Virus Corona

Waspada Gelombang Kedua Virus Corona, 3 Negara Ini Termasuk Indonesia Bakal Jadi Episentrum Covid-19

Gelombang kedua wabah bisa terjadi jika publik terlalu cepat kembali ke kehidupan normal.

AFP/BHUVAN BAGGA
Pekerja migran India bersama keluarganya berbaris di terminal bus Anand Vihar untuk pulang ke desanya saat pemerintah memberlakukan lockdown, sebagai tindakan pencegahan atas penyebaran virus corona baru Covid-19 di New Delhi, Sabtu (28/3/2020). Pada 28 Maret 2020 puluhan ribu pekerja migran India beserta keluarganya 28 berjuang memasuki bus yang dikelola negara bagian terpadat di India, untuk membawa mereka ke kampung halaman mereka di tengah pandemi virus corona. 

BANGKAPOS.COM, SEOUL - Gelombang kedua wabah virus corona kemungkinan besar terjadi di sejumlah negara, selama vaksin Covid-19 belum ditemukan. 

Hal ini bisa terjadi karena warga di negara-negara itu tidak disiplin menerapkan physical distancing atau jaga jarak fisik dengan orang lain.

Episentrum, atau pusat penyebaran, virus corona kemungkinan besar bakal semakin banyak, termasuk di Indonesia, selama vaksinnya belum ditemukan.

Pernyataan itu dikeluarkan pakar kesehatan publik yang memperingatkan, gelombang kedua wabah bisa terjadi jika publik terlalu cepat kembali ke kehidupan normal.

Direktur Jenderal Institut Vaksin Internasional di Korea, Jerome Kim, mengatakan sejumlah negara saat ini telah melonggarkan pembatasan sosial mereka.

Apa Itu Gelombang Kedua Virus Corona? Indonesia Harus Bersiap Sambut Kedatangannya

Dikutip dari ABC Indonesia, Selasa (14/4/2020), Kim menjelaskan garis akhir dari penyebaran virus corona ini susah untuk diprediksi.

"Wabah virus corona belum bisa dikatakan berakhir sebelum betul-betul selesai. Ibarat angin yang selalu bergerak dan tanpa kita ketahui tiba-tiba menimbulkan api di belakang rumah kita," ujar dia.

Kim berujar, transmisinya bisa dengan mudah terjadi.

Dia mencontohkan bisa melalui orang yang tengah bertamasya kemudian terpapar, dan membawa pulang wabah itu ke keluarganya.

Profesor Rob Moodie dari Sekolah Kesehatan Populasi Universitas Melbourne berkata, warga harus tetap berhati-hati saat melakukan social distancing.

Halaman
123
Editor: fitriadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved