Penutupan Bandara di Bangka Belitung

Babel Minta Bandara Ditutup untuk Cegah Covid-19, Ini Jawaban Kementerian Perhubungan

Rencana Babel menutup bandara sudah dijawab kementerianperhubungan. Intinya ada beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum penutupan dilakukan

Babel Minta Bandara Ditutup untuk Cegah Covid-19, Ini Jawaban Kementerian Perhubungan
(bangkapos.com/Cici Nasya Nita)
Saat penumpang melewati ruang desinfeksi di Bandara Depati Amir Pangkalpinang 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA- Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman berencana untuk mengusulkan penutupan bandara dan pelabuhan dari dan ke Babel sebagai upaca pencegahan merebaknya covid-19 di Babel.

Rupanya, desakan serupa juga disampaiakan oleh sejumlah daerah.

Menanggapi keinginan sejumlah daerah ini, Kementerian Perhubungan menerbitkan siaran pers bernomomor:47/SP/KSIHU/III/2020 tertanggal 25 Maret 2020 yang ditandatangani oleh Kepala Bagian Kerjasama Internasional, Humas dan Umum, Dirjen Perhubungan Udara, F Budi Prayitno.

Berikut siaran pers selengkapnya daei Kementerian Perhubungan:

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyampaikan tanggapan terhadap keinginan beberapa pemerintah daerah (Pemda) untuk sementara waktu menutup pelayanan penerbangan yang mengangkut penumpang ke wilayahnya sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Novie Riyanto mengatakan bahwa Kementerian Perhubungan dapat memahami keinginan Pemerintah Daerah tersebut, namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Penutupan bandar udara merupakan kewenangan Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Oleh karenanya penutupan bandar udara harus terlebih dahulu disampaikan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk dilakukan evaluasi;

2. Bandar udara merupakan obyek vital yang tidak hanya melayani penerbangan untuk penumpang tetapi juga melayani angkutan kargo, logistik dan pos yang dibutuhkan oleh masyarakat;

3. Bandar udara juga mempunyai fungsi sebagai bandar udara alternatif (alternate aerodrome) bagi penerbangan yang mengalami kendala teknis maupun operasional, melayani penerbangan untuk penanganan kesehatan/medis (medivac evacuation) serta untuk penerbangan yang mengangkut sampel infection substance Covid-19;

4. Pelayanan navigasi penerbangan (Airnav Indonesia) juga tidak dapat ditutup mengingat layanan navigasi penerbangan ini tidak hanya diperuntukkan bagi penerbangan dari dan ke bandar udara setempat, tetapi juga melayani penerbangan yang melalui bandar udara tersebut atau yang ada pada ruang udara yang menjadi wilayah kerja pelayanannya.

“Apabila akan dilakukan penutupan ataupun larangan bagi penerbangan angkutan udara niaga maupun angkutan udara bukan niaga yang mengangkut penumpang untuk mencegah penyebaran virus Covid 19, hal itu pada prinsipnya dapat dilakukan.

Namun demikian perlu dilakukan sosialisasi lebih dulu kepada Badan Usaha Angkutan Udara maupun kepada pengguna jasa penerbangan sebelum diberlakukan,” kata Dirjen Novie di Jakarta.

Dirjen Novie juga menambahkan bahwa pihaknya melalui Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I – X akan melakukan koordinasi dan komunikasi yang intensif dengan pemda setempat dan juga seluruh stakeholder penerbangan sehingga maksud pemda dapat dilaksanakan dengan baik dengan resiko operasional yang minimal.

“Saya berharap dengan koordinasi dan komunikasi yang terus kami lakukan maka semua maksud baik kita bersama untuk mencegah penyebaran Covid-19 ini dapat diatasi dengan baik " tutup Dirjen Novie. (*)

Editor: ibnu Taufik juwariyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved