Virus Corona di Bangka Belitung
Kata Psikolog, Reaksi Berlebihan Masyarakat Pada PDP Covid-19 Membuat Pasien Tertekan
Reaksi berlebihan masyarakat terhadap pasien yang positif Covid-19 dapat membuat pasien dan keluarga tertekan
Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: Ardhina Trisila Sakti
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Biro Psikologi Q-tha sekaligus Dosen Konseling Pendidikan Islam IAIN SAS Bangka Belitung, Siska Dwi Paramitha mengungkapkan reaksi berlebihan masyarakat terhadap pasien yang positif Covid-19 dapat membuat pasien dan keluarga tertekan
Diakuinya banyak permasalahan muncul saat pendemi Covid-19 khususnya di Indonesia.
Masalah kesehatan fisik jelas nampak menjadi poin utama, kemudian ditambah dengan munculnya masalah psikologis.
Setiap orang merasakan takut, cemas dan panik tapi banyak juga masyarakat mulai menerima keadaan, sadar diri dengan tetap di rumah dan mulai bergotong royong saling mengingatkan dan membantu lewat dukungan dan materil.
"Memang reaksi setiap orang akan berbeda-beda dalam menanggapi hal ini. Baru-baru ini khususnya Bangka Belitung menjadi zona kuning. Sudah ada dinyatakan positif Covid-19 dan bahkan sudah ada pasien yang dinyatakan meninggal karena Covid-19. Sebagai individu harusnya kita turut mendoakan yang terbaik bagi mereka yang sakit ataupun yang sudah meninggal bukan justru memberi stigma negatif kepada keluarga. Bahkan petugas kesehatan pun seolah-olah menjadi profesi yang ditakuti karena di dalam pikiran awam. Mereka akan menyebarkan virus dan lain sebagainya justru ini adalah pemikiran yang salah," kata Siska saat dihubungi Bangkapos.com, Minggu (5/4/2020).
Menurutnya secara tak langsung masyarakat sudah melakukan viktimisasi yaitu dimana memperlakukan orang lain dalam hal ini keluarga yang positif atau dalam pantauan dan petugas kesehatan secara tidak adil, menggungjing dan bahkan menyalahkan sehingga membuat mereka terpuruk (Hal ini dibahas dalam asosiasi psikologi forensik).
"Dampak pada pasien, keluarga dan pihak lainnya jelas akan semakin membuat mereka tertekan secara psikologis. Apalagi misal satu RT, perumahan atau daerah membuat mereka merasa dikucilkan dan tidak diterima untuk tinggal disana," tutur Siska.
"Justru seharusnya mereka memberi dukungan moril dengan meyakinkan pasien bahwa sakit ini bisa disembuhkan, mengingatkan keluarganya untuk segera mengecek kesehatan dan mengisolasi diri (saat mereka berada didalam rumah, siapa yg akan membantu kalau bukan tetangga terdekat). Tentunya sebagai tetangga, kita tetap melindungi diri dengan membatasi jarak saat berkomunikasi atau bisa melalui media telekomunikasi, ikut memantau bukan justru menyebarkan berita-berita hoax yang semakin membuat orang lain diluar sana menjadi semakin ketakutan,"lanjutnya.
Saran Psikolog untuk Masyarakat
Siska memberikan saran untuk masyarakat bijaklah memilih membagikan informasi terkait pasien dan keluarga yang terkena virus Covid-19 ini.
"Pastikan kebenarannya, jika dirasa hal tersebut bermanfaat bagi orang banyak, seperti menyerukan tetap di rumah lebih baik, menjaga kesehatan dengan rajin mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak fisik (physical distancing), menutup mulut dengan lengan bagian dalam saat batuk atau bersin dan lain sebagainya," sebut Siska.
Sebaiknya sebarkan hal-hal yang baik saja, yang bisa membuat orang tersenyum bahkan tertawa karena hal ini akan memberikan dampak yang cukup efektif dalam mengatasi pendemi Covid-19 saat ini.
"Satu lagi kurangi konsumsi informasi dari media sosial yang negatif jika itu semakin membuat anda merasa takut, cemas dan panik. Semoga kita semua diberi kesehatan dan tetap bahagia bersama keluarga, tetangga dan teman- teman lainnya," kata Siska.
(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/biro-psikologi-q-tha-sekaligus-dosen-konseling.jpg)