Breaking News:

Pak Presiden, Indonesia Jangan Di-Lockdown!

Maka dari itu, mohon Pak Presiden mempertimbangkan kembali tawaran dari WHO tersebut. Mohon Indonesia jangan di-lockdown!

Editor: Alza Munzi
Istimewa/dokumen pribadi
Zamal Nasution 

Statistik Penderita COVID-19

Kembali ke persebaran pasien positif dan yang meninggal akibat infeksi COVID-19 ini. Menurut tinjauan berita di media online, pasien di Indonesia maupun di negara lain umumnya berusia lanjut dan tinggal di perkotaan.

Dari data di Italy, sejauh ini pasien meninggal yang berusia di bawah 54 tahun hanya 1%.

Di China, pasien yang meninggal umumnya berusia di atas 60 tahun dan mereka yang punya penyakit bawaan. Italy adalah gambaran penduduk negara maju yang terbebani oleh tingginya penduduk lansia.

Statistik tahun 2019 menunjukkan, 60% dari penduduknya berusia 40 tahun dan lebih, 23% berusia lebih dari 65 tahun.

Secara alami, sistem kekebalan tubuh akan menurun setelah melewati usia 40 tahun. Italy dengan posisinya yang berada di Eropa, tidak mampu menahan runtuhnya imunitas penduduk lansia meskipun sudah dibantu majunya teknologi medis di sana.

Angka harapan hidup di Italy tahun 2016 berada di 82.54 tahun, tertinggi di Eropa. Lebih tinggi dari China di angka 76.25 tahun dan Indonesia yang baru di angka 71.2 tahun.

Dari data demografi yang dibandingkan dengan angka pasien yang meninggal akibat pandemi COVID-19 di Italy dan China, terlihat bahwa angka harapan hidup dan tingkat kematian pasien terkait signifikan.

Kembali ke Indonesia, apabila pemerintah berkenan membuka data pasien lebih lengkap, akan memudahkan penelusuran lebih jauh.

Potensi analisis lebih jauh hingga riwayat penyakit bawaan dan lingkungan tempat tinggal. Data tersebut penting karena untuk bisa mendukung asumsi bahwa survival of the fittest berlaku di Indonesia.

Keunikan tersebut yang akan membantu penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia sehingga akan menjadi lebih efektif karena fokus kepada obyek. Fokus kepada kelompok yang gampang terpapar dan berisiko tinggi. Selain itu, program-program yang efektif akan lebih efisien karena kebutuhan anggarannya menjadi lebih jelas peruntukannya.

Keterbatasan lengkapnya data memungkinkan analisis didasarkan pada informasi yang diperoleh dari berita media online yang bersumber dari Kementerian Kesehatan Indonesia. Sejauh ini, pasien positif terbanyak berada di Jakarta. Pasien yang meninggal terbanyak juga di Jakarta.

Per 28 Maret, 87 orang meninggal dunia. Dari faktor usia, terbanyak di atas 60 tahun. Jakarta mewakili wilayah perkotaan, dan salah satu propinsi dengan angka harapan hidup yang tinggi di Indonesia pada 72.67 tahun. Jakarta punya fasilitas kesehatan yang paling lengkap di Indonesia.

Pusat pemerintahan ini sangat menarik sehingga setidaknya 14.5 juta jiwa berkumpul di Jakarta pada hari kerja. Hampir 80% penerbangan domestik dan internasional singgah di bandara Soekarno - Hatta.

Pusat pemerintahan negara dengan segala keunggulannya akhirnya jebol pertahanannya, menjadi pusat penyebaran COVID-19.  

Data demografi dan persebaran pasien COVID-19 yang meninggal berdasarkan usia menunjukkan daerah yang beresiko tinggi berada pada wilayah dengan penduduk lansia terbanyak.

Hipotesis ini didukung oleh data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat bahwa orang yang berisiko tinggi dan akhirnya berakibat fatal meliputi orang usia 65 tahun lebih, orang yang tinggal di panti jompo, dan orang yang kondisi kesehatannya buruk.

Kondisi buruk tersebut termasuk diantaranya sakit paru-paru, asma, jantung, kanker, kegemukan dengan indeks massa tubuh lebih dari 40 BMI, diabetes, gagal ginjal, dan gangguan hati. Lansia identik dengan penurunan fungsi organ dan akhirnya penyakit.

Kedua variabel tersebut akan mempersulit penyembuhan apabila COVID-19 menyerang. Serangan virus ini tepat di fungsi pernafasan sehingga terjadi pneumonia atau gagalnya fungsi paru-paru. Maka fokus pencegahan penyebaran pertama diarahkan pada kelompok lansia, selanjutnya pada orang positif terinfeksi namun terlihat sehat, dan terakhir pada orang sehat.

Metode Pencegahan Berbasis Kearifan Lokal

Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 memprediksi jumlah penduduk lansia (60 tahun atau lebih) di Indonesia pada tahun 2020 akan mendekati 27.08 juta jiwa atau 11.34% dari total 269.6 juta jiwa penduduk Indonesia. Mereka adalah orang tua kita yang seharusnya dimuliakan di penghujung hari-harinya.

Sebagian besar dari mereka sudah memiliki riwayat penyakit sehingga sangat rentan untuk jatuh menjadi kejadian fatal akibat COVID-19. Untuk itu, mereka yang sudah punya pengetahuan medis atas penyakitnya diupayakan agar terhindar dari kontak dengan virus ini.

Mereka yang tidak punya rekam medis, dibantu pengecekan menyeluruh (medical check up). Rekam medis ini sangat penting sebagai data buat pemerintah dan pihak yang nantinya menjadi penanggungjawab lansia. Selanjutnya, para lansia ini perlu diisolasi agar tidak terpapar COVID-19.

Karena keterbatasan metode deteksi virus menjangkau seluruh penduduk Indonesia, maka isolasi bisa dilakukan oleh anggota rumah tangga lainnya yang merasa masih sehat. Yang terpenting, mereka berada di rumahnya dan dalam pengawasan anggota keluarganya.

Mereka yang tinggal sendirian, perangkat daerah ditugaskan untuk mengawasinya. Petugas tersebut bisa berasal dari pengurus rukun tetangga (RT) maupun relawan yang dilatih secara khusus. Lansia yang belum terinfeksi virus ini adalah prioritas pencegahan di lapis pertama.

Sistem pelayanan kesehatan di Indonesia tidak memungkinkan merawat semua pasien di saat bersamaan. Sehingga, penanganan pasien yang sudah terinfeksi terus dikerjakan. Di waktu yang sama dilakukan pencegahan agar orang sehat tidak runtuh kekebalannya.

Orang yang terinfeksi COVID-19 bisa saja merasa tidak sakit meskipun positif pembawa (hidden carrier). Mereka bisa diketahui dengan deteksi awal. Apakah pernah berinteraksi dengan pasien positif atau pernah melakukan perjalanan ke wilayah waspada COVID-19.

Selanjutnya, mereka perlu dites dengan fasilitas dari pemerintah. Para hidden carrier ini perlu dijaga agar kekebalan tubuhnya mengatasi infeksi dengan sendirinya. Di antara anggota keluarga mungkin ada yang menjadi hidden carrier, maka harus dipastikan agar tidak berinteraksi dengan orang sehat.

Untuk itu, para hidden carrier harus disiplin mengisolasi secara mandiri sampai dinyatakan negatif. Sementara berada dalam isolasi, pemerintah menyediakan kebutuhan primer dan sekunder. Hak mereka harus tetap diberikan, seperti misalnya gaji dari perusahaan.

Pemerintah dapat juga menjadi penghubung dengan pihak perusahaan tersebut. Para hidden carrier ini prioritas dalam pencegahan lapis ke-dua.

Kelompok masyarakat yang tidak berada di lapis pertama dan ke-dua, merupakan kelompok orang sehat yang terus dijaga supaya tetap sehat. Kesehatan mental menopang kesehatan fisik.

Mereka diperbolehkan tetap beraktifitas normal, bahkan bisa diberdayakan menggantikan posisi yang kosong ditinggalkan oleh para pasien dan hidden carrier. Mereka bisa tetap bekerja dan bersekolah. Sebaliknya, apabila semua aktivitas warga negara dihentikan, maka sistem yang biasanya dinamis akan menjadi kacau.

Apabila tidak ada insentif tambahan, mereka yang tetap diwajibkan bekerja, mungkin akan merasa dikorbankan. Keluarganya mungkin akan protes karena ada potensi resiko tertular dibandingkan mereka yang bekerja di rumah.

Dengan pembeda yang jelas yakni hasil tes tersebut, tidak ada tuduhan diskriminasi. Semua pihak bisa menerima, yang sakit harus tetap di rumah. Mereka yang sehat dan bersih dari COVID-19 tetap bisa bekerja secara normal.

Anggaran untuk insentif tambahan bagi mereka yang harus tetap bekerja mungkin tidak diperlukan. Industri tetap bisa produktif, karena pengusaha dan pekerja tetap butuh pendapatan. Ekonomi harus berjalan.

Negara tidak akan mampu menyediakan anggaran cadangan jika semua industri harus melakukan pengurangan, kehilangan potensi pendapatan. Maka dari itu, jangan lockdown!

Hindarkan Indonesia dari Lockdown

Jikalau mengisolasi orang sakit dan potensial untuk jatuh sakit merupakan kebijakan logis. Maka, mengisolasi orang sehat bukan pilihan logis. Negara ini belum mampu menyediakan kebutuhan yang ideal bagi orang untuk tetap sehat ketika dikurung di rumahnya.

Untuk menopang anggaran belanja tiap tahun saja negara harus berutang, apa lagi jika lockdown berlangsung hingga waktu tak terbatas.

Misalkan, pengemudi online menuntut kompensasi sebesar 150 ribu rupiah per hari. Jumlah pengemudi online versi Direktorat Angkutan Jalan Kementerian Perhubungan per November 2019 sebanyak 2.5 juta orang.

Maka, kompensasi yang diminta sebanyak 375 milyar rupiah, hanya satu hari saja! Berapa kekuatan anggaran negara ini, dan hingga bertahan berapa lama?

Kembali ke sistem kekebalan alami, bisa diasumsikan bahwa penduduk Indonesia sebagian besar tidak mendapatkan pelayanan medis yang optimal dan ideal layaknya di negara maju. Namun, justu kekebalan tubuh terbentuk secara alami dari kelemahan ini.

Masa di awal kehidupan yang sering terpapar bakteri dan virus menyebabkan tubuh mengenali lebih banyak jenis penyakit. Selanjutnya, individu yang bertahan hidup akan membawa sistem kekebalan tersebut hingga dewasa.

Sistem kekebalan tubuh hanya terjadi secara alami saat bayi hingga balita. Individu yang sistem pertahanan tubuhnya tidak mampu bertahan cenderung lebih awal meninggal. Pertahanan tubuh ditopang selain oleh faktor genetik, juga sangat dipengaruhi oleh lengkapnya asupan nutrisi dan kondisi lingkungan yang kondusif.

Kemiskinan atau kondisi wilayah yang terpencil membuat sebagian besar penduduk Indonesia hanya memiliki sedikit pilihan.

Orang yang hidup dan besar dalam kondisi berkekurangan, dapat bertahan hidup jelas bukan karena faktor lengkapnya asupan nutrisi dan kondisi lingkungan yang kondusif.

Bertahan hidup atau meninggal lebih awal. Faktor genetik-lah yang menjadi motor utamanya. Kesimpulan sementara, mayoritas penduduk yang hidup dalam kondisi serba berkekurangan memiliki imunitas karena faktor genetik.  

Dari data statistik pasien COVID-19 di Italy dan China, dapat dilihat bahwa sekitar 90% yang meninggal merupakan penduduk lansia. Kesimpulannya, mungkin ada pasien positif dan kemudian sembuh yang berasal bukan dari kelompok lansia.

Mungkin juga ada banyak hidden carrier yang terinfeksi secara tidak sengaja tanpa tahu dirinya sudah menjadi pembawa. Sistem kekebalan tubuh penduduk non-lansia dan tanpa penyakit bawaan melawan infeksi tanpa menyebabkan individu tersebut merasa sakit.

Mereka terlihat sama di antara para orang sehat. Beraktifitas sama, namun berpotensi menularkan. Namun, kembali ke statistik pasien yang meninggal, para hidden carrier bukan kelompok pasien yang berpotensi meninggal.

Maka, untuk mempercepat penyembuhannya, perlu ditambahkan asupan nutrisi yang cukup dan ciptakan kondisi lingkungan yang kondusif.

Mengacu pada strategi pencegahan di atas, anggaran pemerintah difokuskan pada kelompok prioritas pertama, ke-dua, dan ke-tiga.

Anggaran yang diperlukan jelas lebih murah dan memberi manfaat jangka panjang. Metode kearifan lokal menjaga perekonomian tetap tumbuh dan menjaga kepercayaan rakyat pada pemerintah.

Pemerintah bisa fokus merawat penduduk lansia dan berpenyakit bawaan karena berpotensi meninggal dunia. Selain menjadikan orang sehat tetap sehat, memuliakan para lansia, menggerakkan kepedulian sosial terhadap tetangga; juga mengamankan negara dari potensi instabilitas akibat lockdown.

Potensi tersebut mudah terpicu dari besarnya pengangguran, kurangnya anggaran kompensasi, kelangkaan produk kebutuhan pokok, dan kriminalitas.

Psikologis masyarakat yang sedang panik dan tertekan bisa menjalar melalui media sosial. Protes warga dunia maya yang terkurung di rumah berpotensi meledak menjadi bencana.

Maka dari itu, mohon Pak Presiden mempertimbangkan kembali tawaran dari WHO tersebut. Mohon Indonesia jangan di-lockdown!   

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved