Breaking News:

Berita Pangkalpinang

BI Sempat Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Global Pulih Tahun 2020, Tapi Terganggu Covid-19

Eskalasi penyebaran COVID-19 berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi global, tercatat IMF telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia negatif

(bangkapos.com/Cici Nasya Nita)
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bangka Belitung Tantan Heroika saat konferensi pers secara daring lewat aplikasi Zoom 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bangka Belitung Tantan Heroika membahas mengenai perkembangan ekonomi global terkait pandemi Covid-19.

"Sudah hampir 210 negara mengalami pandemi Covid-19 ini, bahkan sudah lebih. Dari 29 negara saja yang terkena dampak Covid itu sudah mewakili 99,8 persen pertumbuhan ekonomi atau PDRB global," kata Tantan saat konferensi pers secara daring menggunakan Zoom, Kamis (16/4/2020).

Pertumbuhan ekonomi global yang sebelumnya diperkirakan akan kembali pulih pada tahun 2020, tertahan dengan adanya wabah virus corona yang merebak di berbagai negara sehingga akan menurunkan permintaan dan harga komoditas dunia pada 2020.

"Saat ini lebih menekankan mengenai upaya-upaya pencegahan Covid-19, otomatis karena mengedepankan kesehatan maka menyebabkan mobilitas menjadi terbatas. Dampaknya bisa kita lihat volume perdagangan dunia terjadi penurunan yang tajam," jelasnya.

Eskalasi penyebaran COVID-19 berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi global, tercatat IMF telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia negatif sebesar -3,0 persen.

Kondisi perekonomian global tersebut memberikan pengaruh terhadap perekonomian nasional pada tahun 2020 yang diprakirakan mengalami tekanan akibat meluasnya Covid-19 menuju 2,3 persen dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 5,02 persen.

Dampak Covid-19 pada perekonomian Indonesia melalui jalur permintaan, penawaran, dan keyakinan pelaku ekonomi.

Ekspor dan kunjungan wisatawan asing diperkirakan akan turun di tahun 2020. Investasi diperkirakan melambat akibat menurunnya prospek ekspor dan terganggunya rantai produksi.

Indeks keyakinan konsumen juga menurun sehingga dapat menahan pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

Selain itu, harga komoditi-komoditi mengalami penurunan, satu diantaranya timah yang pernah dicatat di bawah 14 ribu US dolar/MT (metric ton), walaupun saat ini sudah mulai kembali ke atas angka tersebut.

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved