Breaking News:

Mengapa Tes Corona Terkesan Lama?

Penanganan pandemi Covid-19 dimulai dari metode pendeteksian, perawatan, dan pencegahan

Editor: Alza Munzi
Mengapa Tes Corona Terkesan Lama?
IST/dokumen pribadi
Annette d’Arqom, dr., PhD. (Cand.) (Pengajar FK UNAIR)

Komponen terakhir adalah enzim yang menjadi mesin reaksi ini dan reagen basa yang memberikan lingkungan untuk terjadi reaksi.

Setelah reaksi dibuat, selanjutnya dimasukan pada alat yang berisi 96 tabung kecil. Selanjutnya alat ini dimasukan ke dalam mesin, dan suhu pun diatur agar reaksi bisa berlangsung dan sinyal fluorescence ditangkap oleh mesin.

Proses ini memakan waktu 1-2 jam. Sehingga total sekitar 5 jam sejak langkah awal.

Hasil dari rRT-PCR adalah PCR produk, yang kemudian bisa dipurifikasi untuk dilanjutkan sequencing yaitu pembacaan kode dari PCR produk apakah sesuai dengan SARS-CoV-2 atau tidak.

Untuk memastikan, tentunya harus dilakukan replikasi, baik saat reaksi PCR juga pengambilan sampel di waktu yang berbeda atau pengulangan.

Spesifisitas dan sensitivitas mencapai 98 hingga 100%. Namun kekurangannya adalah memerlukan petugas yang terlatih, peralatan/fasilitas yang memadai, mahal (kisaran Rp 1.5-2 juta), dan waktu yang cukup panjang. Sehingga tes ini tidak tepat digunakan untuk penapisan massal.

Untuk meringankan, maka dikembangkan otomatis rRT-PCR. Tes ini juga merupakan tes molekuler yang mendeteksi beberapa derah/region dari SARS-CoV-2.

Hanya ada 1 tes kit yang baru saja diberi izin oleh FDA untuk digunakan dalam keadaan darurat saja, yaitu Xpert® Xpress SARS-CoV-2. Prinsipnya sama seperti rRT-PCR namun menggunakan mesin otomatis.

Secara singkat, swab nasopharing pasien dimasukan ke dalam reagen/cairan untuk memecah sel dan mengeluarkan materi genetiknya.

Campuran ini kemudian dimasukkan ke dalam sebuah catridge yang berisi tabung kecil yang berisi beberapa jenis reagen untuk langkah ekstraksi RNA, konversi ke cDNA, dan amplifikasi daerah/region virus tertentu.

Alat ini membutuhkan BSL-2, karena menggunakan sampel infeksious, dan juga petugas terlatih. Dengan waktu yang dibutuhkan sekitar 45 menit, menjadikan alat ini cukup sederhana tanpa perlu banyak tangan yang mengelola, sehingga meminimalisir kontaminasi.

Kelebihan lainnya adalah RSUD di Indonesia hampir semuanya memiliki mesin pengelolanya, karena biasa digunakan untuk mendeteksi kuman TBC yang resisten terhadap obat.

Artinya tidak perlu pengadaan alat baru. Sayangnya, catridge khusus SARS-CoV-2.ini masih terbatas.

Di akhir maret 2020, hanya tersedia 5.000 catridge dan dipusatkan di Amerika untuk tes cepat. Perusahan yang memproduksi tes ini, biasanya mematok harga 20 USD, namun dalam kondisi wabah ini hanya dijual berkisar 5 USD.

Menurut keterangan yang diberikan FDA, tes ini mendeteksi 2 daerah/region virus. Jika hasilnya positif dikedua region, maka hasilnya positif, tidak perlu konfirmasi rRT-PCR.

Namun jika hanya satu atau tidak ada daerah/region yang teramplifikasi maka harus diulang untuk memastikan. Jika pada akhirnya hasilnya negatif, tes ini harus mengacu pada kondisi klinis, riwayat, dan epidemiologi dari pasien untuk mengatakan negatif.

Mengingat sensitifitas, ketersediaan mesin, dan kemampuan petugas, juga sampel yang digunakan, maka tes ini cukup mungkin untuk dilakukan di Indonesia jika catridgenya dapat diperoleh.

Namun, bukan untuk penapisan massal hingga di puskesmas. Harganya yang cukup murah dari pabrik bisa menjadi alternatif rRT-PCR.

Metode Rapid Test Berbasis Antibodi

Metode antibody based rapid test (immunochromatography atau lateral flow assay) adalah tes yang saat ini sedang digenjot di Indonesia untuk mengecek antibodi terhadap Covid-19.

Tes ini bukan mendeteksi ada atau tidaknya virus, namun ada atau tidaknya antibodi terhadap SARS-CoV-2. Hanya orang yang pernah terpapar virus yang akan membentuk antibodi.

Pada fase awal infeksi, IgM (immunoglobulin M) yang akan terbentuk, lalu diikuti IgG (immunoglobulin G) yang secara teori akan bertahan cukup lama dalam tubuh.

Namun perlu diingat, bahwa pembentukan antibodi ini memerlukan waktu sejak paparan antigen virus. Artinya, pada orang yang baru saja terjangkit, antibodi belum terbentuk.

Pada dasarnya tes ini seperti test pack untuk kehamilan, namun berbeda yang ditesnya. Pada strip tersebut di pabrik diberi antigen yang spesifik untuk Covid-19 dan diberi tag yang data memberikan warna jika berikatan dengan antibodi, lalu sampel darah diambil dan diteteskan pada strip.

Jika ada dua garis pada C (control) dan IgM atau IgG maka dikatakan positif, dan jika garis hanya satu pada C (control) maka negatif, dan jika tidak ada garis maka tes gagal.

Jika positif, maka harus dikonfirmasi dengan rRT-PCR lanjutan untuk memastikan ada/tidaknya virus. Spesifisitas dan sensitifitas immunochromatograhy ini sekitar 50-70%. Sayangnya false negatif sering terjadi. Sehingga jika negatif, maka tes harus diulang 7-10 hari kemudian karena kemungkinan antibodi belum terbentuk saat di tes pertama.

IgG ini terbentuk setelah beberapa hari atau minggu kemudian. Itulah kenapa salah seorang staf kantor presiden terdeteksi positif saat rapid test dan negatif saat PCR. Bisa jadi staf tersebut sudah pernah terjangkit Covid-19 dan sembuh, sehingga tidak ada virus di tubuhnya namun kekebalan sudah terbentuk.

Atau kemungkinan lain adalah pemgbilan sampel dan proses selanjutnya termasuk PCR yang kurang tepat sehingga harus dilakukan pengulangan.

Kelebihan tes ini adalah waktu yang dibutuhkan cukup singkat yaitu sekitar 10 menit. Karena tidak dapat menular, maka tes dapat dilakukan di tempat terbuka selama masih bersih dan memenuhi syarat lab medis umum, tidak memerlukan BSL-2.

Serta dapat dilakukan oleh petugas medis tanpa memerlukan pelatihan tambahan seperti tes molekuler. Harganya pun cukup murah, berkisar di harga 3.5 USD, namun di pasaran yang ditawarkan di Indonesia seharga 200an ribu rupiah.

Kekurangannya seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu tidak mendeteksi virus secara langsung, kurang sensitif dibanding tes molekuler, dan dapat terjadi false negatif. Sehingga tes ini sangat tepat untuk penapisan massal hingga di puskesmas.

Metode Rapid Test Berbasis Antigen

Tes ini prinsipnya sama dengan tes kedua, namun berbeda dari sisi yang dideteksi. Pada tes ini, yang dideteksi adalah antigen virus, sehingga sampel yang digunakan berasal dari swab nasopharing, bukan darah, dan tentunya bersifat infectious.

Dari pabrik, strip ini akan diberi monoclonal antibodi yang spesifik untuk SARS-CoV-2 yang diberi tag untuk menghasilkan warna jika berikatan dengan antigen spesifik SARS-CoV-2.

Sensitifitas dan spesifisitas diklaim mencapai 90%. Waktu yang diperlukan sekitar 30 menit karena memerlukan waktu untuk memecah sel dan mengeluarkan virusnya, sebelum diteteskan pada strip.

Seperti pada tes kedua, dua garis adalah positif, satu garis negatif, dan tanpa garis adalah invalid. Sayangnya tes ini memerlukan tenaga ahli untuk mengambil sampel dan juga bersifat infectious, jadi jika dilakukan di tempat terbuka dan banyak orang, akan membahayakan.

Oleh karena itu, agak sulit menjangkau ke setiap puskesmas. Tes ini sudah diroduksi oleh Korea Selatan, dan tes lain masih dalam pengajuan izin ke FDA Amerika oleh peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Pilihan Terbaik

Ada beberapa tes lagi seperti kultur virus, namun membutuhkan sarana BSL-3 dan juga tidak dijadikan tes standar untuk praktek sehari-hari.

Dari beberapa jenis tes di atas, dengan mempertimbangkan harga, kecepatan, fasilitas, dan juga aksesibilitas, maka langkah yang dilakukan pemerintah Indonesia saat ini sudah mengarah ke arah yang tepat, yaitu mendeteksi masal menggunakan antibody based rapid test dikonfirmasi dengan rRT-PCR.

Namun jika di kemudian hari pemerintah dapat mengakses antigen based rapid test dan catridge Xpert® Xpress SARS-CoV-2, maka tes ini perlu dipertimbangkan untuk dapat dilakukan di mayoritas RSUD di Indonesia.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved