Virus Corona di Bangka Belitung

BPS Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi di Bangka Belitung Menurun Dampak Covid-19

Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analsis Statistik Badan Pusat Statistik Bangka Belitung, Oktarizal mengatakan perkiraan pertumbuhan ekonomi

bangkapos.com/Cici Nasya Nita
Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analsis Statistik Badan Pusat Statistik Bangka Belitung, Oktarizal. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analsis Statistik Badan Pusat Statistik Bangka Belitung, Oktarizal mengatakan perkiraan pertumbuhan ekonomi Triwulan I 2020 di Bangka Belitung menurun.

Diakuinya, perekonomian menurun ini mulai terasa pada akhir Februari 2020 diduga dikarenakan dampak dari Covid-19.

"Data perhitungan belum keluar, kami akan rilis Mei 2020 mendatang. Tapi kami sedang menghitung data, tetapi melihat dipemberitaan dan data beberapa sektor sekarang karena dampak Covid-19 diperkirakan pertumbuhan ekonomi kita menurun," ungkap Okta saat dikonfirmasi Bangkapos.com, Rabu (1/4/2020).

Dijelaskan olehnya, perhitungan pertumbuhan perekonomian Triwulan I 2020 dalam tahap perkumpulan data masing-masing instasi atau perusahan via online.

"Beberapa sektor seperti hotel sudah terasa mengalami penurunan, makanan dan minum untuk pedagang juga banyak tutup. Hal itu juga akan berdampak pada akomodasi seperti angkutan dan penerbangan," sebut Okta.

Lebih lanjut, ia menerangkan selain itu dari sektor pertanian ikut berpengaruh susah untuk disalurkan, karena pengambilan sawit tidak seperti dulu. Kemudian sektor perikanan juga berpengaruh dikonfirmasi dari Pangkalpinang dan Belitung harga menurun dan terjadi deflasi.

"PT Timah juga mengurangkan ekspor, karena permintaan timah turun. Selanjutnya penyerapan anggaran pemerintah tentang belanja pemerintahan juga berpengaruh dikarenakan misalnya membatalkan semua dinas luar. Sehingga bagi kita Babel perekonomian kita jadi menurun karena fenomen-fenomena ini," jelas Okta.

Diakui dirinya, bila melihat dikarenakan fenomena Covid-19 ini yang meningkat sekarang jasa kesehatan dan alat medis. Selain itu, penggunaan listrik dan kuota internet meningkat, itu kondisi di rumah tangga tetapi berbanding terbalik dengan kondisi di perusahan karena menerapkan kerja di rumah (WFH).

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved