Berita Belitung

Masih Banyak Buang Air Besar Sembarangan, Kabupaten Belitung Hanya Capai ODF 28,57 Persen

Hanya 14 desa/kelurahan atau 28,57 yang telah ODF (open defecation free) atau tidak buang air besar sembarangan (BABS).

Ocha Alim - Tribun Timur
Toilet Wanita 

BANGKAPOS.COM, BELITUNG  - Berdasarkan data hingga Desember 2019 lalu, dari 49 desa/kelurahan di Kabupaten Belitung baru terdapat 14 desa/kelurahan atau 28,57 yang telah ODF (open defecation free) atau tidak buang air besar sembarangan (BABS).

Dari data tersebut persentase capaian Kabupaten Belitung paling rendah se-Provinsi Bangka Belitung. Bahkan Kecamatan Sijuk belum ada desa yang mencapai ODF di kecamatan.

"Sedangkan Belitung mengusulkan penilaian kabupaten sehat Swasti Saba Wiwerda pada 2021, capaian ODF harus minimal 80 persen," ujar Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung drg. Popy Aprilina, Jumat (13/3/2020).

Menurutnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung berupaya mendorong Puskesmas melalui petugas sanitarian yang ada agar melakukan langkah strategis melalui pemantauan capaian akses sanitasi di wilayah kerjanya. 

Lalu menggerakkan masyarakat dalam peningkatan akses sanitasi agar mengubah perilaku dalam pemberdayaan masyarakat.

Di samping itu, koordinasi dengan pihak terkait perlu dilakukan dalam meningkatkan akses sanitasi. Popy menyebut sebaiknya tiap kepala puskesmas bisa bekerja sama dengan kades atau lurah juga melibatkan lintas sektor karena memang puskesmas tidak mungkin bisa bekerja sendiri.

"Agar mencapai desa ODF, kecamatan ODF dan akhirnya kabupaten ODF, seluruh stakeholder mulai tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten serta seluruh masyarakat harus berkomitmen bersama mewujudkan tidak ada lagi BABS (buang air besar sembarangan) pada 2021," jelas drg. Popy.

ODF erat kaitannya dengan penggunaan air dan sanitasi. Jika tak layak maka dapat menyebabkan penyakit berbasis lingkungan seperti diare, hepatitis, disentri, dan stunting.

Buruknya sanitasi juga berdampak negatif terhadap ekonomi. Alasannya masyarakat harus membayar layanan kesehatan atau kehilangan pendapatan akibat kesehatan yang terganggu.

Penduduk miskin yang tidak memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi yang layak mengorbankan pendapatannya untuk membeli air yang menjadi kebutuhan dasar, hal ini membuat pendapatan untuk memenuhi gizi yang baik menjadi berkurang.

(Posbelitung.co/ Adelina Nurmalitasari) 

Penulis: Adelina Nurmalitasari
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved