padang

Editor: ediyusmanto
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved