Breaking News:

Hari Kartini

Kisah Sedih Kematian Mendadak RA Kartini, Sudah Punya Firasat Kalau Hidupnya Tak Akan Lama

RA Kartini menghembuskan napas terakhirnya tepat di hari ke 4 setelah ia melahirkan putra pertamanya, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat.

Editor: fitriadi
HISTORIA.ID
Kartini dan anakny Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat 

BANGKAPOS.COM - Raden Ajeng Kartini atau Raden Ayu Kartini atau biasa disingkat RA Kartini merupakan tokoh penting yang ikut memperjuangkan emansipasi wanita.

RA Kartini satu di antara Pahlawan Nasional wanita dari Indonesia.

Ia meninggal dunia di usia muda, 25 tahun.

17 September 1904, masyarakat Indonesia kala itu dikejutkan dengan munculnya kabar kepergian RA Kartini.

Dilansir dari Kompas, RA Kartini menghembuskan napas terakhirnya tepat di hari ke 4 setelah ia melahirkan putra pertamanya, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat. 

RA Kartini dan sang putra, Soesalit Djojoadhiningrat.
RA Kartini dan sang putra, Soesalit Djojoadhiningrat. (Kolase Tribun Jabar)

Para sahabat, kerabat, dan semua orang yang mengenalnya tidak menyangka jika saat itu Kartini pergi begitu cepat.

Suaminya, Raden Mas Djojo Adiningrat bahkan tak kuasa menahan sedih dan sangat terpukul atas kepergian sang istri yang sangat ia cintai.

21 April Hari RA Kartini dan 11 Fakta Agar Kenal Lebih Dekat dengan Pejuang Emansipasi Wanita Ini

Perasaan sedihnya ini dengan nyata ia ungkapkan dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, sahabat sekaligus wanita yang sudah dianggap layaknya seorang ibu oleh Kartini.

“Dengan halus dan tenang, ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam pelukan saya, lima menit sebelum hilangnya (meninggal) pikirannya masih utuh, dan sampai saat terakhir ia masih sadar.”

“Dalam segala gagasan dan usahanya, ia adalah lambang cinta dan pandangannya dalam hidup demikian luasnya.”

“Jenasahnya saya tanam keesokan harinya di halaman pesanggrahan kami di Bulu, 13 pal dari kota,” tulis Djojo Adiningrat, seperti di kutip dari buku "Kartini: Sebuah Biografi" yang ditulis oleh Sitisoemandari Soerto.

Kabar mengenai kematian Kartini kemudian tersiar dalam Koran De Java Bode edisi hari Senin, 19 September 1904, dalam sebuah ‘In Memoriam’ yang menceritakan riwayat hidup Kartini.

“Suatu kehilangan yang susah digantikan oleh mereka yang akan berusaha mengikuti jejaknya,” tulis Koran itu.

Kartini sendiri semasa hidupnya seperti sudah punya firasat kalau hidupnya tak akan lama.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved