Breaking News:

Mengapa Tes Corona Terkesan Lama?

Penanganan pandemi Covid-19 dimulai dari metode pendeteksian, perawatan, dan pencegahan

Editor: Alza Munzi
Mengapa Tes Corona Terkesan Lama?
IST/dokumen pribadi
Annette d’Arqom, dr., PhD. (Cand.) (Pengajar FK UNAIR)

Prosedur ini biasa diterapkan para dokter umum karena perubahan musim identik dengan pasien batuk pilek.

Setelah ditemukan banyak pasien dengan keluhan batuk pilek dan demam, yang kondisinya cepat memburuk; dunia medis terkejut.

Obat antibiotik dan simptomatis tidak mampu menolong jiwa pasien lansia yang mendadak pneumonia. Rumah sakit di Wuhan China mendadak didatangi banyaknya pasien dengan kemiripan gejala.

Setelah dicermati, kemiripan tersebut ada sejak MERS hingga SARS. Penyebarnya adalah virus yang mengalami mutasi genetik, berasal dari genus betacoronavirus dan subgenus, Sarbecovirus. Mereka mirip tapi tak sama lagi.

Ketika MERS dan SARS berhasil diatasi, muncul Covid-19 ini. Para dokter terus mencoba, ikhtiar menggunakan kombinasi antivirus, antimalaria, bahkan interferon.

Namun, ternyata korban terus berjatuhan. Dunia cemas, Covid-19 ini menyebar dengan cepat mengikuti mobilitas manusia. Namun, bagaimana cara mendeteksinya?

Metode PCR

Untuk deteksi Covid-19, Indonesia sejak awal menggunakan metode Quantitative Real Time Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (qRT-PCR atau rRT-PCR) yang dilanjutkan dengan sequencing atau pembacaan kode genetik virus.

Tes molekular ini adalah tes definitif atau gold standard yang direkomendasikan WHO dan CDC Amerika, yang mendeteksi ada atau tidaknya virus dengan memperbanyak materi genetiknya, dalam hal ini RNA virus SARS-CoV-2.

Secara prinsip, tes ini adalah memperbanyak RNA virus sehingga dapat dideteksi oleh mesin qRT-PCR. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengekstraksi RNA Virus.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved