Rabu, 29 April 2026

HORIZZON

Bersiap untuk Lockdown

Kita berpikir seolah-olah Tuhan hanya punya satu skenario kematian untuk umatnya, yaitu Corona.

BangkaPos
IBNU TAUFIK Jr / Pimred BANGKA POS GRUP 

KEMATIAN itu pasti . Dan Tuhan tidak pernah kehilangan skenario kematian untuk setiap umatnya.

Bahkan yang paling dekat dengan umat manusia adalah kematian itu sendiri. Kenapa bisa demikian? Karena memang kita tak pernah tahu skenario kematian yang sudah diskenariokan untuk kita.

Hal tersebut tak bisa dipungkiri, apalagi digugat. Tentang kematian seseorang, dan bahkan banyak hal lain bagi orang yang percaya dengan Tuhan, segala sesuatu telah digariskan dan diskenariokan sejak manusia masih dalam kandungan.

Namun belakangan, manusia tampak menjadi congkak dan sombong. Kita menganggap Tuhan kehilangan ke-MAHA-annya dan kita semua berpikir Tuhan menjadi monoton.

Kita berpikir seolah-olah Tuhan hanya punya satu skenario kematian untuk umatnya, yaitu Corona. Kita seperti yakin, menghindari dari virus corona, maka kita akan mampu melawan kuasa Tuhan akan kematian, yang hingga sekarang masih menjadi kuasa-Nya.

Beberapa tulisan pembuka di atas mungkin bisa menjadi diskursus dan perdebatan. Namun itulah situasi yang kita hadapi saat ini. Semua orang dihantui virus corona yang membuat hampir semua orang merasa ketakutan.

Namun dari sudut pandang yang lain, corona adalah bukti kecil bagaimana Tuhan memiliki kuasa tak terbatas atas umat-Nya. Virus kecil dan tak kasat mata itu menjadi momok luar biasa bagi seluruh umat bumi.

Bahkan boleh dikatakan, tanpa harus melihat, tanpa harus merasakan makhluk kecil bernama corona ini, kita semua sudah dilanda kepanikan luar biasa. Semua orang bicara tentang corona dan tak perlu dipungkiri, semua dilanda kecemasan soal ini.

Kita tahu, kepanikan adalah kegagalan kita membangun logika dan rasionalitas. Dan harus diakui, menghadapi corona ini, kita semua menjadi tidak logis dan tidak rasional.

Satu alasan kepana kita menjadi panik sebenarnnya adalah karena kita banyak tahu tentang suatu hal namun tidak utuh. Ini juga patut menjadi catatan kita semua.

Peradaban kita saat ini memungkinkan kita untuk tahu tentang apapun yang terjadi di setiap jengkal belahan dunia dimanapun itu. Ponsel yang ada di tangan kita memungkin kita untuk tahu apa yang terjadi jauh di seberang lautan.

Termasuk corona tentunya. Kita dengan mudah seolah-olah tahu bagaimana corona ini bekerja dalam senyap membunuh umat manusia.

Hari-hari terakhir ini, semua orang berbicara soal corona. Orang selalu ingin update soal ini. Berapa yang sudah kena? Berapa yang mati? Dan terakhir sudah sampai mana virus itu? Sudah sedekat apa itu Corona, makhluk kecil dan tak kasat mata ini dengan kita?

Hari ini kita harus akui, orang yang paling bahagia adalah mereka yang ada di pelosok-pelosok kampung. Mereka yang tanpa internet, tanpa televisi, tanpa listrik barangkali adalah orang-orang yang paling bahagia.

Mereka yang tak pegang ponsel dalam makna tertentu adalah mereka yang tak risau dengan kepanikan yang sedang melanda kita semua.

Lalu apakah mereka tidak dalam posisi terancam? Ah tentu sama saja, yang namanya virus itu cepat menyebar dengan adanya interaksi. Namun bukan soal itu tentu yang perlu didiskusikan.

Saat kepanikan dari corona ini muncul lantaran risiko kematian yang massif, bukankah kita sejak awal meyakini bahwa kematian itu memang dekat dengan kita? Bukankah Tuhan juga masih memiliki 1001 skenario kematian, yang masing-masing orang telah digariskan?

Bahkan, bukankah setiap umat yang hidup ujungnya adalah kematian? Bukankah kematian adalah sesuatu yang pasti. Atau kita semua ingin menjadi Firaun yang mencoba menentang kematian dari Tuhan?

Risiko kematian
Catatan sebelumnya mengupas banyak hal soal corona yang perlu untuk kita diskusikan ulang. Ada data kuantitatif yang tidak perlu kita debat secara kualitatif dan cukup untuk kita pahami saja.

Data Arcgis by John Hopkins CSSE pada Selasa (10/3/2020) pukul 12:00 WIB, virus corona telah menjangkit 112 negara dengan total 114.448 kasus. Kita sengaja memakai data ini, karena data paling update menunjukkan hasil tingkat kesembuhan yang lebih baik.

China Daratan masih menjadi negara dengan kasus corona terbanyak, yakni 80.754 kasus terkonfirmasi, dengan 3.136 kasus kematian dan 59.885 kasus yang berhasil sembuh.

Dari angka angka tersebut, dapat disampaikan dengan cara berbeda dan lebih membantu membangkitkan logika adalah, dari seluruh kasus yang terjadi di Tiongkok, 74% kasus berhasil disembuhkan dan akan tumbuh imunitas.

Dari total kasus yang terjadi, akibat fatat dari kasus ini tercatat di angka 4%. Angka 4% inilah yang tidak perlu kita kualitatifkan, apakah besar atau kecil. Kita cukup melihatnya bahwa kematian akibat corona ini adalah 4%, selesai.

Melihat prosentase tersebut, banyak penyakit yang sebenarnya memiliki tingkat prosentase kematian yang lebih besar dibanding corona. Inilah maka perlu kita ulangi lagi bahwa hingga saat ini, Tuhan masih memiliki sejuta skenario kematian untuk umat-Nya.

Apakah kemudian catatan ini dimaksudkan untuk mengajak kita semua santai menghadapi corona ini? Tentu tidak. Menghadapi virus yang super aktif ini perlu disikapi secara istikomah. Sebagai bangsa yang besar, tentu boleh kita berdebat tentang bagaimana negara ini menghadapi corona.

Bolehlah di fase-fase ini ada ketidakpercayaan dengan cara pemerintah menyikapi corona. Boleh juga kita usul bagaimana sebaiknya kita melawan corona.

Namun ada titik dimana seluruh elemen bangsa harus percaya dengan pemerintah yang tentunya memiliki informasi dan analisa yang lebih komplet untuk mengambil langkah-langkah tepat.

Menghadapi corona ini dibutuhkan langkah yang akurat dan kita percaya pemerintah pusat tengah memikirkan itu. Kita percaya segala sesuatu tengah diperhitungkan dan kita juga harus percaya pemerintah tak pernah ragu untuk memutuskan langkah yang tepat.

Saat tiba waktunya, sang dirijen menentukan langkah, yang bisa kita lakukan adalah mengikuti irama yang akan dimainkan. Bahkan jika memang lockdown atau dalam bahasa yang lebih mudah adalah mengkarantina diri sendiri secara bersamaan menjadi langkah yang harus dilakukan, kita semua harus siap.

Ini bukan lagi soal politik, ini bukan soal suku, ras atau atau agama, ini soal bagaimana kita memperjuangkan peradaban umat manusia. Kita menunggu presiden menentukan langkah, dan itulah saatnya kita tidak lagi berdiskusi. (*)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved